Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

Perang Timur Tengah Melebar! Milisi Pro-Iran di Irak Serang Kepentingan AS, Ancam Konflik Berkepanjangan

73
×

Perang Timur Tengah Melebar! Milisi Pro-Iran di Irak Serang Kepentingan AS, Ancam Konflik Berkepanjangan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran terus meluas. Kini, sejumlah kelompok milisi bersenjata di Irak yang didukung Teheran mulai aktif menyerang kepentingan AS, menandai eskalasi baru yang berpotensi memicu perang berkepanjangan di kawasan.

Laporan terbaru menyebutkan kelompok-kelompok tersebut telah melancarkan serangan ke pangkalan militer, fasilitas diplomatik, hingga infrastruktur energi yang berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat di Irak.

“Konflik ini berpotensi berubah menjadi perang gesekan jangka panjang yang melibatkan banyak aktor di kawasan,” ungkap analis keamanan internasional.


Milisi Pro-Iran Mulai Bergerak

Sejumlah kelompok utama yang terlibat dalam eskalasi ini antara lain Al-Nujaba, Kataeb Hizbullah, Kataeb Sayyid al-Shuhada, dan Asaib Ahl al-Haq. Mereka merupakan bagian dari jaringan “poros perlawanan” yang didukung Iran.

Kelompok ini memiliki hubungan erat dengan aktor regional lain seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, serta Houthi di Yaman.

Al-Nujaba bahkan mengklaim kemampuan produksi drone dan roket secara mandiri, yang kini menjadi senjata utama dalam konflik asimetris.

“Produksi drone dan roket kini menjadi hal umum, seperti membuat makanan rumahan,” klaim kelompok tersebut dalam pernyataan resminya.


Target Serangan: Pangkalan hingga Ladang Minyak

Milisi pro-Iran dilaporkan menargetkan berbagai kepentingan AS di Irak, termasuk:

  • Kedutaan Besar AS di Baghdad

  • Fasilitas diplomatik dan logistik di bandara

  • Ladang minyak yang dioperasikan perusahaan asing

  • Wilayah Kurdistan yang menjadi basis pasukan AS

Serangan ini menunjukkan peningkatan intensitas dan koordinasi, sekaligus memperluas medan konflik di luar Iran.


Motif: Pertahanan Rezim Iran

Analis dari International Crisis Group menyebut keterlibatan kelompok Irak ini sebagai bagian dari strategi mempertahankan eksistensi Iran.

Menurut analis Lahib Higel, kelompok-kelompok tersebut melihat konflik ini sebagai ancaman langsung terhadap kelangsungan rezim Teheran.

“Mereka adalah garis pertahanan terakhir. Jika kepemimpinan Iran runtuh, maka keberadaan mereka juga terancam,” jelasnya.

Kelompok ini diketahui memiliki persenjataan berupa drone, roket, hingga rudal balistik jarak pendek yang siap digunakan dalam konflik jangka panjang.


Respons AS: Serangan Balasan & Korban Berjatuhan

Amerika Serikat selama ini rutin melakukan serangan balasan terhadap milisi pro-Iran. Dalam eskalasi terbaru, serangan dilaporkan menyasar basis utama Kataeb Hizbullah dan wilayah strategis di selatan Baghdad.

Sedikitnya 43 pejuang pro-Iran dilaporkan tewas dalam serangan terbaru. Bahkan, sebuah rudal menghantam rumah di Baghdad yang menewaskan tiga anggota milisi, termasuk seorang komandan penting.

“Serangan balasan AS menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya terbatas pada Iran, tetapi telah meluas ke jaringan militernya di kawasan.”


Ancaman Perang Gesekan Berkepanjangan

Keterlibatan milisi Irak menandai perubahan besar dalam dinamika konflik Timur Tengah. Pola serangan sporadis dengan drone dan roket diperkirakan akan terus berlangsung, menciptakan perang gesekan yang sulit dihentikan dalam waktu dekat.

Situasi ini meningkatkan risiko instabilitas regional dan berpotensi mengganggu keamanan global, termasuk sektor energi dan ekonomi dunia.

“Jika eskalasi terus berlanjut, Timur Tengah bisa memasuki fase konflik multi-front yang lebih kompleks dan berkepanjangan.” (*)