Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
GAYA HIDUP & KOMUNITASPENDIDIKAN & KESEHATANWISATA & KULINER

Waspada! 6 Kemasan Takjil Berisiko bagi Kesehatan Saat Ramadan

67
×

Waspada! 6 Kemasan Takjil Berisiko bagi Kesehatan Saat Ramadan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | SENTRAPOS.CO.ID – Berburu takjil menjadi tradisi yang paling dinantikan saat Ramadan. Menjelang waktu berbuka, masyarakat berbondong-bondong membeli aneka makanan dan minuman manis seperti es buah, kolak, hingga gorengan.

Namun di balik kelezatan takjil, ada aspek penting yang kerap luput dari perhatian, yakni keamanan kemasan makanan. Tidak semua wadah aman, terutama jika digunakan untuk makanan atau minuman panas.

Berikut enam jenis pembungkus takjil yang perlu diwaspadai demi menjaga kesehatan selama Ramadan.


1. Plastik Kiloan

Plastik kiloan masih sering digunakan untuk membungkus gorengan atau makanan berkuah panas. Padahal, plastik tertentu mengandung bahan kimia seperti BPA dan ftalat.

Saat bersentuhan dengan makanan panas atau berminyak, zat kimia tersebut berpotensi berpindah ke makanan. Paparan jangka panjang dapat berdampak pada gangguan kesehatan, terutama sistem hormon.


2. Kresek Hitam Daur Ulang

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut sebagian besar kantong plastik kresek hitam berasal dari bahan daur ulang.

Bahan bakunya bisa berasal dari limbah produk nonpangan, bahkan tercemar bahan kimia atau kotoran. Saat digunakan untuk makanan panas, risiko migrasi zat berbahaya semakin meningkat.

BPOM mengimbau masyarakat tidak menggunakan plastik kresek daur ulang untuk membungkus makanan siap santap atau bahan pangan mentah.


3. Kertas Bekas (Koran/Majalah)

Penggunaan koran atau majalah sebagai pembungkus gorengan masih ditemukan di sejumlah tempat. Padahal, tinta cetak pada kertas tersebut dapat mengandung timbal (Pb).

Jika bersentuhan dengan makanan panas dan berminyak, timbal berpotensi berpindah ke makanan. Paparan timbal dalam jangka panjang berisiko mengganggu sistem saraf dan organ tubuh.


4. Gelas Kertas Berlapis Plastik

Gelas kertas untuk minuman panas kerap dianggap lebih aman. Namun, sebagian besar gelas jenis ini dilapisi film plastik tipis agar tidak bocor.

Saat terkena cairan panas, lapisan tersebut berpotensi melepaskan partikel mikroplastik yang ikut tertelan. Paparan mikroplastik dalam jangka panjang masih menjadi perhatian dalam studi kesehatan global.


5. Gelas Plastik Sekali Pakai

Gelas plastik sekali pakai tidak dirancang untuk menampung cairan bersuhu tinggi. Paparan panas dapat memicu pelepasan partikel plastik berukuran sangat kecil (nanoplastik) dan senyawa kimia seperti BPA.

BPA dikenal dapat mengganggu keseimbangan hormon jika terpapar terus-menerus.


6. Styrofoam

Kemasan styrofoam berpotensi melepaskan senyawa kimia seperti styrene ketika digunakan untuk makanan panas. Zat tersebut dapat berpindah ke makanan dan masuk ke tubuh.

Paparan jangka panjang dikaitkan dengan risiko gangguan sistem saraf serta efek kesehatan lainnya. Karena itu, penggunaan styrofoam untuk makanan panas sebaiknya dihindari.


Pilih Kemasan Lebih Aman

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan memilih kemasan bertanda “food grade” (simbol gelas dan garpu) serta berbahan relatif lebih aman seperti HDPE, LDPE, PET, atau PP.

Alternatif yang lebih bijak adalah membawa wadah makan dan minum pribadi yang tahan panas dan dapat digunakan berulang kali. Selain mengurangi potensi paparan zat berbahaya, langkah ini juga membantu mengurangi sampah plastik sekali pakai.

Kesadaran memilih kemasan aman menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan selama Ramadan, agar ibadah puasa tetap lancar dan tubuh tetap terjaga. (*)