Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

WHO: Gelombang Panas Tewaskan Lebih dari 1.300 Orang di Eropa, Tedros Sebut Heatwave ‘Pembunuh Diam-Diam’

21
×

WHO: Gelombang Panas Tewaskan Lebih dari 1.300 Orang di Eropa, Tedros Sebut Heatwave ‘Pembunuh Diam-Diam’

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

GENEVA | Sentrapos.co.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap dampak mematikan gelombang panas (heatwave) yang melanda sejumlah negara di Eropa. Sejak 21 Juni 2026, lebih dari 1.300 orang dilaporkan meninggal dunia akibat suhu ekstrem yang terus meningkat.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut gelombang panas kini bukan lagi fenomena sesaat, melainkan ancaman kesehatan yang terjadi hampir setiap tahun dan memerlukan perhatian serius dari seluruh negara.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

“Lebih dari 1.300 kematian berlebih sudah tercatat sejak 21 Juni terkait dengan suhu tinggi di Eropa,” tulis Tedros Adhanom Ghebreyesus melalui akun resminya di platform X, Senin.

WHO: Heatwave Adalah “Pembunuh Diam-Diam”

Tedros menegaskan bahwa gelombang panas sering dijuluki sebagai “silent killer” atau pembunuh diam-diam karena mampu menyebabkan kematian tanpa disadari banyak orang, terutama kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, serta penderita penyakit kronis.

Menurut WHO, sebagian besar infrastruktur di Eropa, termasuk sekolah, gedung perkantoran, hingga fasilitas publik, pada awalnya tidak dirancang untuk menghadapi suhu ekstrem yang kini semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

“Gelombang panas merupakan pembunuh diam-diam yang kini menjadi ancaman kesehatan masyarakat setiap tahun,” tegas Tedros.

Sekolah Ditutup, Listrik Mulai Terganggu

Dampak cuaca panas ekstrem tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat di berbagai negara.

WHO mencatat sejumlah sekolah terpaksa menghentikan kegiatan belajar mengajar, sementara jaringan kelistrikan di beberapa wilayah mulai mengalami gangguan akibat meningkatnya beban penggunaan listrik selama gelombang panas berlangsung.

Tedros mengatakan WHO bersama negara-negara anggotanya akan memperkuat kesiapsiagaan, sistem pencegahan, serta respons layanan kesehatan untuk menghadapi ancaman cuaca ekstrem di masa mendatang.

“Kami mendorong negara-negara Eropa menerapkan rencana aksi kesehatan menghadapi gelombang panas guna melindungi masyarakat dari dampak perubahan iklim,” ujar Tedros.

Prancis Jadi Negara dengan Korban Terbanyak

Gelombang panas saat ini melanda sejumlah negara Eropa, di antaranya Prancis, Jerman, dan Polandia.

Di Prancis, suhu udara dilaporkan mencapai 36 hingga 40 derajat Celsius, jauh di atas rata-rata musim panas.

Badan Kesehatan Masyarakat Prancis (Public Health France) melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan sejak 24 Juni 2026, yang diduga berkaitan dengan dampak suhu ekstrem.

Data tersebut masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui sesuai hasil verifikasi otoritas kesehatan setempat.

Perubahan Iklim Jadi Ancaman Nyata

WHO menilai meningkatnya frekuensi gelombang panas merupakan salah satu dampak nyata perubahan iklim global yang memerlukan langkah mitigasi dan adaptasi secara menyeluruh.

Selain memperkuat sistem kesehatan, pemerintah di berbagai negara juga didorong meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya paparan suhu tinggi, pentingnya hidrasi, perlindungan kelompok rentan, serta kesiapan menghadapi cuaca ekstrem yang diperkirakan akan semakin sering terjadi dalam beberapa tahun mendatang. (*)

Poin Utama Berita

  • WHO melaporkan lebih dari 1.300 orang meninggal akibat gelombang panas di Eropa sejak 21 Juni 2026.
  • Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut heatwave sebagai “pembunuh diam-diam”.
  • Gelombang panas kini dinilai menjadi ancaman kesehatan yang terjadi hampir setiap tahun.
  • Sekolah di sejumlah wilayah Eropa ditutup akibat suhu ekstrem.
  • Jaringan listrik mulai mengalami gangguan karena lonjakan penggunaan energi.
  • WHO meminta negara-negara Eropa menerapkan rencana aksi kesehatan menghadapi gelombang panas.
  • Prancis mencatat sekitar 1.000 kematian tambahan yang diduga berkaitan dengan suhu ekstrem.
  • WHO menilai perubahan iklim menjadi faktor utama meningkatnya risiko gelombang panas di Eropa.