Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
HEADLINE NEWSINTERNASIONALPERISTIWA

Perang Iran-Israel Memanas! Fasilitas Energi Teluk Diserang, Harga BBM Global Melonjak & Ancaman Krisis Ekonomi Menguat

70
×

Perang Iran-Israel Memanas! Fasilitas Energi Teluk Diserang, Harga BBM Global Melonjak & Ancaman Krisis Ekonomi Menguat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat kian memanas setelah Teheran melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk, Rabu (19/3/2026) waktu setempat. Eskalasi ini langsung berdampak pada lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) global dan memicu kekhawatiran krisis ekonomi dunia.

Serangan tersebut terjadi setelah Israel membunuh Kepala Intelijen Iran, Esmail Khatib, yang menjadi pukulan besar bagi pemerintahan Teheran. Iran pun merespons keras dengan ancaman balasan terhadap infrastruktur energi negara-negara sekutu Barat di kawasan.

“Setiap tetes darah yang tertumpah akan dibayar mahal. Serangan terhadap infrastruktur energi akan dibalas lebih keras,” tegas pernyataan otoritas Iran.

Eskalasi Konflik: Target Energi Jadi Sasaran

Iran secara terbuka menargetkan fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk sebagai respons atas serangan terhadap ladang energi mereka, termasuk South Pars—cadangan gas terbesar dunia.

Ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Riyadh, Arab Saudi, setelah sistem pertahanan udara mencegat rudal balistik dan drone. Sementara di Qatar, kebakaran terjadi di fasilitas gas Ras Laffan akibat serangan, meski tidak menimbulkan korban jiwa.

Uni Emirat Arab (UEA) juga mengonfirmasi tengah menghadapi ancaman rudal dan drone dari Iran, dengan sistem pertahanan udara aktif melakukan intersepsi.

“Jika serangan terhadap energi Iran berlanjut, maka infrastruktur energi kawasan tidak akan aman,” bunyi peringatan Garda Revolusi Iran.


Harga BBM Global Melonjak Tajam

Dampak konflik langsung terasa di sektor energi global. Harga BBM melonjak di sedikitnya 95 negara hanya dalam hitungan pekan sejak perang pecah pada 28 Februari 2026.

Di Amerika Serikat, harga bensin naik dari US$2,94 menjadi US$3,58 per galon atau meningkat sekitar 20%. Lonjakan lebih tajam terjadi di negara berkembang:

  • Kamboja: naik hingga 68%

  • Vietnam: naik sekitar 50%

  • Nigeria: naik 35%

  • Laos: naik 33%

  • Kanada: naik 28%

Kenaikan ini dipicu terganggunya jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz—jalur vital pengiriman minyak dunia.

“Gangguan di Selat Hormuz menjadi faktor utama lonjakan harga energi global saat ini.”


Asia Paling Terpukul, Kebijakan Darurat Diterapkan

Negara-negara Asia menjadi yang paling terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi dari Timur Tengah.

Jepang dan Korea Selatan, yang masing-masing mengimpor hingga 95% dan 70% kebutuhan minyaknya, telah menyiapkan cadangan strategis dan kebijakan pembatasan harga.

Di Asia Selatan, dampaknya lebih ekstrem:

  • Bangladesh menutup universitas untuk menghemat energi

  • Pakistan menerapkan kerja 4 hari dan work from home hingga 50%

Langkah ini menunjukkan tekanan serius terhadap konsumsi energi nasional.


Ancaman Stagflasi & Dampak ke Harga Pangan

Kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada transportasi, tetapi juga merembet ke harga pangan dan kebutuhan pokok.

Biaya energi yang meningkat memicu kenaikan biaya produksi pupuk hingga distribusi logistik global. Hal ini berpotensi menyebabkan inflasi tinggi di tengah perlambatan ekonomi atau stagflasi.

Ekonom David McWilliams menegaskan pentingnya sektor energi dalam ekonomi global.

“Transportasi adalah napas ekonomi global. Ketika energi naik, seluruh rantai pasok ikut terdampak,” ujarnya.

Sejarah mencatat krisis minyak besar pada 1973, 1978, dan 2008 selalu diikuti perlambatan ekonomi global.


Dunia Siaga Krisis Energi Lanjutan

Dengan konflik yang belum mereda, banyak negara kini bersiap menghadapi lonjakan harga lanjutan pada April 2026. Ketegangan geopolitik diprediksi terus menekan pasar energi dan memperbesar risiko krisis global.

“Jika eskalasi berlanjut, dunia berpotensi menghadapi krisis energi yang lebih dalam dalam beberapa bulan ke depan.” (*)