RIYADH | Sentrapos.co.id – Pemerintah Arab Saudi secara tegas membantah laporan yang menyebut Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Bantahan tersebut disampaikan sumber resmi pemerintah Saudi kepada media Al Arabiya, menyusul laporan media Amerika Serikat yang menyebut adanya dorongan dari MBS kepada Washington untuk mengambil langkah agresif terhadap Teheran.
“Laporan tersebut tidak benar dan menyesatkan,” ujar sumber resmi Pemerintah Arab Saudi.
Bantah Laporan Media AS
Sebelumnya, media ternama AS melaporkan bahwa MBS disebut menyarankan Trump untuk “terus menekan Iran dengan keras”. Laporan itu mengutip sejumlah pejabat Gedung Putih.
Tak hanya itu, Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington juga telah lebih dulu membantah laporan lain yang menyebut kerajaan secara diam-diam melobi AS agar melancarkan serangan terhadap Iran.
Langkah bantahan ini menunjukkan upaya Saudi menjaga posisi diplomatiknya di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks.
Tegaskan Tidak Ingin Terlibat Perang
Arab Saudi menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki kepentingan untuk terlibat dalam konflik militer di kawasan Timur Tengah.
Selama ini, Riyadh justru berupaya menjadi salah satu aktor yang mendorong stabilitas dan menahan eskalasi konflik, terutama di kawasan Teluk.
“Arab Saudi tidak akan terlibat dalam perang apa pun yang berpotensi terjadi di kawasan,” tegas sumber tersebut.
Sikap ini kembali ditekankan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Pertemuan MBS–MBZ di Tengah Ketegangan
Di tengah situasi yang memanas, Mohammed bin Salman diketahui melakukan pertemuan dengan Presiden Uni Emirat Arab, Mohammed bin Zayed (MBZ), pada Senin (16/3/2026).
Pertemuan tersebut dinilai strategis karena muncul di saat negara-negara Teluk menghadapi dilema: tetap menahan diri atau ikut terlibat dalam konflik terbuka.
Ancaman Iran Meningkat, Teluk Pilih Menahan Diri
Sejak konflik memuncak pada akhir Februari 2026, Iran dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 2.000 rudal dan drone ke wilayah negara-negara Teluk.
Meski ancaman meningkat, negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) hingga kini belum melakukan serangan balasan secara terbuka.
Sejumlah analis menilai langkah tersebut didorong oleh kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas dan dampak jangka panjang terhadap stabilitas kawasan.
Negara-negara Teluk juga mengkhawatirkan bahwa tindakan militer terbuka justru akan memicu Iran memperluas target serangan.
Saudi Prioritaskan Stabilitas Kawasan
Dalam situasi yang semakin kompleks, Arab Saudi menegaskan komitmennya untuk mengedepankan stabilitas dan diplomasi.
Langkah ini sekaligus menepis spekulasi bahwa Riyadh berada di balik dorongan eskalasi konflik terhadap Iran.
Dengan posisi strategisnya di kawasan, sikap Saudi dinilai menjadi kunci dalam menentukan arah konflik Timur Tengah ke depan. (*)




















