Usai Menguat Tajam Sehari Sebelumnya, Rupiah Kembali Tertekan oleh Penguatan Dolar AS, Isu Selat Hormuz, dan Kebutuhan Valas Musiman
JAKARTA | Sentrapos.co.id – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Setelah mencatat penguatan signifikan pada awal pekan, mata uang Garuda berbalik melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya ketidakpastian global dan menguatnya indeks dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 78 poin atau 0,44 persen ke posisi Rp17.883 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi sehari setelah rupiah secara mengejutkan menguat 76 poin atau 0,43 persen ke level Rp17.805 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar keuangan masih dibayangi sentimen global yang sangat fluktuatif, terutama terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat.
Dolar AS Menguat, Rupiah Kembali Tertekan
Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh menguatnya dolar AS setelah muncul perkembangan terbaru terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Menurutnya, pasar merespons negatif pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan Amerika Serikat, yang memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Selain itu, rencana Iran untuk menutup Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia, turut meningkatkan kekhawatiran investor global.
“Risiko pelemahan rupiah dipicu penguatan dolar AS setelah respons pasar terhadap perkembangan hubungan Iran dan Amerika Serikat. Ditambah lagi adanya wacana penutupan Selat Hormuz yang meningkatkan ketidakpastian global,” ujar Lukman Leong.
Tidak hanya faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga didukung oleh data manufaktur Amerika Serikat yang tercatat lebih baik dari perkiraan pasar.
Kondisi tersebut membuat investor kembali memburu aset-aset berbasis dolar sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Rupiah Masih Dibayangi Tekanan Eksternal
Sementara itu, Analis Pasar Uang Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menilai pelemahan rupiah mencerminkan tingginya ketidakpastian eksternal yang masih membayangi pasar keuangan Indonesia.
Data menunjukkan sepanjang Mei 2026 rupiah telah mengalami depresiasi sekitar 3,1 persen, meskipun indeks dolar AS sempat bergerak turun ke kisaran level 99.
Menurut Jessica, kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor domestik dan kebutuhan valuta asing musiman masih memengaruhi pergerakan nilai tukar.
“Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi tingginya ketidakpastian eksternal, ditambah kebutuhan valas musiman seperti repatriasi dividen dan kebutuhan penyelenggaraan ibadah haji,” jelas Jessica Tasijawa.
Kebutuhan valuta asing yang meningkat menjelang musim pembayaran dividen dan aktivitas haji membuat permintaan dolar AS relatif tinggi di pasar domestik.
Bank Indonesia Terus Lakukan Stabilisasi
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan, Bank Indonesia (BI) terus melakukan berbagai langkah intervensi dan stabilisasi, termasuk melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Saat ini, imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara tenor dua tahun tercatat naik ke level 6,7 persen, sementara yield tenor 10 tahun bertahan di kisaran 6,72 persen.
Kondisi tersebut membuat kurva imbal hasil semakin datar dan memperkuat ekspektasi bahwa Bank Indonesia akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu yang lebih lama.
“Bank Indonesia diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga di level 5,25 persen hingga akhir 2026 untuk menjaga daya tarik investasi dan mendukung aliran modal masuk,” kata Jessica.
Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Harapan Penguatan Rupiah Muncul pada Semester II 2026
Meski saat ini masih menghadapi tekanan, sejumlah analis melihat peluang penguatan rupiah pada paruh kedua tahun 2026.
Harapan tersebut muncul seiring potensi meredanya tekanan musiman, stabilisasi kondisi global, serta implementasi kebijakan baru terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).
Aturan baru tersebut diharapkan mampu meningkatkan likuiditas dolar AS di dalam negeri sehingga memperkuat cadangan devisa dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Dengan kombinasi kebijakan moneter yang hati-hati dan dukungan likuiditas valas domestik, prospek rupiah diperkirakan akan lebih stabil pada semester kedua tahun ini meski risiko global masih perlu diwaspadai.
Berdasarkan proyeksi analis, pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS. (*)
Poin Utama Berita
- Rupiah dibuka melemah 78 poin atau 0,44 persen ke level Rp17.883 per dolar AS.
- Pelemahan terjadi setelah sehari sebelumnya rupiah menguat signifikan 76 poin.
- Penguatan dolar AS dipicu ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.
- Rencana penutupan Selat Hormuz menambah kekhawatiran pasar global.
- Data manufaktur AS yang lebih kuat dari perkiraan turut menopang penguatan dolar.
- Rupiah telah terdepresiasi sekitar 3,1 persen sepanjang Mei 2026.
- Bank Indonesia diperkirakan mempertahankan suku bunga 5,25 persen hingga akhir 2026.
- Implementasi aturan DHE SDA berpotensi memperkuat likuiditas valas dan menopang rupiah pada semester II 2026.

















