CUPERTINO | Sentrapos.co.id — Kabar buruk bagi para pencinta produk Apple di seluruh dunia. Raksasa teknologi asal Cupertino, Amerika Serikat, telah memberikan sinyal kuat bahwa lini produk terbarunya akan mengalami lonjakan harga yang signifikan. Krisis pasokan komponen RAM dan memori penyimpanan (storage) yang terus berlanjut secara global menjadi biang kerok utama di balik kebijakan tidak populer ini.
Lini flagship teranyar, iPhone 18 Pro, yang dijadwalkan meluncur pada paruh kedua tahun ini diprediksi kuat menjadi produk pertama yang akan terdampak penyesuaian harga tersebut.
Dalam wawancara eksklusif bersama Wall Street Journal, CEO Apple Tim Cook memang tidak merinci secara eksplisit produk apa saja yang harganya bakal meroket. Namun, mengingat jendela peluncuran generasi iPhone terbaru yang sudah di depan mata, para analis meyakini kenaikan harga ini akan langsung diterapkan pada iPhone 18 Series.
Analisis Finansial: Kenaikan Harga Hingga USD 300
Berdasarkan analisis internal Wall Street Journal bersama firma riset teknologi terkemuka TechInsights, mereka mencoba menyusun estimasi harga ritel untuk iPhone 18 Pro. Hasilnya cukup mengejutkan bagi kantong konsumen.
“iPhone 18 Pro kemungkinan besar akan meluncur dengan harga mulai dari USD 1.299 (sekitar Rp23,2 jutaan), namun analisis mendalam menunjukkan harga tersebut bisa melonjak hingga USD 1.399 (setara Rp24,9 jutaan) untuk varian standar,” tulis laporan finansial tersebut yang dikutip Jumat (19/6/2026).
Estimasi angka ini menandakan adanya lonjakan harga sebesar USD 200 hingga USD 300 (sekitar Rp3,5 juta – Rp5,3 juta) jika dibandingkan dengan harga peluncuran iPhone 17 Pro tahun lalu. Tentu saja, untuk varian kapasitas penyimpanan yang lebih besar, serta model ultra-premium seperti iPhone 18 Pro Max, banderol harganya dipastikan akan jauh lebih melambung tinggi.
Demi Mengamankan Margin Keuntungan Korporasi
Langkah Apple menaikkan harga ini dinilai realistis demi mempertahankan margin laba kotor korporasi. Data dari TechInsights membongkar bahwa iPhone 17 Pro yang dijual seharga USD 1.099 memiliki margin keuntungan kotor sebesar 47% bagi Apple.
Agar margin keuntungan tersebut tidak tergerus oleh mahalnya harga RAM dan memori baru, Apple secara matematis harus menjual iPhone 18 Pro minimal di angka USD 1.371. Guna menyiasati psikologi pasar yang menyukai angka standar, pilihan harga kemungkinan jatuh pada USD 1.399 atau lebih tinggi.
“Perhitungan ini bahkan belum memasukkan biaya pemutakhiran (upgrade) sensor sistem kamera baru pada iPhone 18 Pro yang ongkos produksinya diprediksi 50% lebih mahal dari generasi sebelumnya. Oleh karena itu, opsi harga dasar USD 1.399 adalah angka paling rasional bagi Apple,” demikian laporan yang dilansir dari 9to5Mac.
Dampak Pada Lini Lipat “iPhone Ultra”
Jika skenario harga dasar iPhone 18 Pro menyentuh angka USD 1.399, maka otomatis harga iPhone 18 Pro Max akan terkerek naik USD 100 lebih mahal demi menjaga selisih segmentasi pasar seperti tahun-tahun sebelumnya.
Di sisi lain, lonjakan harga lini Pro ini secara tidak langsung membuat prediksi harga ponsel layar lipat pertama Apple—yang santer dirumorkan mengusung nama “iPhone Ultra”—seharga USD 2.000 (sekitar Rp35,7 jutaan) menjadi terasa masuk akal dan tidak terlalu mengejutkan lagi bagi pasar kelas atas.
Kepastian mengenai kebenaran kalkulasi harga ini akan segera terungkap dalam hitungan bulan. Apple dijadwalkan bakal memperkenalkan seluruh lini iPhone 18 Series bersama sang perangkat lipat misterius, iPhone Ultra, dalam panggung Apple Event pada September mendatang. (*)
Poin Utama Berita
-
Sinyal Kenaikan Harga: CEO Apple Tim Cook mengisyaratkan kenaikan harga perangkat imbas kelangkaan serta krisis komponen RAM dan storage dunia.
-
Prediksi Harga iPhone 18 Pro: Analis memproeksikan harga iPhone 18 Pro meroket ke angka USD 1.299 hingga USD 1.399 (berkisar Rp23,2 juta – Rp24,9 juta).
-
Faktor Biaya Kamera: Selain memori, pembengkakan ongkos produksi juga dipicu oleh upgrade sistem kamera baru yang biayanya 50% lebih mahal.
-
Strategi Margin Laba: Apple terpaksa menaikkan harga jual demi mempertahankan standar margin laba kotor perusahaan yang berada di kisaran 44% – 47%.
-
Dampak ke iPhone Ultra: Lonjakan harga seri Pro membuat estimasi harga iPhone layar lipat pertama (iPhone Ultra) senilai USD 2.000 menjadi terlihat wajar.











