Kebohongan FR Sempat Menggegerkan Warga dan Media Sosial, Polisi Ungkap Fakta Sebenarnya Setelah Keterangan Pelaku Tidak Sinkron
JEMBER | Sentrapos.co.id – Kasus dugaan pembegalan yang sempat menghebohkan warga Kabupaten Jember dan viral di media sosial akhirnya terungkap sebagai cerita fiktif.
Seorang kurir ekspedisi J&T berinisial FR (22), warga Desa Kemuning, Kecamatan Panti, Jember, mengaku menjadi korban begal demi menutupi penggunaan uang hasil transaksi Cash on Delivery (COD) milik perusahaan senilai Rp 8 juta.
Aksi rekayasa tersebut sempat membuat geger masyarakat setelah FR mengaku dirampok saat melintas di Jalan Padukuhan Curahkates pada Kamis (28/5/2026) sekitar pukul 19.30 WIB.
Pengakuan itu bahkan sempat dipercaya keluarga, rekan kerja, hingga warga sekitar yang kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada aparat kepolisian.
Namun setelah melakukan penyelidikan mendalam, polisi menemukan sejumlah kejanggalan dalam keterangan yang diberikan FR.
“Karena ada masyarakat berkerumun saat itu, karena FR mengaku dibegal. Akhirnya Polsek Panti turun. Setelah kami dalami, keterangannya tidak sinkron dengan fakta di lapangan,” kata Kanit Pidum Satreskrim Polres Jember, Ipda Andry Yunni Prasetiyo, Senin (1/6/2026).
Berdasarkan hasil pemeriksaan intensif, FR akhirnya mengakui bahwa dirinya tidak pernah menjadi korban pembegalan sebagaimana yang selama ini diceritakan.
Polisi mengungkap motif utama di balik kebohongan tersebut adalah tekanan ekonomi dan persoalan utang yang dialami pelaku.
FR diketahui menggunakan uang hasil transaksi COD yang seharusnya disetorkan kepada perusahaan untuk membayar utang pribadinya.
“Di bawah tekanan ekonomi, FR gelap mata saat memegang uang hasil transaksi COD yang seharusnya ia setorkan. Dia akhirnya memutar otak agar bisa menggunakan uang tersebut untuk menutup kebutuhan pribadinya tanpa ketahuan,” ujar Ipda Andry.
Pelaku kemudian menyusun skenario seolah-olah dirinya menjadi korban tindak kejahatan jalanan agar tidak dicurigai melakukan penggelapan dana perusahaan.
“Dia mengarang cerita dibegal agar tidak dituduh menggelapkan uang perusahaan,” tambahnya.
Polisi Ungkap Lokasi Sepi Sengaja Dipilih Agar Cerita Terlihat Meyakinkan
Dalam skenario yang dibuatnya, FR mengaku diserang oleh sekelompok pelaku saat melintas di jalan penghubung antara Desa Krajan dan Desa Kemuninglor, Kecamatan Panti.
Jalur tersebut dipilih karena dikenal relatif sepi pada malam hari sehingga dinilai dapat memperkuat cerita yang dibangunnya.
“Lokasi yang dipilih memang cukup sepi di beberapa titik, sehingga dianggap meyakinkan,” jelas Andry.
Namun hasil penyelidikan menunjukkan tidak ditemukan bukti maupun fakta yang mendukung adanya aksi pembegalan sebagaimana yang dilaporkan.
Polisi kemudian menemukan bahwa uang yang diklaim dirampas pelaku begal ternyata telah digunakan untuk melunasi utang pribadi FR.
“Dia mengarang cerita fiktif tersebut karena uang yang dimaksud habis digunakan untuk membayar hutangnya,” ungkap Andry.
Saat ini FR telah diamankan di Mapolres Jember untuk menjalani proses hukum lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.
Pihak kepolisian juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuat laporan palsu atau menyebarkan informasi yang tidak sesuai fakta karena dapat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Kami tidak akan menoleransi tindak pidana, termasuk penyebaran informasi palsu yang meresahkan warga,” tegas Andry.
Kasus ini menjadi pelajaran penting bahwa tekanan ekonomi tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan tindakan melawan hukum, terlebih dengan merekayasa peristiwa yang berpotensi menimbulkan kepanikan dan persepsi negatif terhadap situasi keamanan suatu wilayah. (*)
Poin Utama Berita
- Kurir J&T di Jember mengaku menjadi korban begal, namun ternyata cerita tersebut rekayasa.
- Pelaku berinisial FR (22), warga Kecamatan Panti, Kabupaten Jember.
- Uang hasil transaksi COD sebesar Rp 8 juta digunakan untuk membayar utang pribadi.
- Cerita pembegalan sempat viral dan dipercaya keluarga serta rekan kerja.
- Polisi menemukan keterangan pelaku tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
- Lokasi jalan sepi sengaja dipilih untuk memperkuat skenario pembegalan.
- Hasil penyelidikan membuktikan tidak ada aksi begal sebagaimana yang dilaporkan.
- Pelaku kini diamankan dan menjalani proses hukum di Polres Jember.
- Polisi mengingatkan masyarakat agar tidak membuat laporan palsu yang meresahkan publik.
- Kasus ini menjadi perhatian karena sempat memicu keresahan di media sosial.

















