Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
EKONOMI & BISNISNASIONALWISATA & KULINER

Strategi Baru Pariwisata RI: Wamenpar Ni Luh Puspa Perkuat Pasar Asia–Oceania Antisipasi Konflik Timur Tengah

95
×

Strategi Baru Pariwisata RI: Wamenpar Ni Luh Puspa Perkuat Pasar Asia–Oceania Antisipasi Konflik Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Pemerintah Indonesia mulai memperkuat pasar wisata dari kawasan Asia dan Oceania sebagai langkah strategis menjaga stabilitas sektor pariwisata nasional di tengah meningkatnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kebijakan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa sebagai upaya memastikan arus kunjungan wisatawan mancanegara tetap stabil, meskipun terjadi gangguan pada jalur penerbangan yang terhubung dengan wilayah Timur Tengah.

Menurutnya, penguatan pasar wisata dari Asia dan Oceania merupakan arahan langsung dari Menteri Pariwisata untuk menjaga momentum pertumbuhan pariwisata Indonesia.

“Bu Menteri Pariwisata sudah mengarahkan agar mulai melakukan pergeseran pasar dengan menguatkan yang di Asia dan Oceania. Karena tidak terdampak penerbangan dari Timur Tengah,” kata Ni Luh Puspa, Kamis (12/3/2026).

Konektivitas Penerbangan Asia Jadi Penopang

Ni Luh Puspa menjelaskan Indonesia memiliki konektivitas penerbangan yang cukup kuat dari sejumlah negara yang selama ini menjadi simpul utama jalur udara menuju Tanah Air.

Malaysia menjadi penyumbang terbesar konektivitas penerbangan menuju Indonesia dengan kontribusi sekitar 27 persen, disusul Singapura sebesar 18 persen.

Sementara itu, konektivitas dari kawasan Timur Tengah hanya berada pada kisaran 11 persen dari total jalur penerbangan internasional menuju Indonesia.

Kondisi tersebut dinilai memberikan peluang bagi pemerintah untuk melakukan substitusi pasar wisata, dengan meningkatkan promosi dan penetrasi wisata dari negara-negara di kawasan Asia dan Oceania.

Asia dan Australia Dominasi Kunjungan Wisman

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2025 masih didominasi oleh negara-negara di kawasan Asia serta Australia.

Pertumbuhan kunjungan juga tercatat cukup signifikan dari beberapa negara seperti Tiongkok, India, Korea Selatan, hingga Taiwan.

Penguatan pasar di kawasan tersebut diyakini mampu menjaga stabilitas sektor pariwisata nasional di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang.

Penguatan SDM dan Teknologi Digital Pariwisata

Selain memperluas pasar wisata, Kementerian Pariwisata juga menyiapkan strategi penguatan sumber daya manusia (SDM) di sektor pariwisata.

Langkah ini dilakukan melalui peningkatan pemahaman pelaku industri terhadap pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana promosi serta pengembangan destinasi wisata.

Menurut Ni Luh Puspa, transformasi digital menjadi salah satu kunci untuk memperkuat ekosistem pariwisata nasional agar lebih adaptif terhadap perubahan tren wisata global.

“Pemanfaatan teknologi digital diharapkan mampu memperkuat ekosistem pariwisata nasional agar lebih adaptif terhadap perubahan tren wisata global,” ujarnya.

Keramahtamahan Jadi Kekuatan Utama Pariwisata RI

Di tengah perubahan tren wisata dunia, Ni Luh Puspa menegaskan bahwa keramahtamahan masyarakat Indonesia tetap menjadi kekuatan utama dalam menarik minat wisatawan mancanegara.

Nilai keramahan tersebut dinilai mampu menciptakan pengalaman wisata yang berkesan sehingga wisatawan terdorong untuk kembali berkunjung ke Indonesia.

“Tren bisa berubah, tapi pelayanan dan keramahtamahan menjadi kunci bagi orang terus mengingat dan datang kembali,” tegasnya.

Pemerintah berharap kombinasi strategi penguatan pasar wisata, pengembangan SDM, serta pemanfaatan teknologi digital dapat memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah. (*)

Example 300250