Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
BIROKRASIPENDIDIKAN & KESEHATANPERISTIWA

Kasus Hantavirus Terdeteksi di Jawa Timur, Dinkes Pastikan Pasien Sembuh dan Minta Warga Waspada Tikus

43
×

Kasus Hantavirus Terdeteksi di Jawa Timur, Dinkes Pastikan Pasien Sembuh dan Minta Warga Waspada Tikus

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SURABAYA | Sentrapos.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur mengonfirmasi adanya kasus Hantavirus yang terdeteksi di wilayah Jawa Timur pada awal tahun 2026.

Kepala Dinkes Jatim, Erwin Ashta Triyono, mengatakan pasien yang sempat terpapar virus tersebut kini telah dinyatakan sembuh setelah menjalani perawatan intensif.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

“Kalau data dari Kemenkes ada satu pasien bulan Januari. Tapi pasiennya sudah baikan, sudah sembuh,” kata Erwin kepada wartawan di RS Ibu dan Anak IBI Surabaya, Rabu (13/5/2026).

Erwin menjelaskan, awalnya pasien tersebut didiagnosis mengalami leptospirosis atau yang dikenal masyarakat sebagai penyakit kencing tikus.

Namun, karena pasien mengalami gejala demam disertai kondisi kuning, Kementerian Kesehatan kemudian mendorong pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi kemungkinan Hantavirus.

“Kemudian karena demam dan kuning sehingga sama Kemenkes didorong untuk pemeriksaan hantavirus dan ternyata positif,” jelasnya.

Pasien tersebut diketahui merupakan orang dewasa dan sempat menjalani perawatan di RSUD dr Soetomo Surabaya.

Meski demikian, Dinkes Jatim belum membuka identitas maupun asal daerah pasien karena masih berkaitan dengan data internal rumah sakit.

“Saya detailkan nanti ya, karena ini datanya menyangkut data internal Rumah Sakit Dr Soetomo. Saya harus cek internal,” ujarnya.

Belum Ada Kasus Baru

Dinkes Jatim memastikan hingga saat ini belum ditemukan laporan tambahan terkait kasus Hantavirus di Jawa Timur.

Pihaknya tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena penyakit tersebut sama-sama ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus.

Erwin menjelaskan perbedaan utama antara Hantavirus dan leptospirosis terletak pada jenis penyebab penyakitnya.

Leptospirosis disebabkan bakteri leptospira, sedangkan Hantavirus berasal dari infeksi virus yang dibawa hewan pengerat.

“Saya belum menyimpulkan tingkat penularannya karena ini nanti menyangkut strategi. Tapi yang jelas adanya kewaspadaan bagi masyarakat,” ucapnya.

Imbau Warga Jaga Kebersihan

Dinkes Jatim mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan rumah dan mengurangi potensi berkembangnya sarang tikus sebagai langkah pencegahan utama.

Menurut Erwin, pola pencegahan Hantavirus sebenarnya tidak jauh berbeda dengan antisipasi leptospirosis yang selama ini sudah dikenal masyarakat.

“Sebetulnya apa yang kita khawatirkan dengan hantavirus sudah masuk ke Indonesia, kalau kita mengkhawatirkan leptospirosis kan sama, penularan lewat tikus. Mungkin dengan menjaga kebersihan di kehidupan sehari-hari kita,” pungkasnya.

Pemerintah juga meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, tubuh lemas, sesak napas, atau gejala lain setelah terpapar lingkungan yang diduga terkontaminasi tikus. (*)


Poin Utama Berita

  • Dinkes Jatim mengonfirmasi satu kasus Hantavirus terdeteksi awal 2026.
  • Pasien sempat dirawat di RSUD dr Soetomo Surabaya.
  • Pasien kini dinyatakan sembuh dan tidak ada laporan kasus baru.
  • Awalnya pasien didiagnosis leptospirosis sebelum positif Hantavirus.
  • Hantavirus dan leptospirosis sama-sama ditularkan tikus.
  • Dinkes meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
  • Warga diimbau menjaga kebersihan rumah dan lingkungan.
  • Pemerintah belum mengungkap asal pasien karena data internal rumah sakit.
  • Hantavirus menjadi perhatian Kementerian Kesehatan RI.
  • Pencegahan utama dilakukan dengan pengendalian sarang tikus.