Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pasukannya tetap bertahan di Lebanon, Gaza, dan Suriah meski Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai. Sikap keras Tel Aviv memicu sorotan internasional dan berpotensi menguji keberlangsungan perdamaian di Timur Tengah.
Netanyahu Tolak Mundur dari Lebanon Meski AS-Iran Berdamai, Israel Ngotot Lanjutkan Operasi Militer
YERUSALEM, Sentrapos.co.id – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan negaranya tidak akan menarik pasukan dari wilayah Lebanon meskipun Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai yang dijadwalkan diteken secara resmi di Swiss pada 19 Juni 2026.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Senin (15/6), Netanyahu menegaskan bahwa keamanan Israel tetap menjadi prioritas utama dan operasi militer akan terus berlangsung hingga seluruh ancaman terhadap negaranya dinilai benar-benar hilang.
“Israel harus terus berjaga-jaga, terus menjadi kuat, dan terus bertekad untuk membela diri sebisa mungkin,” tegas Benjamin Netanyahu.
Pernyataan tersebut menjadi respons pertama Netanyahu setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.
Israel Tegaskan Tetap Bertahan di Lebanon
Netanyahu menyatakan Israel akan mempertahankan keberadaan militernya di zona penyangga keamanan Lebanon selama masih dianggap diperlukan.
Menurutnya, kelompok-kelompok bersenjata di wilayah perbatasan masih menjadi ancaman serius bagi keamanan nasional Israel.
“Kami akan tetap berada di zona penyangga keamanan Lebanon selama diperlukan,” ujar Netanyahu.
Ia juga menegaskan bahwa Israel tidak akan memberikan ruang bagi kelompok yang dianggap mengancam keamanan negaranya untuk membangun kekuatan di kawasan perbatasan.
“Israel tidak akan membiarkan organisasi teroris menancapkan diri di perbatasan kami atau mempersiapkan ancaman terhadap warga negara kami,” katanya.
Selain Lebanon, Netanyahu memastikan pasukan Israel juga akan tetap mempertahankan posisi strategis di Jalur Gaza dan Suriah.
Kesepakatan Damai AS-Iran Picu Perbedaan Sikap
Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan oleh Donald Trump pada Minggu (14/6) setelah serangkaian negosiasi panjang yang berlangsung selama beberapa bulan.
Kesepakatan tersebut disebut mencakup penghentian konflik di berbagai front kawasan Timur Tengah serta pencabutan blokade tertentu terhadap Iran.
Namun hingga kini, rincian resmi isi nota kesepahaman (MoU) tersebut belum dipublikasikan secara lengkap.
Penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6).
Meski demikian, sejumlah pejabat senior Israel secara terbuka menyatakan keberatan terhadap kesepakatan tersebut.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, bahkan menyatakan Israel tidak memiliki kewajiban untuk mematuhi isi kesepakatan karena tidak terlibat langsung dalam proses negosiasi.
Netanyahu: Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir
Dalam pidatonya, Netanyahu kembali menegaskan bahwa tujuan utama Israel tetap sama, yakni memastikan Iran tidak pernah memiliki kemampuan senjata nuklir.
Menurutnya, langkah militer yang dilakukan Israel selama ini merupakan bagian dari strategi mempertahankan eksistensi negara dari ancaman yang dianggap nyata.
“Yang terpenting adalah kita telah menyelamatkan negara Israel dari ancaman pemusnahan oleh nuklir,” kata Netanyahu.
Ia juga membela operasi militer yang dilakukan Israel terhadap fasilitas dan target strategis Iran dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Netanyahu, serangan tersebut berhasil memberikan tekanan besar terhadap kemampuan militer dan ekonomi Iran.
“Bersama teman-teman Amerika, kita memulai misi serangan terbesar dalam sejarah Israel,” ujarnya.
Trump Sebut Netanyahu Tak Selalu Sejalan
Di sisi lain, Donald Trump sebelumnya mengungkap bahwa proses negosiasi damai sempat menghadapi hambatan akibat perbedaan pandangan dengan Netanyahu.
Trump bahkan menyebut Perdana Menteri Israel sebagai sosok yang sulit dalam proses penyelesaian konflik.
Meskipun demikian, pemerintah Amerika Serikat tetap melanjutkan upaya diplomatik hingga tercapai kesepakatan awal dengan Iran.
Wakil Presiden AS, JD Vance, memastikan rincian lengkap nota kesepahaman akan diumumkan kepada publik sebelum penandatanganan resmi dilakukan.
Perdamaian Timur Tengah Masih Hadapi Tantangan
Meski kesepakatan AS-Iran dianggap sebagai terobosan besar dalam diplomasi internasional, sikap keras Israel menunjukkan bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah masih menghadapi tantangan serius.
Keputusan Israel mempertahankan operasi militer di Lebanon, Gaza, dan Suriah berpotensi menjadi faktor yang memengaruhi implementasi kesepakatan damai dalam jangka panjang.
Pengamat menilai perkembangan situasi beberapa hari ke depan akan menjadi penentu apakah kesepakatan yang difasilitasi Amerika Serikat mampu menciptakan stabilitas baru atau justru memunculkan dinamika konflik yang berbeda di kawasan. (*)
Poin Utama Berita
- Benjamin Netanyahu menegaskan Israel tidak akan mundur dari Lebanon.
- Israel tetap mempertahankan operasi militer di Lebanon, Gaza, dan Suriah.
- Kesepakatan damai AS-Iran akan diteken resmi di Swiss pada 19 Juni 2026.
- Sejumlah menteri Israel menolak terikat pada kesepakatan tersebut.
- Netanyahu menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
- Donald Trump mengakui sempat berbeda pandangan dengan Netanyahu.
- Israel mengklaim operasi militernya berhasil melemahkan kemampuan Iran.
- Perdamaian Timur Tengah dinilai masih menghadapi tantangan besar.

















