Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
EKONOMI & BISNISNASIONAL

Prabowo Minta Menteri Kaji WFH dan Pengurangan Hari Kerja Jika Krisis BBM Terjadi

88
×

Prabowo Minta Menteri Kaji WFH dan Pengurangan Hari Kerja Jika Krisis BBM Terjadi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id — Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran menteri mengkaji sejumlah langkah efisiensi bahan bakar minyak (BBM) sebagai langkah antisipatif jika terjadi krisis energi global. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penerapan Work From Home (WFH) serta pengurangan hari kerja.

Arahan tersebut disampaikan Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026), menyusul dinamika geopolitik di kawasan Eropa dan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas harga energi dunia.

Menurut Presiden, lonjakan harga energi global dapat berdampak langsung pada perekonomian nasional, terutama pada harga bahan bakar dan komoditas pangan.

“Kita menghadapi perkembangan global di kawasan Eropa dan Timur Tengah yang tentunya memberi dampak kepada kita karena akan memengaruhi harga BBM. Harga BBM juga bisa memengaruhi harga makanan,” ujar Presiden Prabowo.

Presiden menegaskan, pemerintah sejauh ini telah memperkuat sejumlah fondasi ekonomi nasional, khususnya dalam aspek ketahanan pangan. Namun demikian, langkah antisipasi tetap perlu disiapkan untuk menghadapi kemungkinan tekanan pada sektor energi.

Ia menilai penghematan konsumsi BBM harus menjadi perhatian bersama, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, agar Indonesia tidak terlena oleh kondisi yang saat ini relatif stabil.

“Kita harus melakukan langkah-langkah yang proaktif. Artinya, kita harus melakukan penghematan konsumsi BBM,” tegas Presiden.

“Kita tidak bisa menganggap bahwa apa pun yang terjadi kita aman. Kita bersyukur kita aman, tetapi kita juga harus tetap berupaya mengurangi konsumsi BBM kita.”

Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menyinggung contoh kebijakan yang diterapkan beberapa negara dalam menghadapi ancaman krisis energi, salah satunya Pakistan.

Negara tersebut menerapkan langkah efisiensi energi yang cukup drastis, seperti penerapan kerja dari rumah secara luas dan pengurangan hari kerja menjadi empat hari dalam sepekan.

“Mereka melaksanakan work from home untuk semua kantor pemerintah maupun swasta. Sekitar 50 persen bekerja dari rumah, kemudian hari kerja mereka dipotong menjadi hanya empat hari,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah Pakistan juga melakukan pengurangan gaji pejabat negara, memangkas penggunaan BBM kendaraan dinas, hingga menunda berbagai belanja negara yang dinilai tidak mendesak.

Meski demikian, Presiden menegaskan bahwa contoh kebijakan tersebut hanya menjadi bahan kajian bagi pemerintah Indonesia dan belum menjadi keputusan resmi.

Pemerintah, kata Presiden, akan membahas berbagai opsi efisiensi energi bersama para menteri serta pimpinan lembaga terkait.

Pengalaman Indonesia saat menghadapi pandemi COVID-19 juga menjadi referensi penting dalam mengelola mobilitas masyarakat dan efisiensi energi.

“Dulu kita atasi COVID, dan kita berhasil. Kita mampu banyak bekerja dari rumah dengan efisien. Artinya, kita menghemat BBM dalam jumlah yang sangat besar,” ungkap Presiden.

Karena itu, Presiden meminta seluruh jajaran pemerintah mulai menyiapkan berbagai skenario mitigasi apabila situasi global semakin memburuk.

“Kita tidak panik, tetapi kita juga tidak boleh terlalu lengah. Kita harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling buruk,” pungkasnya. (*)