Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
EKONOMI & BISNISNASIONALPERISTIWA

Teddy Beberkan Hasil Diplomasi Prabowo: Investasi Rp2.430 Triliun Masuk ke Indonesia, Bantah Kunjungan Luar Negeri Sekadar Seremonial

45
×

Teddy Beberkan Hasil Diplomasi Prabowo: Investasi Rp2.430 Triliun Masuk ke Indonesia, Bantah Kunjungan Luar Negeri Sekadar Seremonial

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Seskab Tegaskan Lawatan Presiden Prabowo Berbuah Investasi, Keanggotaan BRICS hingga Kesepakatan Tarif Nol Persen dengan Uni Eropa

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya membeberkan sejumlah capaian strategis hasil diplomasi Presiden Prabowo Subianto selama sekitar 1,5 tahun masa pemerintahannya. Salah satu hasil yang paling menonjol adalah komitmen investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp2.430 triliun.

Pernyataan tersebut disampaikan Teddy sebagai respons terhadap kritik yang dilontarkan mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal terkait frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo yang dinilai terlalu sering.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Menurut Teddy, anggapan bahwa lawatan Presiden hanya bersifat seremonial tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Ia menegaskan bahwa diplomasi yang dilakukan kepala negara telah menghasilkan manfaat nyata bagi kepentingan nasional Indonesia.

“Bicara diplomasi berarti bicara hasil dan manfaat nyata bagi bangsa. Jangan mengaburkan fakta dari mereka yang sedang bekerja membawa kepentingan Indonesia di panggung dunia,” ujar Teddy.

Investasi Rp2.430 Triliun Jadi Bukti Nyata Diplomasi

Teddy mengungkapkan bahwa berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, total investasi yang masuk ke Indonesia dalam kurun waktu sekitar 1,5 tahun mencapai sekitar Rp2.430 triliun.

Ia menyebut salah satu contoh konkret adalah kunjungan Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan pada bulan lalu yang menghasilkan komitmen investasi baru senilai sekitar Rp575 triliun.

“Bulan lalu Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea. Setelah kembali, langsung ada komitmen investasi sekitar Rp575 triliun,” ungkap Teddy.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa diplomasi internasional bukan sekadar agenda protokoler, melainkan instrumen penting untuk menarik investasi, membuka pasar, dan memperkuat posisi Indonesia di dunia.

Indonesia Masuk BRICS dan Raih Kesepakatan Dagang Uni Eropa

Selain investasi, Teddy juga menyoroti keberhasilan Indonesia bergabung dengan BRICS, kelompok ekonomi yang beranggotakan negara-negara besar seperti Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Pemerintah menilai keanggotaan tersebut penting untuk memperkuat ketahanan energi, pangan, dan posisi ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Capaian lainnya adalah terwujudnya kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa yang memungkinkan berbagai produk Indonesia memperoleh akses pasar dengan tarif impor yang jauh lebih kompetitif, termasuk skema tarif nol persen pada sejumlah sektor tertentu.

“Perjanjian yang telah diurus selama belasan tahun akhirnya tercapai pada masa pemerintahan Presiden Prabowo,” kata Teddy.

Diplomasi Dinilai Penting di Tengah Krisis Global

Teddy menegaskan bahwa Presiden Prabowo mulai memimpin Indonesia pada saat kondisi dunia sedang menghadapi berbagai konflik dan ketidakpastian geopolitik.

Mulai dari konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga dinamika ekonomi global yang terus berubah menjadi alasan penting bagi Indonesia untuk memperkuat hubungan dengan berbagai negara sahabat.

Menurutnya, hubungan antarnegara tidak dapat dibangun secara instan ketika krisis terjadi, melainkan membutuhkan kedekatan dan komunikasi yang terjalin jauh sebelumnya.

“Kita tidak bisa hanya meminta bantuan saat krisis. Hubungan baik harus dibangun sejak awal. Itulah esensi diplomasi antar pemimpin dunia,” tegas Teddy.

Pemerintah Klaim Diplomasi Berorientasi Hasil

Pemerintah menegaskan bahwa seluruh agenda kunjungan luar negeri Presiden Prabowo dilakukan dengan orientasi hasil dan kepentingan nasional.

Selain investasi dan perdagangan, diplomasi juga disebut berkontribusi terhadap penguatan kerja sama pertahanan, dukungan internasional terhadap isu Palestina, penyelenggaraan ibadah haji, hingga perlindungan warga negara Indonesia di luar negeri.

Dengan berbagai capaian tersebut, pemerintah berharap publik dapat menilai kebijakan diplomasi luar negeri berdasarkan hasil konkret yang dirasakan bangsa, bukan semata dari frekuensi perjalanan yang dilakukan Presiden. (*)

Poin Utama Berita

  • Seskab Teddy Indra Wijaya membantah kunjungan luar negeri Presiden Prabowo hanya bersifat seremonial.
  • Pemerintah mengklaim diplomasi Prabowo menghasilkan komitmen investasi sekitar Rp2.430 triliun dalam 1,5 tahun.
  • Kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan disebut menghasilkan investasi sekitar Rp575 triliun.
  • Indonesia berhasil masuk BRICS di tengah dinamika geopolitik global.
  • Kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa menjadi salah satu capaian diplomasi pemerintah.
  • Teddy menilai diplomasi aktif penting untuk menjaga kepentingan nasional Indonesia.
  • Kritik Dino Patti Djalal dijawab dengan memaparkan hasil konkret diplomasi pemerintahan Prabowo.