JAKARTA | SENTRAPOS.CO.ID – Selebgram dan kreator konten kecantikan Tasya Farasya akhirnya menyampaikan permintaan maaf setelah pernyataannya di media sosial memicu polemik luas di kalangan warganet.
Konten yang awalnya dianggap sebagai opini pribadi tersebut berkembang menjadi perdebatan publik dan menyeret nama kreator TikTok Bunga Sartika, yang dikenal melalui akun @quenzlyhere dengan sapaan khas “Halo Qaqa”.
Klarifikasi dan Permohonan Maaf
Melalui akun Threads pribadinya, Tasya mengakui situasi telah berkembang ke berbagai narasi di luar konteks awal. Ia pun menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
“Ini sudah jadi ramai dan narasinya ke mana-mana. Aku minta maaf jika dampak dari perkataan aku menyinggung berbagai pihak dan individu. Aku menyadari betapa impactful-nya ucapan aku walaupun tidak ada niatan membuat situasi sebesar sekarang,” tulis Tasya, Minggu (1/3/2026).
Ia juga mengakui gaya penyampaiannya kurang bijak dan menjadi salah satu pemicu polemik.
Tetap Tegas Soal Transparansi Endorsement
Meski meminta maaf, Tasya menegaskan tetap memegang prinsip transparansi dalam setiap ulasan produk kecantikan, termasuk dalam kerja sama endorsement.
Menurutnya, sebagai kreator konten, ia memiliki tanggung jawab menjaga integritas dan kejujuran kepada audiens.
“Aku punya respect pada sesama content creator, namun aku tetap bersikap tegas terhadap values dan transparansi dalam endorsement yang aku pegang,” ungkapnya.
Awal Mula Polemik
Polemik bermula dari unggahan Tasya yang mengaku pernah ditawari bayaran untuk membuat konten dengan format permintaan “spill skincare”. Ia menyebut menolak tawaran tersebut karena menilai konsep itu lebih menyerupai strategi pemasaran.
Meski tidak menyebut nama secara langsung, warganet menduga pernyataan tersebut mengarah pada akun @quenzlyhere yang dikenal dengan gaya interaksi “Halo Qaqa”.
Imbas dari perbincangan tersebut cukup besar. Bunga Sartika kemudian mengumumkan mundur dari akun @quenzlyhere dan turut menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi.
Pelajaran di Era Digital
Kasus ini menjadi refleksi penting tentang sensitivitas komunikasi di era digital. Pernyataan publik figur dapat berdampak luas dan memicu interpretasi beragam di ruang publik.
Di sisi lain, transparansi dan etika dalam praktik endorsement juga menjadi sorotan, seiring meningkatnya kesadaran audiens terhadap kredibilitas konten promosi di media sosial.




















