WASHINGTON DC | Sentrapos.co.id — Sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Demokrat mendesak pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menghentikan kebijakan “diam” terkait dugaan kepemilikan senjata nuklir Israel.
Desakan itu dituangkan dalam surat resmi yang dikirim kepada Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pada 4 Mei 2026. Dalam surat tersebut, para legislator meminta transparansi penuh terkait kemampuan nuklir Israel di tengah meningkatnya ketegangan konflik Iran dan aliansi militer AS-Israel di Timur Tengah.
Langkah itu dinilai sebagai tekanan politik langka terhadap kebijakan luar negeri Washington yang selama puluhan tahun mempertahankan ambiguitas terhadap program nuklir Israel.
“Apakah Israel saat ini memiliki kemampuan pengayaan uranium dan pada tingkat berapa?” tulis para anggota Kongres dalam surat tersebut.
Mereka juga mempertanyakan apakah Israel telah menyampaikan doktrin nuklir, ambang batas penggunaan senjata nuklir, hingga jaminan tidak menggunakan senjata tersebut dalam konflik melawan Iran.
Tak hanya itu, para politisi Demokrat secara terbuka menyinggung keberadaan Pusat Penelitian Nuklir Negev di Dimona yang selama ini diyakini menjadi pusat pengembangan senjata nuklir Israel.
“Apakah pemerintah telah menerima jaminan dari Israel bahwa senjata nuklir tidak akan digunakan?” bunyi salah satu poin dalam surat tersebut.
Tekanan Politik terhadap Israel Meningkat
Surat tersebut menjadi sorotan internasional karena dianggap sebagai salah satu tekanan paling serius dari Kongres AS terhadap Israel terkait isu nuklir.
Selama puluhan tahun, Israel diketahui menerapkan kebijakan “nuclear ambiguity” atau ketidakjelasan nuklir, yakni tidak pernah secara resmi mengakui maupun membantah kepemilikan senjata nuklir.
Meski demikian, sejumlah dokumen intelijen Amerika Serikat, pengakuan mantan pejabat, hingga bocoran dari informan Israel selama beberapa dekade disebut menguatkan dugaan bahwa Israel memiliki persenjataan nuklir aktif sejak era 1960-an.
“Catatan publik secara kuat dan konsisten mendukung kesimpulan bahwa Israel memiliki senjata nuklir,” tulis anggota Kongres dalam surat mereka kepada Rubio.
Menurut laporan Nuclear Threat Initiative (NTI), Israel diperkirakan memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir, cadangan plutonium ratusan kilogram, enam kapal selam peluncur nuklir, serta rudal balistik jarak menengah dengan daya jangkau ribuan kilometer.
Bayang-Bayang Konflik Iran
Dorongan transparansi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan perang AS-Israel melawan Iran. Pemerintahan Trump sendiri menegaskan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir menjadi tujuan utama operasi militer mereka di kawasan.
Namun di sisi lain, sebagian anggota Kongres mulai mempertanyakan standar ganda Washington yang dinilai keras terhadap program nuklir Iran, tetapi tetap diam terhadap dugaan arsenal nuklir Israel.
Situasi tersebut semakin memicu perdebatan politik di Amerika Serikat, terutama setelah meningkatnya kritik terhadap dukungan Washington kepada Israel di tengah perang Gaza dan konflik regional Timur Tengah.
Pada April lalu, sebanyak 40 senator Demokrat bahkan mendukung rancangan undang-undang untuk memblokir penjualan buldoser militer ke Israel, meski akhirnya gagal disahkan.
Sejarah Panjang Dugaan Nuklir Israel
Sejumlah dokumen intelijen AS yang telah dideklasifikasi menunjukkan bahwa CIA sejak 1968 telah memberi tahu Presiden Lyndon B Johnson bahwa Israel kemungkinan sudah mampu mengembangkan senjata nuklir.
Presiden Richard Nixon kemudian dilaporkan membuat kesepakatan rahasia dengan Perdana Menteri Israel Golda Meir, yakni Israel tidak mengumumkan atau menguji senjata nuklir secara terbuka, sementara AS menghentikan tekanan internasional terhadap program tersebut.
Kasus ini juga pernah mencuat melalui bocoran teknisi nuklir Israel, Mordechai Vanunu, kepada media Inggris Sunday Times yang mengungkap aktivitas di fasilitas Dimona.
Kini, desakan terbaru dari Partai Demokrat dipandang dapat membuka babak baru dalam perdebatan global mengenai transparansi nuklir Israel dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah. (*)
Poin Utama Berita
- Anggota Kongres AS dari Partai Demokrat mendesak transparansi nuklir Israel.
- Surat resmi dikirim kepada Menlu AS Marco Rubio pada 4 Mei 2026.
- Politisi mempertanyakan jumlah hulu ledak dan doktrin nuklir Israel.
- Israel diduga memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir.
- Fokus perhatian tertuju pada fasilitas nuklir Dimona di Israel.
- Tekanan muncul di tengah perang AS-Israel melawan Iran.
- Kongres AS mulai mempertanyakan standar ganda Washington.
- Isu nuklir Israel kembali memicu sorotan global dan politik internasional.

















