Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Viral ODGJ Dipasung 20 Tahun di Ponorogo, Keluarga Mengaku Demi Keselamatan

28
×

Viral ODGJ Dipasung 20 Tahun di Ponorogo, Keluarga Mengaku Demi Keselamatan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PONOROGO | Sentrapos.co.id — Kasus pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) kembali mencuat ke publik. Seorang pria bernama Kirno (60), warga Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, diketahui telah mengalami pemasungan selama sekitar 20 tahun oleh keluarganya. Peristiwa ini menjadi perhatian luas setelah videonya viral di media sosial.

Lamanya pemasungan membuat kondisi Kirno tampak memprihatinkan. Ia terlihat meringkuk di dalam kurungan besi berukuran kurang dari satu meter, yang digunakan keluarga untuk membatasi pergerakannya.

Ketua RT setempat yang juga merupakan kerabat Kirno, Dian, mengungkapkan bahwa pemasungan tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Menurutnya, Kirno sempat menunjukkan perilaku yang membahayakan keselamatan anggota keluarga.

“Awalnya itu mau membunuh bapak saya, adik iparnya Pak Kirno sendiri. Kurungan dibuat karena membahayakan keluarga, terutama bapak saya dan anggota keluarga lainnya,” ujar Dian, Rabu (28/1/2026).

Dian menjelaskan, Kirno mulai dikurung sejak tahun 2006 atau sekitar dua dekade lalu, karena perilakunya semakin sulit dikendalikan.

“Kurang lebih 20 tahun, sejak 2006 sampai sekarang,” jelasnya.

Ia menuturkan bahwa Kirno memiliki tenaga yang kuat dan sering mengamuk jika dilepas. Bahkan, jeruji besi yang dipasang sempat dirusak oleh Kirno saat kondisinya tidak stabil.

“Besi saja bisa sampai patah. Kalau dilepas di ruangan biasa, bisa keluar, mengamuk, dan mengancam keluarga,” ungkap Dian.

Meski dipasung, keluarga mengklaim tetap memenuhi kebutuhan dasar Kirno, seperti makan dan minum, secara rutin setiap hari.

“Makannya tetap diantar, bisa tiga sampai empat kali sehari. Minum dan ngopi juga. Semua aktivitasnya di dalam kurungan,” katanya.

Dian menegaskan bahwa keluarga bukan tanpa upaya untuk mengobati Kirno. Berbagai pengobatan telah dicoba, baik secara medis maupun alternatif, namun belum membuahkan hasil.

“Pengobatan medis dari puskesmas sudah diberikan, tapi beliau tidak mau minum obat. Pengobatan alternatif juga sudah banyak dicoba, tapi tidak ada hasil,” ujarnya.

Meski mengalami gangguan kejiwaan, kondisi fisik Kirno disebut masih sehat. Hal tersebut berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh Puskesmas Kecamatan Sawoo.

“Kalau secara fisik, hasil pemeriksaan puskesmas menyatakan kondisinya normal dan sehat,” tambah Dian.

Kasus ini kembali membuka perhatian publik terhadap praktik pemasungan ODGJ yang masih terjadi di sejumlah daerah, serta pentingnya akses layanan kesehatan jiwa, pendampingan keluarga, dan peran negara dalam menangani persoalan kesehatan mental secara manusiawi. (*)