SURABAYA | Sentrapos.co.id – Kota Surabaya kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi kreatif dan kuliner di Indonesia. Berdasarkan data terbaru dari Good Stats Indonesia, Surabaya tercatat sebagai kota dengan jumlah warung kopi (warkop) terbanyak di Indonesia, dengan lebih dari 12 ribu unit kedai kopi yang tersebar di berbagai wilayah kota.
Capaian ini menempatkan Surabaya sebagai kontributor terbesar dalam persebaran kedai kopi nasional. Dari total 461.991 kedai kopi di seluruh Indonesia, sekitar 2,7 persen berada di Surabaya, angka tertinggi dibandingkan kota maupun kabupaten lainnya.
Pertumbuhan pesat tersebut menjadi indikator kuat berkembangnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Pahlawan, khususnya pada sektor kuliner berbasis kopi.
Dorong Perputaran Ekonomi Lokal
Keberadaan ribuan kedai kopi di Surabaya tidak hanya menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah.
Rantai ekonomi yang tercipta meliputi penyerapan tenaga kerja, peningkatan permintaan bahan baku, hingga pergerakan sektor distribusi dan jasa.
Mulai dari petani kopi, produsen susu, distributor gula, hingga pelaku usaha pendukung lainnya turut merasakan dampak dari pesatnya pertumbuhan industri kopi tersebut.
Selain itu, karakter Surabaya sebagai kota metropolitan dengan mobilitas tinggi turut mendorong berkembangnya kedai kopi sebagai ruang multifungsi bagi masyarakat.
Kedai kopi kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat menikmati minuman, tetapi juga ruang bekerja, pertemuan bisnis, hingga aktivitas komunitas.
Nongkrong di Kafe Jadi Gaya Hidup Anak Muda
Fenomena menjamurnya coffee shop di Surabaya juga dipengaruhi perubahan gaya hidup masyarakat urban, khususnya kalangan muda.
Aliyah Putri Shafira (24), seorang mahasiswa di Surabaya, mengaku lebih sering menghabiskan waktu di kafe untuk mengerjakan tugas kuliah maupun pekerjaan.
“Alasannya karena gak mau bau rokok. Meskipun di kafe juga disediakan tempat untuk ngerokok, aku pilih di dalam yang ada AC biar gak kena asap rokok,” ujar Aliyah.
Menurutnya, bekerja di kafe membuatnya lebih fokus dibandingkan di rumah yang sering dipenuhi berbagai distraksi.
“Kalau di-rate mungkin 8 dari 10 ya nongkrong di kafe. Soalnya kadang kalau kerja di rumah rasanya kurang fokus,” tambahnya.
Dalam sekali kunjungan, Aliyah bahkan bisa menghabiskan waktu sekitar tiga hingga empat jam di kafe untuk menyelesaikan tugas maupun pekerjaan.
Work From Cafe Jadi Tren
Hal serupa juga dirasakan Ardini Pramitha (27), seorang jurnalis media online di Surabaya yang menjadikan kafe sebagai tempat favorit untuk bekerja.
“Karena aku butuh tempat ngopi yang adem. Kalau di kafe bisa pilih ruangan non-smoking, karena aku tidak suka asap rokok,” kata Ardini.
Ia mengaku kerap menghabiskan waktu 5 hingga 6 jam di kafe untuk menyelesaikan deadline pekerjaan setelah melakukan peliputan di lapangan.
Selain kenyamanan, fasilitas seperti toilet bersih, musala, serta area non-smoking menjadi alasan utama memilih kafe.
Warkop Tetap Jadi Favorit
Meski tren kafe modern terus berkembang, warung kopi tradisional atau warkop tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Surabaya.
Alghozali (24), seorang lulusan baru yang sedang mencari pekerjaan, mengaku lebih sering nongkrong di warkop karena harganya jauh lebih terjangkau.
“Di warkop karena ramah di kantong. Biasanya habis Rp15.000 sampai Rp20.000 untuk pesan kopi, es teh, dan jajanan ringan,” ujarnya.
Ia membandingkan, harga minuman di kafe bisa mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 hanya untuk satu menu minuman.
Ruang Interaksi Sosial
Sementara itu, Agung Fathoni (25), seorang karyawan swasta yang merantau ke Surabaya, mengaku memilih warkop karena suasana interaksi sosial yang lebih terasa.
“Karena di warkop semuanya bisa membaur. Lebih banyak interaksi langsung mengenai berita terbaru, kondisi lalu lintas, sampai kondisi ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Menurut Agung, suasana santai di warkop memungkinkan pengunjung untuk berinteraksi secara spontan dengan orang lain, meskipun datang sendirian.
Dengan perkembangan pesat industri kopi tersebut, Surabaya dinilai memiliki potensi besar untuk terus memperkuat posisinya sebagai pusat industri kopi perkotaan di Indonesia, sekaligus menjadi lokomotif pertumbuhan sektor kuliner dan UMKM di Jawa Timur. (*)




















