Surabaya | Sentrapos.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi memiliki Resource Center Unit Observasi Deteksi dan Intervensi Dini Ketunarunguan yang berlokasi di SLB-B Negeri Karya Mulya Surabaya. Kehadiran pusat layanan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat layanan pendidikan dan kesehatan inklusif bagi anak dengan hambatan pendengaran.
Peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, bersamaan dengan peresmian SLB-B Negeri Karya Mulya Surabaya. Pada kesempatan tersebut, Pemprov Jatim juga menerima Piagam Penghargaan dari Hearing Aid East Java sebagai bentuk apresiasi atas dukungan berkelanjutan selama lebih dari tiga dekade.
“Alhamdulillah, sinergi dan kolaborasi yang terjalin selama tiga dekade dengan berbagai pihak telah memposisikan Jawa Timur sebagai salah satu provinsi yang paling progresif dalam layanan inklusivitas di Indonesia,” ujar Khofifah dalam keterangannya di Surabaya, Selasa.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Direktur Indonesia Institute and Board of Hearing Aids East Java, Vicki Richardson. Apresiasi ini diberikan atas komitmen Pemprov Jatim selama 35 tahun dalam penguatan pusat layanan deteksi dini bagi anak dengan hambatan pendengaran.
Khofifah menjelaskan, pusat layanan deteksi dini memiliki peran krusial dalam mengidentifikasi gangguan pendengaran sejak dini, bahkan sejak masa kehamilan hingga usia balita. Dengan deteksi awal, intervensi medis dan edukasi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
“Di sini fokus pada deteksi dini, bahkan sejak masa kehamilan. Harapannya, pusat layanan ini juga membantu mempersiapkan keluarga, termasuk hal-hal teknis seperti perawatan, penggantian baterai, dan suku cadang alat bantu pendengaran,” jelasnya.
Resource Center ini merupakan hasil kolaborasi antara SLB-B Negeri Karya Mulya Surabaya dengan RSUD Dr. Soetomo serta Rumah Sakit Islam Surabaya. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan layanan terpadu antara sektor pendidikan dan kesehatan.
Menurut Khofifah, manfaat layanan ini tidak hanya dirasakan oleh anak penyandang disabilitas rungu, tetapi juga oleh keluarga melalui pendampingan intensif agar orang tua mampu bersikap antisipatif dan adaptif.
“Penghargaan ini merefleksikan keberhasilan program pendampingan bagi orang tua agar mampu mengambil langkah tepat dalam menangani kondisi anggota keluarga dengan disabilitas rungu,” tambahnya.
Ke depan, Pemprov Jatim berharap sinergi lintas sektor terus diperkuat, termasuk peluang kerja sama internasional. Khofifah mencontohkan pengalaman Indonesia yang pernah menerima dukungan alat bantu pendengaran dan tenaga medis melalui Clinton Foundation, sebagai praktik baik yang dapat dikembangkan lebih lanjut. (*)
