JAKARTA | Sentrapos.co.id – Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) mengungkap lonjakan signifikan kasus penipuan digital menjelang Lebaran 2026. Aktivitas masyarakat yang meningkat di ruang digital, mulai dari belanja online hingga transfer uang dan pembagian THR, dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksinya.
Founder dan Chairman ICSF, Ardi Sutedja K., menyebut platform populer seperti WhatsApp, Facebook, hingga marketplace menjadi target utama para pelaku.
“Pelaku memanfaatkan tingginya aktivitas digital masyarakat untuk menjalankan berbagai modus penipuan yang semakin canggih,” ujar Ardi, Selasa (17/3/2026).
Modus Lama, Pola Baru yang Lebih Canggih
ICSF mencatat sejumlah modus yang paling sering digunakan saat momentum Lebaran, di antaranya:
-
Undian berhadiah palsu yang mengatasnamakan bank atau perusahaan besar
-
Promo diskon Lebaran fiktif di media sosial
-
Phishing melalui tautan palsu untuk mencuri data pribadi
-
Toko online palsu di marketplace
“Banyak pelaku menggunakan media sosial dan aplikasi pesan untuk menyebarkan link berbahaya atau penawaran palsu,” jelas Ardi.
Tak hanya itu, pesan berantai yang berisi file berbahaya atau malware juga marak disebarkan melalui WhatsApp dan Telegram.
Media Sosial Jadi Sarang Penipuan
Media sosial seperti Facebook dan Instagram menjadi sarana efektif bagi pelaku karena jangkauan luas dan mudahnya penyebaran informasi.
Pelaku kerap membuat akun palsu, konten viral, hingga promosi yang sulit diverifikasi kebenarannya untuk menjebak korban.
Sementara itu, marketplace juga menjadi celah melalui praktik toko fiktif atau penjualan produk yang tidak sesuai dengan deskripsi.
Tips Aman dari ICSF
Untuk menghindari menjadi korban penipuan digital, ICSF mengimbau masyarakat melakukan langkah berikut:
-
Jangan mudah percaya pada pesan hadiah atau promo mencurigakan
-
Hindari klik tautan dari sumber tidak dikenal
-
Pastikan alamat website resmi sebelum transaksi
-
Aktifkan verifikasi dua langkah (MFA)
-
Rutin mengganti kata sandi
-
Laporkan aktivitas mencurigakan
“Kewaspadaan dan literasi digital menjadi kunci utama melindungi diri dari kejahatan siber,” tegas Ardi.
Peran Pemerintah dan Institusi Diperkuat
ICSF juga menekankan pentingnya peran pemerintah dan institusi dalam memperkuat keamanan digital, terutama di momen rawan seperti Lebaran.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) diharapkan meningkatkan edukasi publik serta memperkuat perlindungan data pribadi.
Selain itu, perbankan dan marketplace didorong untuk meningkatkan sistem keamanan, termasuk deteksi transaksi mencurigakan dan kanal pelaporan penipuan.
Kolaborasi Jadi Kunci Keamanan Digital
Ardi menegaskan bahwa keamanan ruang siber tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.
“Kolaborasi antara pemerintah, institusi, dan masyarakat menjadi kunci menciptakan ruang digital yang aman,” pungkasnya.
Dengan meningkatnya aktivitas digital selama Lebaran, masyarakat diimbau tetap waspada agar momen kebahagiaan tidak berubah menjadi kerugian akibat penipuan. (*)




















