Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
EKONOMI & BISNISINVESTIGASI & SOROTNASIONALPERISTIWA

Rupiah Nyaris Rp 17.800 per Dollar AS, Menkeu Purbaya: “Ya Saya Stres”

42
×

Rupiah Nyaris Rp 17.800 per Dollar AS, Menkeu Purbaya: “Ya Saya Stres”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Nilai tukar rupiah terus tertekan hingga mendekati level Rp 17.800 per dollar AS. Pemerintah memastikan kondisi APBN masih aman, meski pelemahan rupiah mulai memicu kekhawatiran terhadap investasi, industri, dan ekonomi domestik.

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan serius hingga nyaris menyentuh level Rp 17.800 per dollar Amerika Serikat (AS) pada penutupan pasar spot Selasa (26/5/2026).

Kondisi tersebut memicu perhatian luas publik dan pelaku pasar karena pelemahan rupiah terjadi di tengah klaim pemerintah bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi baik.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa bahkan melontarkan candaan bernada serius saat ditanya soal tekanan kurs rupiah.

“Ya saya stres,” kelakar Purbaya kepada awak media di kawasan Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Rabu (27/5/2026).

Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah belum perlu melakukan penghitungan ulang terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut dia, asumsi pelemahan rupiah tersebut sudah masuk dalam simulasi pemerintah, termasuk skenario harga minyak dunia di level 100 dollar AS per barel.

“Jadi tidak ada masalah, saya tidak harus hitung ulang APBN-nya,” ujarnya.

Rupiah Melemah, Pemerintah Fokus Jaga Pasar Obligasi

Purbaya menjelaskan, meski rupiah melemah, kondisi pasar obligasi pemerintah masih relatif terkendali.

Hal itu terlihat dari penurunan imbal hasil surat utang (bond yield) yang dipengaruhi intervensi pemerintah melalui aksi pembelian obligasi.

“Selama bond market terkendali, kemampuan investor terutama asing dan domestik untuk melakukan investasi di bond kita akan terjaga,” terang Purbaya.

Ia juga mengungkapkan adanya aliran modal asing yang mulai masuk ke pasar obligasi Indonesia di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

Pemerintah, lanjut dia, akan terus menyiapkan langkah lanjutan guna memperkuat nilai tukar rupiah.

“Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu menaikkan nilai tukar rupiah dengan signifikan,” katanya.

Geopolitik Timur Tengah Picu Tekanan Rupiah

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (26/5/2026) ditutup melemah 53 poin atau 0,29 persen ke level Rp 17.796 per dollar AS.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Menurut Ibrahim, situasi global tersebut memperburuk sentimen pasar di tengah kondisi ekonomi domestik yang masih belum sepenuhnya stabil.

“Tekanan eksternal mulai berdampak terhadap ekonomi domestik Indonesia,” ujarnya.

Ia menilai pelemahan rupiah yang terus berlangsung berpotensi memunculkan krisis kepercayaan di pasar apabila tidak segera direspons secara efektif.

Selain itu, pelemahan kurs dollar AS terhadap rupiah dinilai berdampak langsung terhadap peningkatan biaya produksi industri dalam negeri, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor.

Kondisi ini juga memicu kekhawatiran meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) apabila tekanan ekonomi terus berlanjut.

Fundamental Ekonomi Jadi Sorotan

Pelemahan rupiah di tengah klaim fundamental ekonomi yang baik menjadi perhatian pelaku pasar dan ekonom nasional.

Secara umum, nilai tukar mata uang suatu negara biasanya mengalami tekanan ketika terjadi gangguan terhadap fundamental ekonomi, stabilitas politik, atau sentimen global.

Namun pemerintah memastikan kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang terkendali meski tekanan eksternal global meningkat.

Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi situasi geopolitik internasional, kebijakan suku bunga global, serta respons pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional. (*)


Poin Utama Berita

  • Rupiah nyaris menyentuh Rp 17.800 per dollar AS.
  • Menkeu Purbaya mengaku “stres” menghadapi tekanan kurs rupiah.
  • Pemerintah memastikan APBN masih aman dan terkendali.
  • Pasar obligasi disebut masih stabil meski rupiah melemah.
  • Pemerintah menyiapkan langkah baru untuk memperkuat rupiah.
  • Ketegangan AS-Iran disebut menjadi pemicu tekanan pasar global.
  • Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi dan risiko PHK.