Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
HUKUM & KRIMINAL

Polri Waspadai Ancaman Terorisme Dampak Konflik Global, Densus 88 Perkuat Pengamanan Jelang Operasi Ketupat 2026

46
×

Polri Waspadai Ancaman Terorisme Dampak Konflik Global, Densus 88 Perkuat Pengamanan Jelang Operasi Ketupat 2026

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id — Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman terorisme di tengah memanasnya situasi geopolitik global. Langkah antisipatif ini diperkuat menjelang pelaksanaan Operasi Ketupat Lebaran 2026, yang menjadi agenda pengamanan nasional selama periode mudik dan perayaan Idulfitri.

Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana, mengatakan bahwa pihaknya telah meningkatkan pemantauan serta langkah pencegahan guna mengantisipasi potensi dampak konflik internasional terhadap keamanan dalam negeri.

“Beliau menekankan kepada Densus 88 agar melakukan antisipasi serta memperkuat monitoring terhadap adanya ancaman yang mungkin bisa menimbulkan efek domino bagi negara kita,” ujar Mayndra dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Kamis (5/3/2026).

Konflik Global Berpotensi Picu Radikalisme

Mayndra menjelaskan, eskalasi konflik internasional dapat memicu munculnya simpatisan kelompok ekstremis serta mengaktifkan kembali sel-sel teror yang sebelumnya tidak aktif.

Ia mencontohkan pengalaman masa lalu saat gelombang Arab Spring yang memicu konflik berkepanjangan di Suriah dan melibatkan sejumlah kekuatan besar dunia, termasuk Amerika Serikat dan Rusia, serta berbagai kelompok proksi di kawasan Timur Tengah.

“Konflik itu berlangsung hingga sekitar 2017. Pada masa tersebut kita melihat cukup banyak masyarakat Indonesia yang terlibat dalam konflik di Suriah,” jelasnya.

Pada periode itu, sejumlah warga negara Indonesia diketahui berangkat ke Suriah untuk bergabung sebagai foreign fighter. Situasi tersebut juga beriringan dengan munculnya jaringan teror global ISIS yang memicu peningkatan aktivitas kelompok radikal di berbagai negara.

Dampak Jaringan Teror Global

Keberadaan jaringan teror global pada masa tersebut berdampak pada meningkatnya aksi teror di sejumlah wilayah, termasuk di Indonesia. Beberapa aksi bahkan terinspirasi oleh propaganda dan ideologi kelompok radikal internasional.

Karena itu, Kapolri meminta seluruh jajaran kepolisian, khususnya Densus 88 Antiteror, untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan dampak konflik internasional terhadap stabilitas keamanan nasional.

DPR Ingatkan Penguatan Pertahanan Nasional

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai pemerintah perlu memperkuat kesiapsiagaan nasional, baik dari sisi keamanan maupun stabilitas ekonomi, menyusul meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah.

Konflik tersebut semakin memanas setelah serangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.

“Saya menilai bahwa pernyataan yang disampaikan pemerintah mencerminkan keseriusan dalam mengantisipasi dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Kondisi ini menegaskan perlunya Indonesia berada dalam posisi siaga menghadapi berbagai kemungkinan,” kata Dave.

Menurutnya, kesiapsiagaan nasional sangat penting untuk memastikan stabilitas keamanan dalam negeri tetap terjaga di tengah dinamika global yang tidak menentu.

Dengan penguatan pemantauan intelijen dan koordinasi lintas lembaga, pemerintah diharapkan mampu mencegah potensi ancaman terorisme serta menjaga keamanan masyarakat selama momentum Lebaran 2026. (*)