SUKABUMI | Sentrapos.co.id — Sebuah video pembagian paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, viral di media sosial. Video tersebut menampilkan porsi makanan yang dinilai sangat minim dan memicu reaksi beragam dari warganet.
Dalam rekaman itu, seorang perempuan terlihat membagikan paket makanan kepada siswa di teras madrasah. Ia menyebutkan bahwa satu paket tersebut merupakan jatah untuk tiga hari, yakni Senin hingga Rabu.
Perempuan yang kemudian diketahui bernama Siti Mardiah itu memperlihatkan satu potong tempe goreng dalam plastik kecil dan meminta siswa membaginya untuk tiga hari.
“Tempenya ada satu. Ini satu ini harus cukup untuk tiga hari ya,” ucapnya dalam video.
Selain tempe, terdapat satu cup kecil abon yang diminta untuk dikonsumsi sedikit demi sedikit agar bertahan selama tiga hari, serta tiga butir telur untuk jatah satu butir per hari. Sementara itu, satu buah jeruk juga diminta dibagi menjadi tiga bagian.
Guru Akui Video Bentuk Sindiran
Saat dikonfirmasi, Siti Mardiah mengakui bahwa video tersebut merupakan bentuk satire atau sindiran terhadap kualitas program yang diterima di lapangan.
Ia mengaku instruksi pembagian untuk tiga hari itu berdasarkan informasi dari sopir pengantar paket makanan.
“Kata sopirnya tadi, itu untuk tiga hari Senin, Selasa, dan Rabu. Itu untuk kelas 1, 2, dan 3,” tuturnya.
Menurut Siti, porsi makanan yang diterima siswa dinilai tidak mencukupi standar kecukupan gizi. Ia juga mempertanyakan kesesuaian antara anggaran program dengan realisasi menu yang diterima murid.
“Secara tidak langsung saya mengatakan bahwa itu tidak layak, tidak ada gizinya. Membayar ahli gizi, tetapi makanannya tidak bergizi,” ujarnya.
Ia menyinggung informasi anggaran sekitar Rp8.000 per anak per hari untuk kelas bawah. Namun, menurutnya, jika melihat porsi yang diterima, nilai tersebut tidak sebanding.
Sorotan Publik dan Evaluasi Program
Siti menyebut keluhan terkait porsi makanan sudah sering disampaikan orang tua murid. Bahkan, guru di madrasah tersebut menerima paket makanan dengan menu yang sama seperti siswa.
Hingga kini, video tersebut terus menjadi perbincangan publik dan dinilai sebagai bentuk pengawasan masyarakat terhadap implementasi kebijakan di tingkat akar rumput.
Pemerintah daerah maupun pihak terkait diharapkan melakukan evaluasi menyeluruh guna memastikan program MBG berjalan sesuai standar gizi, transparan dalam pengelolaan anggaran, serta benar-benar memberikan manfaat optimal bagi peserta didik. (*)




















