Media Asing Kompak Soroti Pelemahan Rupiah, BI Dinilai Hadapi Tekanan Berat di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia
JAKARTA | Sentrapos.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencatatkan sejarah kelam setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda tersebut tidak hanya menjadi perhatian pelaku pasar domestik, tetapi juga mendapat sorotan luas dari media internasional seperti AFP, Bloomberg, hingga The Straits Times.
Rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp18.029 per dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang dengan tekanan terbesar di kawasan Asia sepanjang tahun 2026.
Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran, disebut sebagai salah satu faktor utama yang memperparah tekanan terhadap perekonomian Indonesia yang masih berstatus sebagai negara pengimpor bersih minyak (net importer).
AFP: Intervensi BI Belum Mampu Membalikkan Tren Pelemahan Rupiah
Kantor berita AFP menyoroti bahwa pelemahan rupiah terjadi meskipun Bank Indonesia telah berulang kali melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Menurut AFP, kenaikan harga minyak mentah global telah meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi, sementara surplus perdagangan Indonesia mengalami penyusutan tajam.
“Pasokan dolar dari perdagangan menipis, sementara kebutuhan dolar untuk impor energi, bahan baku, pembayaran dividen, utang luar negeri, dan kebutuhan musiman tetap tinggi. Inilah mengapa peningkatan suku bunga BI dan intervensi belum cukup membalikkan depresiasi rupiah,” ujar Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede.
AFP juga menyoroti penurunan surplus perdagangan Indonesia dari 3,3 miliar dolar AS menjadi hanya sekitar 89 juta dolar AS pada April 2026, yang semakin mempersempit pasokan devisa negara.
Bloomberg: Rupiah Jadi Mata Uang Berkinerja Terburuk di Pasar Berkembang
Media ekonomi Bloomberg menilai rupiah saat ini menjadi mata uang dengan performa terburuk di antara negara-negara berkembang yang mereka pantau.
Sepanjang 2026, rupiah dilaporkan telah mengalami depresiasi sekitar 7 persen terhadap dolar AS.
Bloomberg menyebut kombinasi kenaikan harga minyak Brent, penurunan cadangan devisa, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia menjadi pemicu utama tekanan pasar.
“Investor tetap berhati-hati di tengah kekhawatiran mengenai arah fiskal Indonesia, potensi penurunan peringkat kredit, serta pelemahan rupiah yang berlanjut,” kata Mohit Mirpuri dari SGMC Capital Pte.
Bloomberg juga mengutip sejumlah analis yang menilai pasar saat ini mulai melihat risiko Indonesia sebagai persoalan domestik yang spesifik, bukan lagi sekadar dampak sentimen global terhadap negara berkembang.
Kepala Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menegaskan bahwa kondisi saat ini menunjukkan adanya pergeseran persepsi investor terhadap Indonesia.
“Ini bukan lagi cerita tentang aksi jual pasar berkembang secara luas. Ini sudah menjadi cerita mengenai risiko spesifik Indonesia,” tegas Liza.
The Straits Times: BI Diperkirakan Akan Ambil Langkah Lebih Agresif
Media Singapura The Straits Times melaporkan rupiah sempat jatuh hingga Rp18.029,5 per dolar AS dan mencetak rekor terendah baru terhadap dolar Singapura.
Kondisi tersebut memicu spekulasi bahwa Bank Indonesia akan dipaksa mengambil langkah yang lebih agresif guna menahan arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik.
Parisha Saimbi dari BNP Paribas menilai level Rp18.000 merupakan batas psikologis yang sangat penting bagi pelaku pasar.
“Bank Indonesia kemungkinan akan terus melakukan intervensi untuk menahan laju depresiasi rupiah dan menjaga kepercayaan pasar,” ujar Parisha Saimbi.
Sementara itu, Ahli Strategi Valuta Asing MUFG, Lloyd Chan, memperkirakan Bank Indonesia berpotensi kembali menaikkan suku bunga acuan.
“Stabilitas rupiah merupakan mandat utama BI. Dengan tren pelemahan saat ini, peluang kenaikan suku bunga pada bulan Juni semakin besar,” kata Lloyd Chan.
Ancaman Terhadap Ekonomi Nasional
Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga barang impor, biaya energi, bahan baku industri, hingga daya beli masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Meski Bank Indonesia menegaskan akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, pelaku pasar menilai efektivitas langkah tersebut akan sangat bergantung pada kondisi cadangan devisa serta perkembangan situasi geopolitik internasional dalam beberapa bulan ke depan. (*)
Poin Utama Berita
- Rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
- AFP, Bloomberg, dan The Straits Times menyoroti pelemahan rupiah.
- Harga minyak dunia akibat konflik Iran disebut menjadi faktor utama tekanan.
- Surplus perdagangan Indonesia menyusut drastis.
- Bloomberg menyebut rupiah sebagai mata uang terburuk di pasar berkembang tahun 2026.
- Investor khawatir terhadap kondisi fiskal dan potensi penurunan peringkat kredit Indonesia.
- Bank Indonesia diperkirakan akan meningkatkan intervensi dan berpotensi menaikkan suku bunga.
- Pelemahan rupiah berpotensi berdampak pada harga kebutuhan pokok, energi, dan daya beli masyarakat.

















