JAKARTA | Sentrapos.co.id – Satuan Tugas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan memastikan kondisi pangan pascalebaran tetap terkendali. Pengawasan intensif dilakukan guna menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pasokan di tengah belum pulihnya aktivitas perdagangan.
Pemantauan dilakukan di wilayah Jakarta Timur dan Kabupaten Bekasi sejak H+3 Lebaran hingga pekan pertama pascalebaran. Fokus pengawasan mencakup pasar tradisional hingga ritel modern.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional selaku Ketua Pelaksana Satgas, Ketut Astawa, menegaskan bahwa secara umum stok pangan masih aman meskipun belum seluruh pedagang kembali beroperasi.
“Memang setelah Lebaran kondisi belum sepenuhnya normal. Di lapangan kami terus pantau harga dan cek pasokan supaya tetap berjalan,” ujar Ketut di Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Ia menjelaskan, terbatasnya aktivitas pedagang berdampak pada distribusi sejumlah komoditas seperti daging sapi, sayur mayur, dan beras yang belum merata di beberapa pasar.
Kondisi ini memicu kenaikan harga, khususnya pada komoditas segar yang bergantung pada pasokan harian dari daerah produsen. Di Pasar Ciracas, Jakarta Timur, harga cabai masih berada di atas harga acuan pemerintah.
“Biasanya menjelang Lebaran petani libur petik sehingga pasokan sedikit berkurang dan harga naik. Namun stok di pasar masih relatif tersedia,” jelasnya.
Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa fenomena kenaikan harga pascalebaran merupakan siklus tahunan. Harga diperkirakan akan kembali normal seiring pulihnya distribusi dan aktivitas produksi.
Sinyal positif mulai terlihat dari daerah produsen. Di Surakarta, harga cabai mulai mengalami penurunan pada akhir Maret. Cabai merah keriting tercatat sekitar Rp35.000/kg, cabai rawit merah Rp55.000–Rp60.000/kg, dan cabai merah besar Rp40.000/kg.
Penurunan harga di tingkat produsen diharapkan segera berdampak pada wilayah konsumsi seperti Jakarta. Distribusi yang kembali lancar menjadi faktor utama dalam menekan harga di pasar.
Ketut juga mengingatkan masyarakat bahwa harga di pasar tradisional bersifat dinamis karena sistem tawar-menawar.
“Pasar tradisional itu pasar tawar-menawar. Kalau di pasar harus tawar-menawar untuk mendapatkan harga yang sesuai,” tegasnya.
Sementara itu, kondisi di ritel modern relatif stabil. Sejumlah komoditas dijual sesuai harga acuan pemerintah, seperti beras premium Rp14.900/kg, daging sapi Rp128.900/kg, telur ayam ras Rp29.700/kg, dan gula konsumsi Rp17.500/kg.
Hasil pemantauan di Pasar Tambun, Kabupaten Bekasi, menunjukkan harga Minyakita sesuai HET Rp15.700/liter dan telur ayam ras sesuai HAP Rp30.000/kg.
Di sisi lain, ritel modern menjual beras SPHP Rp62.500/5 kg, daging ayam ras Rp34.900/kg, serta gula konsumsi Rp17.500/kg.
Satgas Pangan juga aktif menyosialisasikan harga acuan pemerintah melalui pemasangan stiker HET dan HAP di kios pedagang. Langkah ini dilakukan untuk menjaga transparansi harga dan melindungi konsumen.
Selain itu, pelaku usaha diingatkan untuk tidak melakukan penimbunan dan menjaga kelancaran distribusi.
Kepala Badan Pangan Nasional menegaskan bahwa keseimbangan antara produksi dan distribusi menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas harga pangan nasional.
“Kalau produksi surplus dan distribusi lancar, maka harga akan stabil. Itu yang kita jaga terus dari hulu sampai hilir,” pungkasnya. (*)
Poin Utama
- Satgas Pangan pastikan stok pangan aman pascalebaran
- Harga cabai masih tinggi akibat pasokan terbatas
- Aktivitas pedagang belum sepenuhnya normal
- Distribusi jadi faktor kunci stabilisasi harga
- Harga mulai turun di daerah produsen seperti Surakarta
- Ritel modern relatif stabil sesuai harga acuan pemerintah
- Satgas ingatkan larangan penimbunan pangan




















