JAKARTA | Sentrapos.co.id — Sebuah video yang memperlihatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah bersantai di sebuah kedai kopi viral di media sosial. Namun, video tersebut diduga kuat merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Konten kreator asal Amerika Serikat, Ryan Matta, mengungkap sejumlah kejanggalan dalam video tersebut setelah melakukan analisis menggunakan aplikasi editor visual.
“Ada beberapa detail yang tidak masuk akal, salah satunya pergerakan cairan kopi yang tidak tumpah meski gelas terlihat penuh,” ujar Matta, Selasa (17/3/2026).
Kejanggalan Visual Terungkap
Dalam analisisnya, Matta menemukan beberapa indikasi video tersebut tidak autentik, di antaranya:
-
Pergerakan cairan kopi terlihat tidak realistis dan tidak tumpah
-
Desain gelas yang semula buram tiba-tiba menjadi jelas
-
Perubahan posisi tubuh Netanyahu terjadi secara tiba-tiba (jump frame) tanpa transisi alami
“Tidak ada pergerakan yang halus, ini tidak natural seperti video asli,” tegasnya.
Kejanggalan tersebut memperkuat dugaan bahwa video tersebut dibuat menggunakan teknologi AI atau deepfake.
Konteks Situasi Jadi Sorotan
Selain aspek teknis, keberadaan Netanyahu dalam video tersebut juga dipertanyakan, mengingat situasi geopolitik yang tengah memanas.
“Terdengar aneh seorang pemimpin negara berada di kedai kopi di tengah situasi konflik,” kata Matta.
Hal ini semakin memperkuat kecurigaan publik bahwa video tersebut tidak mencerminkan kondisi nyata.
Video Kedua Kembali Tuai Sorotan
Tak lama setelah video pertama viral, beredar pula video lain yang menunjukkan Netanyahu menyapa sejumlah orang di lokasi berbeda.
Namun, video kedua itu juga menuai keraguan dari warganet. Salah satu detail yang disorot adalah cincin di jari Netanyahu yang tiba-tiba menghilang di tengah rekaman.
Waspada Konten AI dan Disinformasi
Fenomena ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih kritis dalam menyikapi konten digital, terutama yang berkaitan dengan tokoh publik dan isu sensitif.
Penggunaan teknologi AI yang semakin canggih berpotensi dimanfaatkan untuk menyebarkan disinformasi jika tidak diimbangi dengan literasi digital yang baik.
“Publik harus lebih jeli melihat detail visual dan tidak langsung mempercayai video yang viral,” imbau pengamat.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan di satu sisi memberikan kemudahan, namun di sisi lain juga menuntut kewaspadaan tinggi agar tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan. (*)




















