NGANJUK | Sentrapos.co.id – Sebanyak 12 desa di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, masuk dalam daftar wilayah rawan krisis air bersih pada musim kemarau 2026.
Belasan desa tersebut tersebar di lima kecamatan dan dipetakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk sebagai daerah prioritas pengawasan kekeringan tahun ini.
Wilayah yang masuk kategori rawan kekeringan meliputi Desa Tempuran dan Desa Ngluyu di Kecamatan Ngluyu.
Kemudian Desa Sumberjo di Kecamatan Gondang, Desa Oro-Oro Ombo dan Desa Mojoduwur di Kecamatan Ngetos, serta Desa Genjeng dan Desa Macanan di Kecamatan Loceret.
Sementara di Kecamatan Pace, desa yang masuk zona rawan meliputi Desa Sanan, Desa Gondang, Desa Jatigreges, Desa Pace, dan Desa Joho.
Kepala Pelaksana BPBD Nganjuk, Sutomo, mengatakan penetapan wilayah rawan tersebut berdasarkan pengalaman musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya.
“Desa-desa tersebut memang memiliki riwayat terdampak kekeringan hampir setiap musim kemarau,” ujar Sutomo, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, penurunan debit sumber air serta mengeringnya sumur warga menjadi persoalan utama yang terus berulang setiap musim kemarau.
Kondisi Geografis Jadi Kendala
BPBD menyebut kondisi geografis di sejumlah wilayah menjadi salah satu faktor utama penyebab rawannya krisis air bersih.
Sebagian desa diketahui memiliki kedalaman air tanah lebih dari 100 meter sehingga warga kesulitan mendapatkan sumber air menggunakan sumur manual.
“Kondisi geografis membuat sebagian wilayah sulit menjangkau sumber air karena kedalaman air tanah cukup tinggi,” jelas Sutomo.
Saat ini, BPBD Nganjuk masih melakukan asesmen lanjutan untuk menentukan tingkat kerawanan masing-masing desa.
Hasil pemetaan tersebut nantinya akan menjadi dasar prioritas penanganan distribusi bantuan air bersih selama musim kemarau berlangsung.
“Asesmen dilakukan untuk menentukan mana desa kategori rawan dan mana yang sangat rawan agar langkah penanganannya tepat,” tambahnya.
BPBD Siapkan Tangki Air dan Personel Siaga
Sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi krisis air bersih, BPBD Nganjuk telah menyiapkan armada truk tangki untuk dropping air bersih ke wilayah terdampak.
Selain itu, tandon air berkapasitas besar juga telah disiapkan guna mendukung distribusi apabila masyarakat membutuhkan pasokan darurat.
“Bulan ini sudah mulai masuk musim kemarau. Kami memastikan personel siaga dan terus memantau kondisi lapangan,” tegas Sutomo.
BPBD juga mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih kering dibanding tahun sebelumnya.
Musim kemarau 2026 diperkirakan membawa suhu lebih panas dan risiko kekeringan lebih tinggi di sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten Nganjuk.
Karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat dinilai penting guna mencegah dampak krisis air bersih yang lebih luas. (*)
Poin Utama Berita
- Sebanyak 12 desa di Nganjuk masuk zona rawan krisis air bersih.
- Desa tersebar di lima kecamatan, termasuk Ngluyu dan Pace.
- BPBD memetakan wilayah rawan berdasarkan pengalaman kemarau sebelumnya.
- Debit sumber air dan sumur warga diperkirakan menurun drastis.
- Kedalaman air tanah menjadi kendala utama warga mendapatkan air.
- BPBD masih melakukan asesmen tingkat kerawanan desa.
- Truk tangki dan tandon air besar disiagakan untuk dropping air.
- Masyarakat diimbau mulai hemat air dan waspada musim kemarau.

















