JAKARTA | Sentrapos.co.id — Kasus peluru nyasar yang menimpa seorang pelajar SMP di Gresik, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan publik. DFH (14), siswa kelas 3 di SMPN 33 Gresik, hingga kini masih mengalami dampak fisik dan trauma psikologis pasca insiden yang terjadi pada 17 Desember 2025.
Peristiwa tersebut diduga berasal dari aktivitas latihan militer di lapangan tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, yang berjarak sekitar 2,3 kilometer dari lokasi sekolah.
Kronologi Kejadian
Saat kejadian, korban tengah berada di musala sekolah mengikuti kegiatan sosialisasi pendidikan. Tanpa diduga, peluru nyasar mengenai tangan kiri korban.
Akibatnya, DFH harus menjalani operasi untuk mengangkat proyektil yang bersarang di tubuhnya.
Meski peluru telah berhasil diangkat dan korban kini kembali bersekolah, kondisi fisik dan psikisnya belum sepenuhnya pulih.
Trauma dan Dampak Jangka Panjang
Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologi forensik, korban mengalami trauma akut akibat kejadian tersebut.
Ibunda korban, Dewi Murniati, mengungkapkan bahwa hingga saat ini tangan kiri anaknya belum dapat berfungsi normal.
“Anak saya belum bisa mengepal atau menggenggam. Dia juga mengalami trauma dan harus terus menjalani pemulihan,” ungkap Dewi dengan suara bergetar.
Keluarga juga harus menanggung biaya pengobatan lanjutan secara mandiri, dengan total pengeluaran mencapai puluhan juta rupiah.
Keluarga Tuntut Tanggung Jawab
Didampingi kuasa hukum dari Advokat Muda Muslim Indonesia, keluarga korban menuntut tanggung jawab penuh dari pihak terkait.
Mereka meminta kejelasan ganti rugi, pemulihan jangka panjang, serta pengakuan atas kondisi korban yang dinilai berbeda dengan korban lainnya.
“Anak saya mengalami trauma dan harus dipasang pen. Tapi perlakuannya disamaratakan dengan korban lain, ini yang kami tidak terima,” tegas Dewi.
Keluarga juga telah melayangkan dua kali somasi, namun hingga kini belum mendapatkan respons.
Surat ke Presiden Tak Berbalas
Sebagai upaya terakhir, keluarga mengirimkan surat kepada sejumlah pejabat negara, termasuk Prabowo Subianto, Panglima TNI, Menteri Pertahanan, hingga Komnas HAM.
Namun, menurut kuasa hukum, belum ada satu pun tanggapan dari institusi yang dituju.
“Tidak ada satu pun institusi negara yang merespons,” ujar kuasa hukum, Ali Yusuf.
Tanggapan TNI
Dari pihak militer, Komandan Hukum Resimen Banpur 2 Marinir, Mayor Ahmad Fauzi, menyatakan bahwa proses penyelidikan masih berlangsung.
Ia menegaskan bahwa belum dapat dipastikan sumber peluru berasal dari korps marinir.
Meski demikian, pihaknya mengklaim telah memberikan bantuan berupa biaya operasi, perawatan medis, serta santunan kepada keluarga korban.
“Kami telah membantu perawatan medis dan memberikan santunan. Namun sumber peluru masih dalam penyelidikan,” jelasnya. (*)
Poin Utama Berita
- Siswa SMP di Gresik jadi korban peluru nyasar saat di sekolah
- Korban alami luka fisik dan trauma psikologis
- Tangan korban belum pulih pasca operasi
- Keluarga keluarkan biaya pengobatan puluhan juta
- Somasi ke pihak terkait belum mendapat respons
- Surat ke Presiden dan pejabat negara tidak dibalas
- TNI masih menyelidiki sumber peluru
- Keluarga tuntut keadilan dan tanggung jawab penuh

















