Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, Pemkot mengambil langkah tegas dengan mengevaluasi dan menyeragamkan nilai bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa penerima beasiswa menjadi Rp2,5 juta per semester.
“Hasil verifikasi lapangan menunjukkan adanya penerima beasiswa dari keluarga mampu, termasuk anak mantan pejabat, yang menikmati bantuan UKT dalam jumlah sangat besar,” ujar Eri di Surabaya, Jumat.
Temuan UKT Tinggi dari Keluarga Mampu
Eri mengungkapkan, dari hasil evaluasi ditemukan mahasiswa penerima beasiswa dengan UKT hingga Rp15 juta per semester yang seluruhnya dibayarkan Pemkot, meski berasal dari keluarga mampu.
“Sementara di sisi lain, masih banyak warga tidak mampu yang sangat membutuhkan bantuan untuk sekolah,” tegasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun Pemkot, sekitar 70 persen temuan masalah tersebut berasal dari mahasiswa jalur mandiri.
“Saya diskusi dengan Wakil Wali Kota Armuji. Jalur mandiri itu tidak murah. Kalau mampu bayar uang gedung, berarti orang mampu. Ini yang saya pertanyakan,” ujarnya.
Beasiswa untuk yang Berhak
Menurut Eri, Beasiswa Pemuda Tangguh diperuntukkan bagi anak berprestasi dari keluarga tidak mampu, agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan tinggi.
“Prinsipnya, yang mampu jangan mengambil jatahnya orang yang tidak mampu,” tandasnya.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban dan transparansi, Eri telah meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan pemeriksaan terhadap penyaluran beasiswa pada tahun-tahun sebelumnya. Pemkot juga melakukan evaluasi internal besar-besaran di dinas terkait untuk mencegah kejadian serupa terulang.
“Ini yang saya bongkar. Kok bisa orang kaya diberi bantuan. Saya ingin mengubah sistem agar Surabaya bukan menjadi kota kapitalis. Kita mulai dengan kejujuran. Orang Surabaya harus diajarkan untuk tidak mengambil jatah orang yang tidak mampu,” pungkas Eri. *




















