JAKARTA | Sentrapos.co.id — Kenaikan tarif tiket pesawat diperkirakan tidak akan berdampak signifikan terhadap minat masyarakat untuk berwisata. Hal ini karena mayoritas wisatawan telah merencanakan perjalanan jauh hari sebelum keberangkatan.
Wakil Ketua Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas), Harry Basuki Tjahaja Purnama, menyebut pola pembelian tiket wisata umumnya dilakukan 27 hingga 30 hari sebelum jadwal perjalanan.
“Untuk pariwisata sendiri tidak terlalu kelihatan berpengaruh. Pembelian tiket liburan kita ini jarang sekali dilakukan mepet waktu,” ujarnya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, dampak kenaikan tarif lebih terasa pada pembelian mendadak atau last minute, sementara pembelian yang direncanakan jauh hari relatif tidak terpengaruh.
Pariwisata Tetap Bergerak, Maskapai Tertekan
Kondisi ini membuat sektor pariwisata nasional tetap bergerak stabil, meski terjadi penyesuaian harga tiket akibat kenaikan biaya operasional maskapai.
Namun di sisi lain, industri penerbangan justru menghadapi tekanan cukup besar, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar avtur yang menjadi komponen utama biaya operasional.
“Penerbangan biasanya menawarkan harga lebih murah jika tiket dibeli jauh hari. Sistem penjualan dinamis juga membuat harga bervariasi,” jelasnya.
Pemerintah sendiri telah mengeluarkan kebijakan untuk menjaga keterjangkauan harga tiket, salah satunya melalui insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 11 persen.
Maskapai Sesuaikan Tarif
Salah satu maskapai nasional, Citilink Indonesia, menyatakan akan melakukan penyesuaian harga tiket seiring kenaikan harga avtur sejak 1 April 2026.
Direktur Utama Citilink, Darsito Hendroseputro, menegaskan bahwa penyesuaian dilakukan melalui komponen fuel surcharge pada tiket ekonomi domestik.
“Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan industri penerbangan, terutama di tengah lonjakan signifikan harga avtur,” ujarnya.
Ia memastikan layanan penerbangan tetap berjalan optimal dengan mempertimbangkan keseimbangan antara biaya operasional dan daya beli masyarakat.
Proyeksi Sektor Pariwisata
Dengan adanya pola pembelian tiket yang cenderung direncanakan lebih awal, sektor pariwisata diproyeksikan tetap tumbuh stabil. Sementara itu, tantangan utama justru berada pada industri maskapai dalam menjaga efisiensi operasional.
Kebijakan pemerintah melalui regulasi dan insentif diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara keberlanjutan industri penerbangan dan keterjangkauan tarif bagi masyarakat. (*)
Poin Utama Berita
- Kenaikan tiket pesawat dinilai tidak berdampak signifikan ke pariwisata
- Wisatawan umumnya membeli tiket 27–30 hari sebelum keberangkatan
- Dampak kenaikan lebih terasa pada pembelian last minute
- Pariwisata tetap stabil, maskapai justru menghadapi tekanan biaya
- Harga avtur jadi faktor utama kenaikan tarif
- Pemerintah beri insentif PPN DTP 11 persen
- Citilink sesuaikan tarif melalui fuel surcharge
- Industri penerbangan jaga keseimbangan biaya dan daya beli

















