Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
EKONOMI & BISNISINVESTIGASI & SOROTNASIONALPERISTIWA

Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS, Sentimen Global dan Harga Minyak Jadi Pemicu

41
×

Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS, Sentimen Global dan Harga Minyak Jadi Pemicu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Nilai tukar rupiah kembali melemah tajam selama libur panjang Idul Adha 2026 hingga menembus level Rp17.846 per dolar AS. Analis menilai tekanan global, perang geopolitik, dan keluarnya modal asing menjadi faktor utama pelemahan.

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan tajam selama periode libur panjang Idul Adha 2026.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (28/5/2026) pukul 14.00 WIB, rupiah berada di level Rp17.846 per dolar AS atau melemah sekitar 0,25 persen dibanding perdagangan sebelumnya.

Pelemahan tersebut terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS yang naik ke level 99,50 seiring meningkatnya ketidakpastian global dan tensi geopolitik internasional.

“Saat ini Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional, namun faktor eksternal jauh lebih dominan mempengaruhi sentimen pasar,” ujar Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi.

Konflik Global dan Harga Minyak Tekan Rupiah

Ibrahim Assuaibi menilai memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memicu tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Menurutnya, ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga sekitar 3 persen.

Harga minyak Brent tercatat naik menjadi 97 dolar AS per barel, sementara minyak mentah WTI berada di level 91 dolar AS per barel.

Selain itu, perang Rusia dan Ukraina yang kembali memanas juga memperburuk gangguan rantai pasok energi global.

“Gangguan logistik energi kini tidak hanya terjadi di Timur Tengah, tetapi juga di kawasan Eropa,” kata Ibrahim.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar global semakin berhati-hati dan cenderung memburu aset safe haven seperti dolar AS.

Investor Asing Mulai Tarik Dana dari Indonesia

Kenaikan harga energi dan ancaman inflasi global membuat pasar memperkirakan bank sentral AS atau The Federal Reserve masih akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir 2026.

Bahkan sebagian analis memperkirakan masih ada peluang kenaikan suku bunga tambahan.

Ekspektasi tersebut mendorong penguatan dolar AS sekaligus menekan nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, sentimen domestik juga disebut ikut memengaruhi kepercayaan investor asing terhadap pasar Indonesia.

“Sejumlah isu domestik membuat kepercayaan investor asing terkikis dan memicu capital outflow,” jelas Ibrahim.

Sebelum masa libur panjang Idul Adha, aliran modal asing keluar dari pasar saham Indonesia tercatat mencapai Rp1,35 triliun pada perdagangan Selasa (26/5/2026).

BI Dinilai Hadapi Tekanan Berat

Meski Bank Indonesia disebut telah melakukan intervensi di pasar internasional, tekanan eksternal dinilai masih terlalu kuat untuk menahan pelemahan rupiah dalam jangka pendek.

Analis memperkirakan pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi kondisi geopolitik global, harga energi dunia, serta kebijakan suku bunga Amerika Serikat dalam beberapa bulan ke depan.

Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan otoritas moneter Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor.

(*)


Poin Utama Berita

  • Rupiah melemah hingga menyentuh Rp17.846 per dolar AS.
  • Dolar AS menguat akibat ketegangan geopolitik global.
  • Konflik AS-Iran dan Rusia-Ukraina picu lonjakan harga minyak.
  • Harga minyak Brent naik ke USD97 per barel.
  • Investor global memburu dolar AS sebagai aset aman.
  • The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi.
  • Investor asing mulai menarik dana dari Indonesia.
  • Bank Indonesia dinilai menghadapi tekanan berat menjaga rupiah.