WASHINGTON | Sentrapos.co.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah disebut para analis strategi dan hubungan internasional melakukan salah perhitungan besar dalam pendekatan kebijakan luar negeri, khususnya terkait Iran dan kawasan Timur Tengah.
Pengamat strategi perang dan hubungan internasional, John Feeley, menilai pemerintahan Trump terlalu percaya diri setelah operasi militer di Venezuela yang dinilai sukses, sehingga menganggap konflik dengan Iran akan berjalan dengan skenario serupa.
Feeley menyebut keberhasilan operasi terhadap Venezuela membuat Trump “terlena” dan salah membaca kompleksitas geopolitik di Timur Tengah, terutama dalam menghadapi Iran.
“Trump merasa gembira atas kemenangan dari Venezuela dan kemudian membuat keputusan yang salah untuk menyerang Iran. Itu meninggalkan dampak besar pada stabilitas kawasan dan ekonomi global,” ujar John Feeley.
Menurut Feeley, kesalahan kalkulasi tersebut membuat Washington menghadapi dampak yang jauh lebih luas, mulai dari eskalasi konflik regional hingga gangguan signifikan pada pasar energi dunia.
Situasi semakin rumit karena Selat Hormuz masih menjadi titik krusial dalam geopolitik global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur sempit tersebut, menjadikannya salah satu choke point paling vital di dunia.
Di sisi lain, Trump juga menyatakan optimisme bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka dalam waktu dekat meski situasi belum stabil. Namun, ia mengakui bahwa proses tersebut tidak akan mudah.
“Itu tidak akan mudah, tapi kami akan membuka itu segera,” kata Donald Trump kepada media internasional.
Namun, analis menilai pernyataan tersebut belum disertai langkah konkret yang jelas, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan sekutunya di kawasan.
Feeley juga menegaskan bahwa pendekatan militer cepat seperti yang terjadi di Venezuela tidak bisa disamakan dengan Iran yang memiliki struktur kekuatan, pengaruh regional, serta aliansi strategis yang jauh lebih kompleks.
Ia memperingatkan bahwa salah membaca situasi dapat memicu dampak lebih luas, termasuk lonjakan harga energi, gangguan perdagangan global, hingga instabilitas politik di kawasan Timur Tengah.
Hingga kini, ketegangan di kawasan masih terus berlangsung setelah serangkaian serangan balasan antara AS, Israel, dan Iran yang memperburuk kondisi keamanan regional. (*)
Poin Utama Berita
- Donald Trump disebut salah kalkulasi dalam strategi terhadap Iran
- John Feeley menilai “kemenangan Venezuela” membuat AS terlalu percaya diri
- Iran dinilai jauh lebih kompleks dibanding Venezuela secara geopolitik
- Selat Hormuz menjadi titik krisis global dengan 20% pasokan energi dunia
- Trump menyebut Selat Hormuz akan segera dibuka kembali
- Belum ada langkah konkret AS untuk meredakan ketegangan
- Konflik regional berdampak pada lonjakan harga minyak global
- Ketegangan AS–Iran–Israel masih terus berlangsung

















