KLATEN | Sentrapos.co.id — Udara sejuk dan rindangnya pepohonan langsung terasa saat memasuki kawasan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) AQUA Klaten di Jawa Tengah.
Di tengah gemericik aliran Sungai Pusur dan suara burung dari balik pepohonan, sulit membayangkan kawasan hijau seluas 4,6 hektare itu dulunya hanya area transisi sawah dan ladang biasa.
Kini kawasan tersebut berkembang menjadi ruang konservasi, pusat edukasi lingkungan, sekaligus laboratorium alam terbuka yang dibangun PT Tirta Investama atau AQUA.
Koordinator Pengelola Taman Kehati AQUA Klaten, Nanda Satya Nugraha, mengatakan keberadaan pepohonan memberi dampak besar terhadap suhu dan kualitas lingkungan sekitar.
“Kalau tadi dari sawah terasa panas, di sini lebih adem. Kontribusi pohon memang sangat signifikan,” ujar Nanda.
Ribuan Pohon dan Ratusan Spesies Tumbuh di Kawasan
Di sepanjang jalur taman, hampir seluruh pohon dilengkapi label biru kecil yang disebut sebagai “KTP pohon”.
Label tersebut memuat identitas lengkap pohon, mulai dari nama spesies, diameter batang, tinggi pohon, hingga data biomassa untuk menghitung kemampuan penyerapan karbon.
Saat ini tercatat terdapat:
- 1.517 pohon
- 151 spesies tanaman
- Beragam tanaman lokal dan konservasi
Keberadaan vegetasi tersebut membentuk ekosistem baru yang mendukung keseimbangan lingkungan di kawasan riparian Sungai Pusur.
Jadi Tempat Belajar Alam Terbuka
Taman Kehati AQUA Klaten tidak hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga sarana edukasi lingkungan bagi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Pengunjung dapat belajar mengenali berbagai jenis pohon, mengamati satwa liar, hingga mempelajari kualitas air sungai melalui metode biotilik.
Di salah satu sudut taman, terdapat laboratorium biotilik sederhana yang digunakan untuk memantau kesehatan sungai melalui keberadaan organisme kecil makroinvertebrata.
“Kami ingin anak-anak bisa belajar langsung dan lebih peka terhadap kondisi lingkungan,” jelas Nanda.
Satwa Liar Mulai Kembali Bermunculan
Seiring terbentuknya ekosistem alami, berbagai satwa liar mulai kembali muncul di kawasan tersebut.
Beberapa satwa yang kerap terlihat antara lain:
- Burung cekakak jawa
- Burung cekakak sungai
- Reptil dan amfibi
- Ular piton
Pengelola menyebut kehadiran satwa liar menjadi indikator bahwa ekosistem di kawasan tersebut mulai pulih.
“Satwa-satwa itu datang sendiri, artinya ekosistem mulai terbentuk,” ungkap pengelola.
Fokus Jaga Sungai dan Air Bersih
Selain konservasi hayati, kawasan ini juga berfungsi menjaga kualitas sumber daya air.
Taman Kehati berada di jalur Sungai Pusur yang terhubung langsung dengan lereng Merapi hingga kawasan hilir.
Namun pengelola mengakui tantangan menjaga sungai tetap bersih masih cukup besar akibat sampah rumah tangga dan limbah warga.
Karena itu, AQUA bersama masyarakat menjalankan berbagai program pendampingan seperti:
- Pengelolaan sampah desa
- Pertanian sehat
- Pemanfaatan limbah ternak menjadi biogas
- Edukasi konservasi lingkungan
Tak jauh dari kawasan taman juga terdapat sumber air artesis alami yang menjadi salah satu sumber air baku AQUA dan turut dimanfaatkan masyarakat sekitar.
Jadi Contoh Konservasi dan Edukasi Lingkungan
Di tengah berkurangnya ruang hijau dan ancaman krisis lingkungan, Taman Kehati AQUA Klaten menjadi contoh bagaimana kawasan konservasi dapat dikembangkan sekaligus dimanfaatkan untuk edukasi masyarakat.
Kawasan ini menghadirkan pengalaman belajar langsung dari alam dengan pendekatan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. (*)
Poin Utama Berita
- Taman Kehati AQUA Klaten dibangun di lahan bekas sawah dan ladang.
- Kawasan kini menjadi ruang konservasi dan laboratorium alam terbuka.
- Terdapat 1.517 pohon dari 151 spesies tanaman.
- Setiap pohon dilengkapi “KTP pohon” untuk data konservasi karbon.
- Taman menjadi lokasi edukasi lingkungan dan penelitian biotilik.
- Satwa liar seperti burung cekakak dan ular piton mulai muncul kembali.
- AQUA bersama masyarakat menjaga kebersihan Sungai Pusur.
- Program lingkungan meliputi pengelolaan sampah hingga biogas desa.

















