Menurutnya, langkah militer yang dilakukan dengan dalih mencegah proliferasi nuklir justru berisiko memicu efek sebaliknya.
“Masalah proliferasi nuklir dapat mulai lepas kendali. Tujuan yang tampaknya untuk mencegah penyebaran senjata nuklir justru dapat memicu tren yang sepenuhnya berlawanan,” ujarnya.
Lavrov menegaskan bahwa hingga saat ini Rusia belum melihat bukti kuat bahwa Iran tengah mengembangkan senjata nuklir.
Di sisi lain, Israel secara luas diyakini sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir, meski tidak pernah secara resmi mengakuinya.
Putin Serukan Redam Ketegangan
Rusia yang memiliki hubungan strategis dengan Iran menilai stabilitas kawasan Timur Tengah sangat penting bagi keseimbangan geopolitik global.
Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan menyebut pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei sebagai tindakan yang “sinis”. Moskow pun mendesak agar konflik segera dihentikan untuk mencegah eskalasi lebih luas.
Kremlin menyatakan bahwa Putin telah melakukan komunikasi dengan para pemimpin negara-negara Teluk Arab pada Senin (2/3/2026).
Dalam pembicaraan tersebut, Rusia berjanji akan menyampaikan kepada Iran kekhawatiran negara-negara kawasan terkait serangan militer yang terjadi sejak konflik meletus.
“Putin tentu akan melakukan segala upaya untuk berkontribusi setidaknya pada pengurangan ketegangan,” kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov. (*)




















