Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

Perang Iran Memanas: Ribuan Tewas, Serangan Udara AS-Israel Dikecam, Ancaman Konflik Panjang Menguat

35
×

Perang Iran Memanas: Ribuan Tewas, Serangan Udara AS-Israel Dikecam, Ancaman Konflik Panjang Menguat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TEHERAN | Sentrapos.co.id — Eskalasi perang di Iran kian memanas setelah serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel menghantam sejumlah kota strategis, termasuk ibu kota Teheran dan wilayah Qom.

Serangan tersebut menargetkan kawasan permukiman, menyebabkan korban jiwa dan kehancuran luas. Media lokal melaporkan sedikitnya enam orang tewas akibat serangan di Qom, sementara jumlah korban luka masih terus didata.

Tim penyelamat dari Bulan Sabit Merah Iran hingga kini masih melakukan pencarian korban yang diduga tertimbun reruntuhan bangunan.

Ledakan dahsyat juga mengguncang Teheran sepanjang malam. Koresponden Al Jazeera, Tohid Asadi, melaporkan situasi mencekam dengan suara pertahanan udara dan rentetan ledakan.

“Sepanjang malam kami mendengar ledakan dahsyat dan sistem pertahanan udara aktif menghadapi ancaman,” ujarnya.

Serangan turut meluas ke berbagai wilayah lain, termasuk Urmia, Karaj, hingga kawasan industri di Isfahan.

Pejabat setempat menyebut sejumlah bangunan hancur total dan menambah daftar korban jiwa.

Wakil Menteri Kesehatan Iran, Ali Jafarian, mengungkapkan skala korban yang terus meningkat drastis.

“Setidaknya 1.937 orang tewas dan hampir 25.000 terluka, termasuk perempuan dan anak-anak,” katanya.

Kondisi kemanusiaan di Iran kini berada di titik kritis. Jan Egeland menyebut jutaan warga terpaksa mengungsi di tengah ketidakpastian keamanan.

“Warga sipil membayar harga tertinggi dari perang ini. Ini harus segera diakhiri,” tegasnya.

Di tengah konflik, Iran juga mempertegas posisi strategisnya atas Selat Hormuz yang kini diblokade, memicu krisis energi global.

Sementara itu, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar konsultasi tertutup untuk membahas eskalasi konflik yang semakin meluas ke kawasan Timur Tengah.


Analisis: Strategi Udara AS Dinilai Berisiko Perpanjang Perang

Di tengah eskalasi konflik, strategi militer Amerika Serikat yang mengandalkan dominasi udara kembali menuai sorotan tajam.

Mengacu pada analisis The Guardian, pendekatan ini dinilai berpotensi mengulang pola lama: janji kemenangan cepat yang justru berujung konflik berkepanjangan.

Konsep tersebut berakar dari teori Giulio Douhet dalam buku The Command of the Air (1921), yang menekankan kemenangan melalui pemboman besar-besaran terhadap infrastruktur.

Namun, analis pertahanan Winslow Wheeler menilai pendekatan tersebut sering gagal secara strategis.

“Serangan udara justru kerap memicu perlawanan, bukan melemahkan musuh,” ujarnya.

Sejarah mencatat, strategi serupa tidak menghasilkan kemenangan mutlak dalam berbagai konflik, mulai dari Perang Vietnam hingga invasi Irak 2003.

Bahkan, klaim efektivitas teknologi modern seperti kecerdasan buatan (AI) dinilai belum mampu mengubah realitas di medan perang.

“Teknologi semakin canggih, tetapi tidak mengubah cara manusia bereaksi dalam perang,” tegas Wheeler.

Dengan kondisi saat ini, ketergantungan pada kekuatan udara dinilai berisiko memperpanjang konflik Iran, alih-alih mempercepat penyelesaian. (*)


Poin Utama Berita

  • Serangan udara AS-Israel hantam Teheran dan Qom
  • Ribuan korban jiwa, hampir 25 ribu orang terluka
  • Warga sipil jadi korban terbesar konflik
  • Iran blokade Selat Hormuz, picu krisis energi global
  • Jutaan warga mengungsi akibat perang
  • PBB siapkan pembahasan darurat konflik Iran
  • Strategi udara AS dinilai berisiko perpanjang perang
  • Sejarah menunjukkan dominasi udara tak selalu efektif