Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
BIROKRASIPERISTIWA

Pemugaran Gedung Grahadi Surabaya Dimulai, Rp12,7 Miliar Digelontorkan untuk Lestarikan Cagar Budaya

30
×

Pemugaran Gedung Grahadi Surabaya Dimulai, Rp12,7 Miliar Digelontorkan untuk Lestarikan Cagar Budaya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SURABAYA | SENTRAPOS.CO.ID — Pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi memulai pemugaran sayap barat Gedung Negara Grahadi di Surabaya. Proyek pelestarian bangunan cagar budaya ini ditargetkan rampung dalam waktu 210 hari kalender.

Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang (DCKTR) Jawa Timur, I Nyoman Gunadi, menegaskan bahwa pemugaran dilakukan dengan pendekatan konservasi ketat guna menjaga keaslian bangunan bersejarah tersebut.

“Pemugaran ini mengedepankan prinsip kehati-hatian agar tidak merusak bentuk asli bangunan cagar budaya,” ujarnya usai groundbreaking, Rabu (1/4/2026).

Anggaran Besar dan Standar Konservasi Tinggi

Proyek ini menelan anggaran sebesar Rp12,7 miliar yang bersumber dari APBD Pemprov Jawa Timur. Pelaksanaan dimulai sejak 30 Maret hingga 25 Oktober 2026, dengan pelaksana proyek CV Jaya Wibowo.

Pemugaran Grahadi tidak dilakukan sembarangan. Pemerintah melibatkan berbagai ahli, mulai dari ahli struktur, keselamatan kerja (K3), hingga tim dari Ikatan Ahli Historis Indonesia (IHI).

Penggunaan material juga menjadi perhatian khusus. Selain bahan lokal, proyek ini menggunakan kapur khusus impor dari Jerman untuk menjaga sirkulasi udara dinding bangunan.

Material lainnya meliputi:

  • Engsel buatan perajin Sumenep
  • Kayu resmi dari Perhutani
  • Marmer yang disesuaikan dengan bangunan utama

Tak hanya itu, sistem keamanan modern juga ditambahkan, termasuk instalasi pencegahan kebakaran guna melindungi bangunan dari risiko kerusakan.

Pengamanan Material Bersejarah

Sebelum pemugaran dimulai, Pemprov Jatim bersama Tim Cagar Budaya (TCB) dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah lebih dulu mengamankan berbagai material bernilai sejarah tinggi.

Area proyek juga telah dipagari untuk mencegah gangguan selama proses konservasi berlangsung.

Jejak Sejarah Grahadi

Gedung Negara Grahadi bukan sekadar bangunan pemerintahan, melainkan ikon sejarah Kota Surabaya. Bangunan ini didirikan pada tahun 1795 oleh Dirk van Hogendorp, Residen Surabaya pada masa kolonial.

Awalnya, gedung bergaya arsitektur Romawi ini menghadap ke Sungai Kalimas, yang dahulu menjadi jalur utama perdagangan dan transportasi.

Nama “Grahadi” berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “graha” (rumah) dan “adi” (mulia), yang bermakna Rumah Mulia.

Pasca kemerdekaan Indonesia, Grahadi difungsikan sebagai rumah dinas resmi Gubernur Jawa Timur hingga kini. Statusnya sebagai cagar budaya membuat setiap proses renovasi wajib mengikuti standar konservasi ketat.

Imbauan untuk Masyarakat

Pemerintah mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian kawasan Grahadi, terutama bagi warga yang beraktivitas di sekitar Jalan Gubernur Suryo.

“Kami mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan, ketertiban, dan tidak melakukan vandalisme di kawasan cagar budaya,” tegasnya.

Pemugaran ini diharapkan tidak hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga memperkuat identitas budaya Kota Surabaya sebagai kota bersejarah di Indonesia.


3. Poin Utama Berita

  • Pemugaran sayap barat Gedung Grahadi resmi dimulai
  • Anggaran Rp12,7 miliar dari APBD Pemprov Jatim
  • Target selesai dalam 210 hari (hingga Oktober 2026)
  • Proyek melibatkan ahli struktur, K3, dan historis
  • Gunakan material khusus, termasuk kapur impor dari Jerman
  • Sistem keamanan bangunan ditingkatkan (anti kebakaran)
  • Grahadi merupakan bangunan bersejarah sejak 1795
  • Masyarakat diimbau menjaga kawasan cagar budaya