Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

Gelombang Panas Mematikan di Spanyol, Lebih dari 1.000 Orang Tewas pada Juni 2026, WHO Soroti Krisis Iklim Eropa

180
×

Gelombang Panas Mematikan di Spanyol, Lebih dari 1.000 Orang Tewas pada Juni 2026, WHO Soroti Krisis Iklim Eropa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MADRID, Sentrapos.co.id – Spanyol menghadapi salah satu bencana iklim paling mematikan dalam sejarah modern setelah gelombang panas ekstrem sepanjang Juni 2026 dikaitkan dengan lebih dari 1.000 kematian. Data sementara menunjukkan sedikitnya 1.028 orang meninggal dunia akibat suhu ekstrem yang melanda hampir seluruh wilayah negara tersebut.

Berdasarkan data Carlos III Health Institute yang dirilis Rabu (1/7/2026), lonjakan angka kematian terjadi bersamaan dengan rekor suhu tinggi yang menjadikan semester pertama 2026 sebagai periode Januari–Juni terpanas sejak pencatatan meteorologi dimulai.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Fenomena ini turut memperkuat peringatan para ilmuwan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi, durasi, dan intensitas gelombang panas di kawasan Eropa.

Lebih dari 1.000 Korban Jiwa dalam Sebulan

Sistem pemantauan kematian harian (MoMo) mencatat 1.028 kematian yang diperkirakan berkaitan dengan suhu ekstrem selama Juni 2026.

Angka tersebut dihitung melalui perbandingan antara jumlah kematian aktual dengan estimasi kematian normal pada periode yang sama.

Yang paling mengkhawatirkan, 623 korban meninggal terjadi hanya dalam satu pekan ketika gelombang panas mencapai puncaknya pada 22–24 Juni 2026 di wilayah Semenanjung Iberia dan Kepulauan Balearic.

Jumlah korban ini meningkat tajam dibandingkan Juni 2025 yang mencatat 407 kematian terkait panas.

Bahkan, Juni 2026 menjadi bulan dengan jumlah kematian akibat gelombang panas tertinggi sejak sistem pemantauan tersebut diberlakukan pada tahun 2015.


“Lonjakan angka kematian akibat suhu ekstrem menunjukkan bahwa gelombang panas kini bukan lagi sekadar fenomena cuaca, melainkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan keselamatan jiwa.”


Semester Pertama 2026 Jadi yang Terpanas dalam Sejarah

Badan Meteorologi Spanyol (Aemet) melaporkan bahwa periode Januari hingga Juni 2026 menjadi semester pertama terpanas sejak pencatatan iklim dilakukan.

Suhu rata-rata nasional tercatat sekitar 1,6 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

Sementara itu, rata-rata suhu daratan selama Juni mencapai 23,2 derajat Celsius, atau sekitar 3,2 derajat Celsius di atas rata-rata klimatologis periode 1991–2020.

Data tersebut menempatkan Juni 2026 sebagai bulan Juni terpanas kedua sepanjang sejarah, hanya berada di bawah rekor Juni 2025.

Aemet juga mencatat bahwa tujuh semester pertama terhangat di Spanyol seluruhnya terjadi dalam satu dekade terakhir, menunjukkan tren pemanasan yang semakin konsisten.

Perubahan Iklim Disebut Memperparah Gelombang Panas

Para ilmuwan menilai meningkatnya kejadian gelombang panas merupakan dampak nyata perubahan iklim global.

Jika pada periode 1975–2000 hanya terjadi dua gelombang panas pada bulan Juni, maka antara 2000–2025 jumlahnya melonjak menjadi 10 kejadian.

Peneliti dari Carlos III Health Institute, Julio Díaz, menambahkan bahwa dampak suhu ekstrem semakin diperburuk oleh tingginya tingkat polusi udara.

Menurut hasil kajian lembaganya, sekitar 18 persen peningkatan angka kematian selama gelombang panas berkaitan dengan polusi udara, sehingga penanganannya harus dilakukan secara terpadu.


“Perubahan iklim dan polusi udara saling memperkuat dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Upaya mitigasi perlu dilakukan secara bersamaan agar risiko kematian dapat ditekan.”


Gelombang Panas Meluas ke Berbagai Negara Eropa

Fenomena cuaca ekstrem tidak hanya melanda Spanyol.

Gelombang panas juga menyapu sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Inggris, Swiss, Polandia, Republik Ceko, Slovakia, hingga Hongaria.

Sejumlah negara mencatat rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni, sementara Prancis mengalami suhu malam hari terpanas sepanjang sejarah.

Kelompok ilmuwan World Weather Attribution (WWA) menyatakan gelombang panas akhir Juni 2026 hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan gelombang panas tersebut telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian tambahan di seluruh Eropa, dan angka itu diperkirakan masih dapat bertambah seiring proses pelaporan dari berbagai negara.

Krisis Iklim Jadi Tantangan Global

Meningkatnya korban jiwa akibat suhu ekstrem menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman jangka panjang, melainkan krisis yang telah berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Pemerintah di berbagai negara Eropa kini didorong memperkuat sistem peringatan dini, pelayanan kesehatan, perlindungan kelompok rentan, serta kebijakan adaptasi iklim guna mengurangi risiko korban jiwa pada musim panas mendatang. (*)


Poin Utama Berita

  • Gelombang panas di Spanyol menyebabkan sedikitnya 1.028 orang meninggal dunia sepanjang Juni 2026.
  • Sebanyak 623 kematian terjadi saat puncak gelombang panas pada 22–24 Juni.
  • Semester pertama 2026 menjadi periode Januari–Juni terpanas sepanjang sejarah pencatatan di Spanyol.
  • Juni 2026 tercatat sebagai bulan Juni terpanas kedua setelah Juni 2025.
  • Para ilmuwan menyebut perubahan iklim menjadi faktor utama meningkatnya intensitas gelombang panas.
  • Polusi udara diperkirakan berkontribusi terhadap sekitar 18 persen peningkatan angka kematian.
  • Gelombang panas juga melanda berbagai negara Eropa dan memicu rekor suhu ekstrem.
  • WHO memperkirakan lebih dari 1.300 kematian tambahan terjadi di Eropa akibat gelombang panas.