Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
BIROKRASIEKONOMI & BISNISNASIONALPERISTIWA

BI Ungkap Penyebab Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Konflik AS-Iran dan Lonjakan Permintaan Valas Jadi Pemicu Utama

21
×

BI Ungkap Penyebab Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Konflik AS-Iran dan Lonjakan Permintaan Valas Jadi Pemicu Utama

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Bank Indonesia Perkuat Intervensi Pasar dan Dorong Transaksi Mata Uang Lokal untuk Redam Tekanan Rupiah

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Bank Indonesia (BI) akhirnya buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Otoritas moneter menilai tekanan terhadap mata uang Garuda saat ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik yang terjadi secara bersamaan.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyebut meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Konflik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global.

“Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek perdamaian,” ujar Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, Kamis (4/6/2026).

Menurut BI, kondisi tersebut memicu meningkatnya risiko inflasi global dan mendorong investor melakukan aksi pengalihan dana ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Permintaan Dolar Meningkat, Rupiah Kian Tertekan

Selain faktor global, Bank Indonesia juga mengungkap adanya tekanan dari dalam negeri akibat meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas).

Permintaan dolar AS mengalami kenaikan seiring masuknya periode repatriasi dividen perusahaan serta pembayaran utang luar negeri (ULN) korporasi yang jatuh tempo.

Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan dolar di pasar domestik meningkat secara signifikan dan memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Meski demikian, BI menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam koridor yang sejalan dengan dinamika mata uang negara-negara lain di kawasan Asia.

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa secara year to date (YTD), rupiah telah melemah sekitar 7,44 persen terhadap dolar AS.

BI Tingkatkan Intervensi untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan moneter.

Intervensi dilakukan secara berkelanjutan baik di pasar domestik maupun pasar internasional guna memastikan pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi nasional.

“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya,” tegas Destry.

Langkah intervensi tersebut dilakukan melalui berbagai instrumen, antara lain transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, koordinasi dengan pelaku pasar dan korporasi juga terus diperkuat guna menjaga stabilitas sektor keuangan nasional.

BI Gencarkan Transaksi Mata Uang Lokal

Di tengah dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional, Bank Indonesia juga terus memperluas penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Program tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menekan risiko fluktuasi nilai tukar.

Saat ini Indonesia telah menjalin kerja sama transaksi mata uang lokal dengan sejumlah negara mitra strategis, di antaranya China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Destry mengungkapkan nilai transaksi LCT menunjukkan tren yang terus meningkat.

“Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT terus mengalami peningkatan. Pada April 2026 nilainya mencapai sekitar 22,7 miliar dolar AS, mendekati total transaksi sepanjang tahun lalu yang sebesar 25,7 miliar dolar AS,” jelasnya.

Cadangan Devisa Masih Kuat

Di tengah tekanan terhadap rupiah, BI memastikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat.

Cadangan devisa Indonesia hingga akhir April 2026 tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS, yang dinilai cukup untuk mendukung kebutuhan stabilisasi nilai tukar serta menjaga ketahanan sektor eksternal nasional.

Cadangan devisa tersebut juga menjadi salah satu bantalan utama bagi Bank Indonesia dalam menghadapi gejolak pasar keuangan global yang dipicu konflik geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia.

Dengan berbagai instrumen yang telah disiapkan, BI optimistis stabilitas nilai tukar rupiah tetap dapat dijaga meskipun tekanan eksternal masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. (*)


Poin Utama Berita

  • Bank Indonesia mengungkap penyebab rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS.
  • Konflik geopolitik AS-Iran disebut menjadi faktor utama pelemahan rupiah.
  • Lonjakan harga minyak dunia meningkatkan risiko inflasi global.
  • Permintaan dolar AS di dalam negeri naik akibat repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.
  • Rupiah tercatat melemah 7,44 persen secara year to date (YTD).
  • BI meningkatkan intervensi melalui NDF, DNDF, transaksi spot, dan pembelian SBN.
  • Program Local Currency Transaction (LCT) terus diperluas untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
  • Cadangan devisa Indonesia masih kuat di level 146,2 miliar dolar AS.