Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
EKONOMI & BISNISINTERNASIONALPERISTIWA

Inflasi Myanmar Nyaris 25 Persen, Perang AS-Iran dan Krisis Berkepanjangan Picu Tekanan Ekonomi Makin Parah

24
×

Inflasi Myanmar Nyaris 25 Persen, Perang AS-Iran dan Krisis Berkepanjangan Picu Tekanan Ekonomi Makin Parah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Myanmar setelah inflasi melonjak hingga 24,6 persen. Lonjakan harga energi akibat konflik AS-Iran memperburuk dampak perang saudara dan meningkatkan beban hidup jutaan warga.

Inflasi Myanmar Nyaris 25 Persen, Perang AS-Iran dan Krisis Berkepanjangan Picu Tekanan Ekonomi Makin Parah

YANGON, Sentrapos.co.id – Perekonomian Myanmar kembali menghadapi tekanan berat setelah tingkat inflasi tahunan melonjak hingga mendekati 25 persen. Kondisi tersebut dipicu oleh lonjakan harga energi global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memperburuk dampak perang saudara berkepanjangan di negara tersebut.

Dalam laporan Myanmar Economic Monitor yang dirilis pada Selasa (16/6/2026), World Bank mencatat inflasi Myanmar mencapai 24,6 persen pada April 2026, naik signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Kenaikan harga yang tajam terutama didorong oleh meningkatnya biaya energi, gangguan rantai pasok bahan bakar, serta lemahnya kondisi ekonomi domestik yang masih berjuang pulih sejak kudeta militer tahun 2021.

“Ekonomi Myanmar sedang stabil pada tingkat yang rendah, tetapi guncangan bahan bakar terbaru memperbesar kelemahan struktural yang telah lama ada dan membuat prospek ekonomi sangat rentan terhadap gangguan lebih lanjut,” tulis Bank Dunia dalam laporannya.

Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Seiring memburuknya kondisi ekonomi, Bank Dunia juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Myanmar untuk tahun fiskal 2026-2027.

Pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya diperkirakan mencapai 3 persen kini direvisi turun menjadi hanya 2 persen.

Penurunan proyeksi tersebut mencerminkan masih tingginya risiko ekonomi akibat konflik politik, ketidakstabilan keamanan, serta ketergantungan Myanmar terhadap impor energi.

Sejak kudeta militer pada Februari 2021, aktivitas ekonomi nasional mengalami tekanan berkepanjangan yang menyebabkan investasi melambat, konsumsi rumah tangga melemah, dan tingkat kemiskinan meningkat tajam.

Konflik AS-Iran Perparah Krisis Energi Myanmar

Myanmar termasuk negara yang sangat rentan terhadap gejolak harga energi dunia karena sekitar 90 persen kebutuhan bahan bakar minyaknya berasal dari impor.

Ketergantungan tinggi terhadap pasokan luar negeri membuat perekonomian Myanmar terdampak langsung ketika jalur distribusi energi global terganggu.

Penutupan Selat Hormuz akibat konflik Amerika Serikat dan Iran sejak akhir Februari lalu menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk kondisi pasokan energi.

Sebagai salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia, gangguan di kawasan tersebut memicu kenaikan harga energi yang berdampak luas terhadap negara-negara pengimpor minyak, termasuk Myanmar.

“Guncangan harga bahan bakar telah menghidupkan kembali tekanan inflasi. Daya beli rumah tangga menurun, sementara banyak keluarga sebelumnya sudah hidup dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas dan tingkat kemiskinan yang tinggi,” ujar ekonom senior Bank Dunia, Kemoh Mansaray.

Kemiskinan Meningkat, Warga Kesulitan Bertahan Hidup

Lonjakan inflasi tidak hanya memengaruhi stabilitas ekonomi nasional, tetapi juga langsung dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Data Bank Dunia menunjukkan tingkat kemiskinan Myanmar pada 2025 mencapai 29,9 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelum kudeta militer.

Banyak keluarga kini kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan.

Seorang warga Yangon berusia 28 tahun mengaku terpaksa mengurangi kebutuhan rumah tangga karena keterbatasan pendapatan.

“Karena kami kesulitan membeli makanan, ada anak-anak yang tidak bisa kami sekolahkan. Kami memiliki tiga anak usia sekolah di rumah,” ungkapnya.

Keluhan serupa disampaikan seorang pemilik toko di Yangon yang mengaku kenaikan harga barang terus menggerus pendapatan usaha dan kondisi keuangan keluarganya.

“Pendapatan dan pengeluaran kami tidak seimbang. Kami hanya bertahan dari hari ke hari,” katanya.

Menurutnya, harga berbagai kebutuhan pokok terus meningkat tanpa menunjukkan tanda-tanda penurunan.

“Sekarang berapa pun penghasilan yang kami dapatkan, tetap tidak cukup,” ujarnya.

Prospek Ekonomi Masih Dibayangi Ketidakpastian

Meski Bank Dunia melihat adanya tanda-tanda stabilisasi ekonomi, kondisi Myanmar masih berada dalam fase yang sangat rentan.

Ketidakpastian politik, konflik bersenjata yang belum mereda, serta gejolak harga energi global diperkirakan tetap menjadi tantangan utama bagi pemulihan ekonomi negara tersebut.

Para ekonom menilai tanpa stabilitas politik dan perbaikan kondisi keamanan, tekanan inflasi serta kemiskinan berpotensi terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Myanmar kini menghadapi tantangan besar untuk menyeimbangkan kebutuhan pemulihan ekonomi dengan situasi politik dan keamanan yang masih jauh dari kata stabil. (*)

Poin Utama Berita

  • Inflasi Myanmar melonjak hingga 24,6 persen pada April 2026.
  • Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Myanmar menjadi 2 persen.
  • Konflik AS-Iran dan gangguan pasokan energi memperparah tekanan ekonomi.
  • Myanmar mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan bahan bakar minyaknya.
  • Penutupan Selat Hormuz berdampak langsung terhadap harga energi di Myanmar.
  • Tingkat kemiskinan Myanmar mencapai 29,9 persen pada 2025.
  • Daya beli masyarakat terus melemah akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.
  • Bank Dunia memperingatkan ekonomi Myanmar masih sangat rentan terhadap guncangan baru.