Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
METRO | REGIONALPERISTIWA

20 Tahun Lumpur Lapindo: Ratusan KK Masih Dihantui Ancaman Tanggul Ambles, Luka Lama Korban Belum Sembuh

138
×

20 Tahun Lumpur Lapindo: Ratusan KK Masih Dihantui Ancaman Tanggul Ambles, Luka Lama Korban Belum Sembuh

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Warga Gempolsari Waswas Tanggul Penahan Lumpur Kembali Ambles, Sementara Korban di Siring Masih Menziarahi Makam Keluarga yang Tenggelam

SIDOARJO | Sentrapos.co.id – Dua dekade setelah semburan Lumpur Lapindo pertama kali muncul pada 29 Mei 2006, bayang-bayang bencana tersebut ternyata belum sepenuhnya hilang dari kehidupan warga terdampak.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Di balik tanggul raksasa yang kini membendung jutaan meter kubik lumpur, tersimpan kecemasan yang terus hidup di tengah masyarakat. Bukan hanya soal ganti rugi yang belum sepenuhnya tuntas, tetapi juga kekhawatiran terhadap keselamatan warga yang tinggal di sekitar tanggul penahan lumpur.

Memasuki usia 20 tahun tragedi Lumpur Lapindo, ratusan keluarga di Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, mengaku masih hidup dalam rasa waswas.

Mereka khawatir peristiwa amblesnya tanggul yang pernah terjadi pada tahun 2018 kembali terulang dan mengancam keselamatan warga yang bermukim tepat di bawah area penampungan lumpur.

Saat ini, rumah-rumah warga hanya berjarak sekitar 25 hingga 30 meter dari tanggul dengan ketinggian mencapai 12 hingga 15 meter.

Di balik tanggul tersebut terdapat kolam penampungan lumpur dan air yang membentang di area luas mencapai belasan hektare.

“Ratusan warga di Desa Gempolsari merasa cemas apabila tanggul penahan lumpur mengalami penurunan tanah lagi. Di atas tanggul itu ada kolam penampungan air dan lumpur yang luasnya belasan hektare,” ujar Ketua RT setempat, Sudarmawan.

Menurut data wilayah terdampak, sedikitnya 220 hingga 270 kepala keluarga yang tinggal di RT 6, RT 7, sebagian RT 9, serta RT 11 hingga RT 16 Desa Gempolsari berada di zona yang paling dekat dengan tanggul penahan lumpur.

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan.

Pada tahun 2018 lalu, tanggul penahan lumpur diketahui pernah mengalami ambles sepanjang kurang lebih 100 meter dengan kedalaman mencapai lima meter.

Peristiwa tersebut menjadi trauma tersendiri bagi masyarakat yang hingga kini masih membekas.

“Tanggul ini pernah ambles pada tahun 2018. Waktu itu panjangnya sekitar 100 meter dan kedalamannya sekitar 5 meter. Sejak kejadian itu warga menjadi resah karena takut tanggul sewaktu-waktu jebol,” ungkap Sudarmawan.

Warga mengaku semakin khawatir ketika volume air dan lumpur di dalam kolam penampungan meningkat, terutama saat musim hujan.

Pasalnya, posisi permukiman mereka berada tepat di bawah tanggul sehingga risiko yang ditimbulkan dapat berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat.

Dari Ancaman Tanggul hingga Tradisi Tabur Bunga di Atas Kampung yang Tenggelam

Selain warga Gempolsari, kekhawatiran terhadap kondisi tanggul juga disampaikan warga sekitar kawasan sisi timur Tol Buntung menuju Ketapang Keres.

Salah seorang warga bernama Sastro menilai ketinggian permukaan lumpur di kawasan tersebut terlihat lebih dekat dengan bibir tanggul dibanding sejumlah titik lainnya.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena kawasan terdampak masih mengalami penurunan tanah secara bertahap.

“Kami berharap tanggul terus dipantau dan diperkuat. Jangan sampai terjadi luapan yang bisa membahayakan warga maupun aktivitas di sekitar tanggul,” kata Sastro.

Selain persoalan keselamatan, Sastro juga mengkhawatirkan dampak terhadap sektor wisata Lumpur Lapindo yang selama ini menjadi sumber penghasilannya sebagai pemandu wisata.

Namun peringatan 20 tahun Lumpur Lapindo tidak hanya menghadirkan kecemasan soal tanggul.

Bagi sebagian warga, momen ini juga membuka kembali luka lama yang belum benar-benar sembuh.

Kenangan tentang rumah, kampung halaman, hingga makam anggota keluarga yang kini terkubur lumpur masih tersimpan kuat dalam ingatan mereka.

Hal itu dirasakan Ferry (23), warga Kelurahan Siring yang datang ke titik 21 tanggul Lumpur Lapindo untuk melakukan tabur bunga dan berdoa.

Ia mengaku datang untuk mendoakan kakek, nenek, pakde, dan budenya yang dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Siring sebelum akhirnya kawasan tersebut tenggelam akibat luapan lumpur.

“Saya tabur bunga sekaligus mendoakan kakek, nenek, bude dan pakde saya yang sudah meninggal. Dulu makamnya berada di pemakaman umum Kelurahan Siring, tetapi belum sempat dipindahkan karena keburu tenggelam oleh lumpur,” tutur Ferry.

Menjelang pernikahannya yang akan digelar dalam waktu dekat, Ferry juga datang untuk memanjatkan doa dan mengenang para leluhurnya.

Menurutnya, tradisi mendoakan keluarga yang telah wafat menjelang pernikahan masih dijaga dalam keluarganya hingga sekarang.

“Dalam waktu dekat saya akan menikah. Jadi saya datang ke sini untuk meminta doa restu kepada leluhur yang sudah meninggal agar acara pernikahan nanti berjalan lancar dan tidak ada halangan,” ujarnya.

Dua puluh tahun setelah Lumpur Lapindo mengubah wajah Sidoarjo, sebagian warga mungkin telah membangun kehidupan baru. Namun bagi banyak korban, tragedi itu belum benar-benar berakhir.

Di balik tanggul yang menjulang tinggi, masih tersimpan kecemasan, kenangan, dan harapan agar bencana serupa tidak pernah terulang kembali. (*)

Poin Utama Berita

  • Dua dekade Lumpur Lapindo, warga terdampak masih hidup dalam kecemasan.
  • Ratusan KK di Desa Gempolsari khawatir tanggul penahan lumpur kembali ambles.
  • Tanggul pernah mengalami ambles sepanjang 100 meter pada tahun 2018.
  • Permukiman warga hanya berjarak sekitar 25–30 meter dari tanggul setinggi 12–15 meter.
  • Sedikitnya 220–270 KK tinggal di kawasan yang paling dekat dengan tanggul.
  • Warga meminta pemantauan dan penguatan tanggul dilakukan secara berkelanjutan.
  • Kekhawatiran juga muncul terhadap potensi dampak ekonomi dan wisata jika terjadi luapan lumpur.
  • Peringatan 20 tahun Lumpur Lapindo membuka kembali luka lama para korban.
  • Warga Kelurahan Siring masih melakukan tradisi tabur bunga di kawasan bekas pemakaman yang tenggelam.
  • Banyak keluarga korban masih mengenang kampung halaman dan makam leluhur yang hilang akibat lumpur.