Dari Jepang hingga Indonesia, Dirty Latte Menjelma Jadi Tren Kopi Kekinian yang Digemari Anak Muda dan Pecinta Coffee Shop
JAKARTA | Sentrapos.co.id
Dunia kopi kembali diramaikan dengan kemunculan tren dirty latte, minuman berbasis espresso yang belakangan viral di berbagai coffee shop dan media sosial. Setelah popularitas menu kopi seperti mont blanc coffee, kini dirty latte menjadi perbincangan karena tampilannya yang unik, estetik, dan menawarkan sensasi rasa yang berbeda dibandingkan latte dingin pada umumnya.
Meski secara harfiah berarti “kopi kotor”, dirty latte sama sekali tidak identik dengan minuman yang kotor. Sebaliknya, nama tersebut justru muncul dari tampilan lapisan espresso yang “mengotori” susu dingin tanpa diaduk sehingga menciptakan gradasi warna yang khas dan menarik secara visual.
Tampilan inilah yang membuat dirty latte menjadi salah satu menu favorit generasi muda yang gemar membagikan pengalaman kuliner melalui media sosial.
“Dirty latte dinamakan demikian karena espresso yang dituangkan ke atas susu dingin tidak diaduk, sehingga membentuk lapisan yang terlihat seperti ‘kotor’ atau berantakan secara alami.”
Berawal dari Jepang, Kini Mendunia
Menurut sejumlah literatur kopi, dirty latte pertama kali populer di Jepang sekitar tahun 2010-an. Salah satu cerita yang banyak dipercaya menyebutkan bahwa minuman ini berasal dari sebuah kedai kopi legendaris bernama Bare Pond Espresso.
Konsep awalnya muncul ketika seorang pelanggan menginginkan latte dingin tanpa es batu karena khawatir rasa kopi menjadi terlalu encer setelah es mencair. Dari situ lahir racikan espresso segar yang langsung dituangkan ke atas susu dingin, menghasilkan tekstur dan cita rasa yang lebih pekat.
Selain versi Jepang, sejumlah pelaku industri kopi juga menyebut tren dirty latte telah lama berkembang di berbagai negara Barat sebelum akhirnya masuk dan populer di Indonesia.
Apa Bedanya Dirty Latte dengan Ice Latte?
Sekilas dirty latte memang terlihat mirip dengan ice latte. Namun, keduanya memiliki sejumlah perbedaan mendasar, baik dari sisi penyajian maupun pengalaman rasa.
Pada ice latte, espresso biasanya dicampur bersama susu dan es batu sehingga menghasilkan rasa yang lebih ringan dan segar.
Sementara pada dirty latte, susu disajikan dalam kondisi sangat dingin tanpa es batu, kemudian espresso panas dituangkan perlahan di atasnya. Minuman ini juga tidak diaduk sehingga membentuk lapisan-lapisan alami yang menjadi ciri khasnya.
“Dirty latte tidak diaduk setelah espresso dituangkan. Perbedaan suhu antara espresso panas dan susu dingin menciptakan lapisan visual yang unik sekaligus sensasi rasa bertingkat saat diminum.”
Karena tidak menggunakan es batu, cita rasa kopi tetap konsisten hingga tegukan terakhir tanpa mengalami pengenceran.
Rahasia Rasa Creamy yang Membuat Ketagihan
Selain tampilan yang Instagramable, daya tarik utama dirty latte terletak pada profil rasanya yang kaya dan kompleks.
Perpaduan espresso yang kuat dengan susu dingin menghasilkan sensasi creamy, gurih, milky, manis, sekaligus pahit dalam satu waktu. Karakter tersebut membuat dirty latte terasa lebih menyerupai dessert dibandingkan kopi susu biasa.
Beberapa barista bahkan menyebut terdapat dua aliran utama dalam pembuatan dirty latte.
Pertama, menggunakan kombinasi fresh milk dan distilled milk, yaitu susu yang dikonsentrasikan melalui proses pembekuan dan pencairan sehingga menghasilkan rasa susu yang lebih pekat.
Kedua, menggunakan susu yang dipadukan dengan krim dan sedikit pemanis untuk menciptakan tekstur yang lebih lembut dan kaya rasa.
Mengapa Dirty Latte Viral di Indonesia?
Popularitas dirty latte di Indonesia tidak lepas dari kombinasi antara tampilan visual yang menarik dan pengalaman rasa yang berbeda.
Gradasi warna espresso yang perlahan turun ke dalam susu menciptakan efek visual yang fotogenik dan sangat cocok untuk konten media sosial.
Di sisi lain, karakter rasanya yang tidak terlalu pahit juga membuat minuman ini dapat dinikmati oleh kalangan yang bukan penikmat kopi berat atau non-coffee heavy drinker.
Konsistensi rasa yang tetap terjaga tanpa es batu menjadi nilai tambah yang membuat dirty latte semakin diminati di tengah berkembangnya budaya ngopi dan tren eksplorasi menu kopi premium di Indonesia.
“Dirty latte bukan sekadar kopi estetik untuk media sosial, tetapi menawarkan pengalaman rasa yang lebih pekat, creamy, dan konsisten dibandingkan latte dingin biasa.”
Dengan kombinasi visual yang memikat, sejarah unik, serta cita rasa yang kaya, tidak mengherankan jika dirty latte kini menjadi salah satu menu yang paling banyak dicari di berbagai coffee shop tanah air. (*)
Poin Utama Berita
- Dirty latte menjadi tren kopi viral di berbagai coffee shop Indonesia.
- Nama “dirty latte” berasal dari tampilan espresso yang terlihat mengotori susu dingin.
- Minuman ini pertama kali populer di Jepang sekitar tahun 2010-an.
- Dirty latte disajikan tanpa es batu sehingga rasa kopi tidak encer.
- Espresso panas dituangkan langsung ke susu dingin tanpa diaduk.
- Memiliki tampilan estetik yang menarik untuk media sosial.
- Menawarkan rasa creamy, milky, manis, gurih, dan pahit yang seimbang.
- Cocok untuk pecinta kopi maupun penikmat kopi pemula.
- Menjadi salah satu menu kopi premium yang sedang naik daun di Indonesia.

















