JAKARTA | Sentrapos.co.id – Industri smartphone global mulai merasakan dampak serius dari krisis memori yang terjadi sejak akhir 2025. Laporan terbaru dari Counterpoint Research mencatat, pasar smartphone global pada kuartal I-2026 mengalami penurunan sebesar 6 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Penurunan ini tidak hanya dipicu oleh kelangkaan komponen RAM, tetapi juga lemahnya permintaan pasar di tengah ketidakpastian global.
“Penurunan pengiriman dipicu vendor memori yang memprioritaskan kebutuhan data center AI dibanding perangkat konsumen,” ungkap analis senior Counterpoint, Shilpi Jain.
Harga Naik, Peluncuran Ditunda
Krisis memori membuat produsen smartphone harus menyesuaikan strategi. Sejumlah vendor memilih menaikkan harga perangkat, mengurangi produksi, hingga menunda peluncuran produk baru.
Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya biaya logistik dan energi akibat konflik geopolitik global, termasuk di kawasan Timur Tengah.
Di sisi konsumen, kehati-hatian dalam berbelanja semakin tinggi, sehingga memperlambat perputaran pasar.
Apple Bertahan, Merek China Terpukul
Dalam laporan yang sama, Apple masih memimpin pasar global dengan pangsa 21 persen dan pertumbuhan 5 persen YoY, didorong kuatnya permintaan seri iPhone terbaru.
Sementara Samsung berada di posisi kedua dengan pangsa 20 persen, namun mengalami penurunan 6 persen YoY akibat melemahnya pasar massal.
Xiaomi menjadi yang paling terpukul dengan penurunan hingga 19 persen YoY, terutama karena ketergantungan pada segmen entry-level yang sensitif terhadap harga.
Sedangkan Oppo dan Vivo masing-masing mencatat pangsa pasar 11 persen dan 8 persen, dengan performa yang relatif stabil meski tetap terdampak tekanan pasar.
Google dan Nothing Tumbuh di Tengah Tekanan
Menariknya, beberapa pemain justru menunjukkan pertumbuhan signifikan. Google mencatat kenaikan 14 persen YoY berkat kekuatan lini Pixel dan teknologi AI.
Sementara Nothing mencatat lonjakan 25 persen YoY, didorong desain unik dan positioning pasar yang berbeda.
Pasar Diprediksi Masih Lemah Hingga 2027
Counterpoint memproyeksikan kondisi pasar smartphone global masih akan tertekan hingga 2027, seiring berlanjutnya krisis memori.
Vendor diperkirakan akan mengubah strategi dengan lebih fokus pada nilai (value) dibanding volume, termasuk mengurangi model berbiaya rendah dan mendorong penggunaan perangkat rekondisi.
“Vendor akan mengandalkan software, ekosistem, dan layanan digital sebagai sumber pertumbuhan baru,” jelas Jain.
Di tengah tren premiumisasi yang tetap stabil, tekanan margin menjadi tantangan utama industri smartphone global dalam beberapa tahun ke depan. (*)
Poin Utama Berita
- Pasar smartphone global turun 6 persen pada kuartal I-2026
- Krisis memori dan kelangkaan RAM jadi penyebab utama
- Vendor naikkan harga dan tunda peluncuran produk
- Apple tetap memimpin pasar global dengan 21 persen
- Xiaomi alami penurunan terbesar hingga 19 persen
- Google dan Nothing justru tumbuh signifikan
- Konsumen lebih berhati-hati dalam membeli smartphone
- Pasar diprediksi masih lemah hingga tahun 2027

















