JAKARTA | Sentrapos.co.id – Kabar duka datang dari misi perdamaian internasional. Seorang prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) dilaporkan gugur setelah sebuah proyektil meledak di dekat pos pasukan di wilayah Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, Minggu (29/3/2026).
Insiden tragis ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang semakin membahayakan keselamatan personel misi internasional. Selain korban tewas, satu personel Indonesia lainnya mengalami luka serius dan saat ini masih menjalani perawatan intensif.
Misi United Nations Interim Force in Lebanon menyatakan hingga kini asal proyektil masih belum diketahui dan penyelidikan tengah dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kejadian tersebut.
“Tidak seorang pun seharusnya kehilangan nyawa saat menjalankan misi perdamaian,” tegas pernyataan resmi PBB.
Kecaman Keras PBB dan Seruan Deeskalasi
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras insiden yang menewaskan prajurit Indonesia tersebut. Ia menilai serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, PBB menegaskan bahwa insiden ini merupakan bagian dari rangkaian kejadian berbahaya yang terjadi dalam 48 jam terakhir.
“Serangan terhadap penjaga perdamaian adalah pelanggaran serius hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang,” tegas PBB.
PBB juga menyerukan kepada semua pihak yang terlibat konflik untuk segera menahan diri dan memastikan keselamatan seluruh personel serta fasilitas internasional.
Indonesia Berduka, Kontingen Terbesar di UNIFIL
Prajurit yang gugur merupakan bagian dari Kontingen Garuda (Konga) Indonesia yang tergabung dalam misi UNIFIL. Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu penyumbang pasukan terbesar dalam misi tersebut.
Sejak bergabung pada 2006, Indonesia secara konsisten mengirimkan lebih dari seribu personel untuk menjaga stabilitas di Lebanon selatan. Misi ini berakar dari resolusi Dewan Keamanan PBB yang bertujuan mengakhiri konflik antara Israel dan Hizbullah serta menjaga perdamaian kawasan.
“Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya dalam misi kemanusiaan dunia.”
Tenaga Medis Ikut Jadi Korban Konflik
Di tengah eskalasi yang sama, korban juga datang dari kalangan tenaga kesehatan. Direktur Jenderal World Health Organization, Tedros Adhanom Ghebreyesus, melaporkan satu tenaga medis tewas akibat serangan terhadap ambulans di wilayah Bint Jbeil.
Gudang medis di lokasi yang sama juga dilaporkan hancur akibat serangan. WHO mencatat sedikitnya 51 tenaga kesehatan telah tewas sejak awal Maret 2026.
“Serangan terhadap fasilitas kesehatan harus segera dihentikan. Ini tidak boleh menjadi hal yang normal,” tegas WHO.
Situasi Memanas, Risiko Global Meningkat
Eskalasi konflik di Lebanon selatan dan kawasan Timur Tengah secara luas kini menjadi perhatian dunia internasional. Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dan fasilitas sipil memperbesar risiko krisis kemanusiaan.
PBB menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap Resolusi Dewan Keamanan, termasuk Resolusi 1701, serta mendesak adanya pertanggungjawaban atas setiap pelanggaran.
“Harus ada akuntabilitas atas setiap serangan terhadap personel penjaga perdamaian,” tutup pernyataan PBB. (*)
Poin Utama Berita
- Prajurit TNI gugur dalam misi UNIFIL di Lebanon selatan
- Ledakan proyektil terjadi di dekat pos pasukan PBB
- Satu personel Indonesia lainnya luka serius
- PBB kecam keras dan sebut serangan bisa jadi kejahatan perang
- Indonesia merupakan salah satu kontributor pasukan terbesar di UNIFIL
- WHO laporkan tenaga medis juga menjadi korban konflik
- Eskalasi konflik Timur Tengah semakin mengkhawatirkan

















