INTERNASIONAL | Sentrapos.co.id – Amerika Serikat (AS) menegaskan tetap melanjutkan operasi militernya terhadap Iran meskipun jalur diplomasi dan negosiasi damai masih berlangsung.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa serangan militer akan terus dilakukan selama belum ada kesepakatan konkret yang mengikat antara kedua pihak.
“Terhadap Iran, kita akan terus melakukan apa yang telah kita lakukan,” tegas Trump dalam rapat kabinet, Kamis (26/3/2026).
Negosiasi Jalan, Serangan Tetap Berlanjut
Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, AS bersama Israel terus menggempur target-target strategis Iran. Hingga kini, situasi belum menunjukkan tanda-tanda mereda meskipun komunikasi diplomatik mulai dibuka.
Di sisi lain, AS juga memberikan tekanan tambahan kepada Iran terkait pembukaan blokade Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global.
Trump sebelumnya memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka akses Selat Hormuz dalam waktu tertentu. Namun, tenggat waktu tersebut kembali diperpanjang selama lima hari.
Ancaman Serangan Infrastruktur Energi
Jika Iran tidak memenuhi tuntutan hingga batas waktu terbaru, militer AS disebut siap melancarkan serangan ke fasilitas vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan infrastruktur energi.
Namun demikian, Trump memberi sinyal bahwa keputusan tersebut belum bersifat final dan masih mempertimbangkan perkembangan diplomasi.
“Kita punya banyak waktu. Ini hanya satu hari dalam ‘waktu Trump’. Satu hari itu seperti keabadian,” ujarnya.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa AS tidak ingin terburu-buru dalam mengambil langkah eskalasi berikutnya.
Delegasi AS Siap Lanjutkan Perundingan
Pemerintah AS juga mengirimkan delegasi tingkat tinggi untuk melanjutkan perundingan dengan Iran yang rencananya akan dimediasi oleh Pakistan.
Delegasi tersebut terdiri dari Wakil Presiden AS JD Vance, utusan khusus Timur Tengah Steve Witkoff, serta penasihat senior Jared Kushner.
“Saya belum tahu. Witkoff, JD, dan Jared akan memberi tahu saya apakah perundingan berjalan lancar atau tidak,” kata Trump.
Strategi Tekanan Ganda
Pengamat menilai langkah AS mencerminkan strategi “dual track”, yakni kombinasi tekanan militer dan jalur diplomasi secara bersamaan.
Di satu sisi, operasi militer terus berjalan untuk menekan Iran. Di sisi lain, negosiasi tetap dibuka guna mencari jalan keluar konflik.
Langkah ini juga menunjukkan bahwa AS ingin menjaga posisi tawar tetap tinggi dalam perundingan, terutama terkait isu pembukaan Selat Hormuz yang berdampak besar terhadap stabilitas energi global.
Konflik Masih Jauh dari Usai
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah negosiasi akan menghasilkan kesepakatan damai. Sementara itu, eskalasi militer masih terus berlangsung, membuat situasi di kawasan Timur Tengah semakin tidak menentu.
Kondisi ini memperbesar risiko konflik berkepanjangan yang dapat berdampak luas, tidak hanya secara geopolitik, tetapi juga terhadap ekonomi global. (*)
Poin Utama
- AS tetap melanjutkan serangan militer ke Iran
- Negosiasi damai tetap berjalan di tengah konflik
- Trump perpanjang deadline pembukaan Selat Hormuz
- Ancaman serangan ke infrastruktur energi Iran
- Delegasi AS disiapkan untuk perundingan dengan Iran
- Strategi AS dinilai gabungkan tekanan militer dan diplomasi
- Konflik Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda




















