Kesepakatan penghentian perang AS-Iran memasuki tahap final di Swiss. Teheran memperingatkan Washington agar mematuhi perjanjian sementara, sementara Donald Trump mengungkap peran kontroversial Benjamin Netanyahu yang hampir menggagalkan perdamaian.
Iran Ultimatum AS Jelang Penandatanganan MoU Perdamaian, Ancam Anggap Serangan Israel ke Lebanon sebagai Pelanggaran Kesepakatan
TEHERAN, Sentrapos.co.id – Pemerintah Iran melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat menjelang penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) penghentian perang yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6/2026).
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Iran dan Amerika Serikat akan memasuki putaran baru perundingan guna merampungkan kesepakatan damai secara permanen setelah perjanjian sementara resmi berlaku.
Namun, Teheran menegaskan bahwa keberlanjutan operasi militer Israel di Lebanon dapat mengancam proses perdamaian yang tengah dibangun.
“Dalam pandangan kami, dua pihak dalam nota kesepahaman ini adalah Amerika Serikat dan Israel di satu pihak, serta Iran dan Hizbullah di pihak lainnya,” tegas Abbas Araghchi.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Iran memandang setiap aksi militer Israel pasca-kesepakatan sebagai bagian dari tanggung jawab Washington dalam menjaga komitmen perdamaian.
Kesepakatan Damai AS-Iran Masuki Tahap Final
Kesepakatan sementara antara Iran dan Amerika Serikat tercapai pada Minggu (14/6) setelah melalui sejumlah putaran negosiasi intensif yang dimediasi berbagai pihak internasional sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengumumkan bahwa kesepakatan tersebut mencakup komitmen pencabutan blokade terhadap Iran sebagai bagian dari langkah meredakan ketegangan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Meski demikian, hingga kini rincian lengkap isi MoU belum dipublikasikan kepada publik.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) juga telah mengonfirmasi bahwa dokumen kesepakatan telah dirampungkan dan siap ditandatangani.
Menurut SNSC, finalisasi teks dilakukan atas arahan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, serta dukungan penuh masyarakat dan aparat keamanan Iran.
“Teks MoU mengenai negosiasi penghentian perang antara Iran dan Amerika Serikat telah difinalisasi pada 15 Juni malam,” demikian pernyataan resmi SNSC.
Trump Ungkap Netanyahu Hampir Gagalkan Perdamaian
Di tengah proses menuju perdamaian, Presiden Donald Trump mengungkap fakta mengejutkan mengenai dinamika di balik layar negosiasi.
Dalam wawancaranya dengan media Amerika, Trump menyebut Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, hampir menggagalkan kesepakatan damai karena tetap mendorong operasi militer berkelanjutan di kawasan.
Menurut Trump, serangan-serangan yang terus berlangsung ke Lebanon sempat membuat Iran mempertimbangkan untuk mundur dari meja perundingan.
“Dia orang yang sangat sulit,” kata Trump saat mengomentari sikap Benjamin Netanyahu.
Trump juga menilai Israel seharusnya mendukung upaya penghentian perang yang difasilitasi Washington.
Ia bahkan menyampaikan pernyataan keras terkait ancaman keamanan Israel apabila Iran benar-benar memiliki kemampuan senjata nuklir.
“Dia seharusnya berterima kasih kepada kami karena telah menghentikan pertempuran. Jika Iran memiliki senjata nuklir, Israel tidak akan bertahan dalam dua jam,” ujar Trump.
Lebanon Jadi Titik Kritis Kesepakatan
Pengamat menilai Lebanon kini menjadi titik paling sensitif dalam implementasi kesepakatan sementara tersebut.
Iran secara terbuka mengaitkan tindakan militer Israel di Lebanon dengan komitmen Amerika Serikat terhadap isi nota kesepahaman yang akan diteken di Swiss.
Jika terjadi eskalasi baru di wilayah Lebanon pasca-penandatanganan MoU, hal itu berpotensi memicu ketegangan baru sekaligus mengganggu proses normalisasi hubungan antara Washington dan Teheran.
Meski demikian, kedua negara tetap menunjukkan sinyal positif untuk melanjutkan jalur diplomasi dan mengakhiri konflik yang selama beberapa bulan terakhir memicu kekhawatiran dunia internasional.
Penandatanganan MoU di Swiss dipandang sebagai salah satu momen geopolitik paling penting tahun ini karena berpotensi mengubah peta hubungan politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah. (*)
Poin Utama Berita
- Iran memperingatkan AS agar mematuhi perjanjian sementara menjelang penandatanganan MoU damai.
- Penandatanganan kesepakatan penghentian perang AS-Iran dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026.
- Iran menilai serangan Israel ke Lebanon dapat dianggap sebagai pelanggaran kesepakatan.
- Abbas Araghchi menegaskan Israel dan AS merupakan satu pihak dalam kerangka MoU.
- Donald Trump menyebut Benjamin Netanyahu hampir menggagalkan proses perdamaian.
- Kesepakatan mencakup komitmen pencabutan blokade terhadap Iran.
- Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengonfirmasi teks MoU telah difinalisasi.
- Lebanon menjadi titik krusial yang dapat menentukan keberhasilan implementasi perdamaian.

















