TEL AVIV | Sentrapos.co.id – Israel dilaporkan semakin khawatir Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan mencapai kesepakatan damai dengan Iran tanpa menyelesaikan sejumlah isu strategis yang sejak awal menjadi target utama perang.
Kekhawatiran itu muncul di tengah negosiasi intensif antara Washington dan Teheran yang saat ini lebih berfokus pada program uranium Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sejumlah pejabat Israel menilai kesepakatan parsial berpotensi menjadi ancaman besar apabila tidak mencakup penghancuran total program rudal balistik Iran serta penghentian dukungan Teheran terhadap kelompok proksi regional seperti Hizbullah dan Hamas.
“Kekhawatiran utama Israel adalah Trump akan bosan dengan negosiasi lalu membuat kesepakatan apa pun dengan konsesi di menit-menit terakhir,” ungkap sumber pemerintah Israel kepada CNN, Rabu (13/5/2026).
Israel Takut Iran Kembali Kuat
Menurut sumber tersebut, pejabat AS memang telah meyakinkan Israel bahwa stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran akan masuk dalam pembahasan utama.
Namun, absennya isu rudal balistik dan jaringan milisi proksi Iran dalam rancangan diplomatik awal membuat Tel Aviv cemas perang akan berakhir tanpa menghancurkan ancaman strategis utama Iran.
Israel juga khawatir pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran akan memberi ruang bagi Teheran untuk kembali memperkuat kekuatan militer dan pengaruh regionalnya.
“Ada kekhawatiran nyata bahwa Trump akan mencapai kesepakatan yang buruk. Israel berusaha memengaruhinya sebisa mungkin,” kata seorang pejabat Israel.
Lembaga keamanan Israel disebut sangat menentang skenario kesepakatan sementara yang hanya memperpanjang gencatan senjata, membuka kembali Selat Hormuz, dan mengurangi tekanan ekonomi terhadap Iran tanpa menyentuh akar masalah program nuklir serta rudal.
Kesenjangan Trump dan Netanyahu Mulai Terlihat
Perbedaan pandangan antara Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini semakin terlihat jelas.
Trump disebut mulai condong pada solusi diplomatik demi mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak Februari 2026 dan memicu lonjakan harga energi global, terutama di Amerika Serikat.
Sebaliknya, Netanyahu masih khawatir perang berakhir sebelum seluruh target strategis Israel tercapai.
Pada awal konflik, Trump secara terbuka menyatakan tujuan perang mencakup penghancuran program rudal balistik Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, hingga penutupan fasilitas nuklir Teheran.
Namun kini, fokus negosiasi mulai menyempit hanya pada uranium yang diperkaya dan akses pelayaran di Selat Hormuz.
Perubahan itu juga tercermin dari pernyataan Netanyahu sendiri.
Dalam pidatonya pada Februari lalu di Yerusalem, Netanyahu menyebut lima syarat utama kesepakatan damai, yakni:
- Penghapusan seluruh uranium yang diperkaya,
- Pembongkaran fasilitas pengayaan,
- Pengendalian rudal balistik,
- Penghentian dukungan terhadap proksi regional,
- Serta inspeksi nuklir ketat.
Namun dalam pernyataan terbarunya pekan lalu, Netanyahu hanya menyoroti satu poin utama.
“Tujuan terpenting adalah penghapusan seluruh material uranium yang diperkaya dan pembongkaran kemampuan pengayaan Iran,” tegas Netanyahu dalam rapat Kabinet Keamanan Israel.
Pernyataan itu dinilai menunjukkan Israel mulai realistis bahwa isu rudal balistik dan jaringan proksi kemungkinan besar tidak masuk dalam kesepakatan akhir AS-Iran.
Iran Tembakkan Ribuan Rudal
Perang Iran-Israel yang dimulai Februari 2026 telah menimbulkan eskalasi besar di Timur Tengah.
Iran dilaporkan meluncurkan lebih dari 1.000 rudal balistik serta serangan drone ke wilayah Israel dan negara-negara Teluk selama konflik berlangsung.
Meski begitu, Gedung Putih menegaskan posisi Iran saat ini jauh lebih lemah dibanding sebelum perang.
Juru Bicara Gedung Putih Olivia Wales menyatakan fasilitas produksi rudal Iran telah dihancurkan, kekuatan laut mereka lumpuh, dan jaringan proksi regional mengalami pelemahan besar.
“Iran saat ini dicekik secara ekonomi dan kehilangan sekitar 500 juta dolar AS per hari akibat blokade pelabuhan oleh militer AS,” ujar Olivia Wales.
Negosiasi AS-Iran Masih Alot
Meski negosiasi terus berjalan, kesepakatan final antara AS dan Iran disebut masih jauh dari kata selesai.
Iran tetap bersikeras bahwa tahap awal perundingan hanya mencakup pencabutan sanksi ekonomi dan pembukaan Selat Hormuz, sementara isu nuklir akan dibahas pada tahap berikutnya.
Di sisi lain, Israel terus mempersiapkan kemungkinan perang berkepanjangan apabila diplomasi gagal mencapai hasil sesuai kepentingan keamanan mereka.
Situasi ini membuat Timur Tengah kembali berada dalam ketegangan tinggi dengan risiko konflik besar yang sewaktu-waktu dapat kembali meledak. (*)
Poin Utama Berita
- Israel khawatir Donald Trump membuat kesepakatan damai parsial dengan Iran.
- Tel Aviv takut program rudal dan proksi Iran tidak disentuh dalam negosiasi.
- Netanyahu dinilai mulai melunak dan memprioritaskan isu uranium Iran.
- Perbedaan pandangan Trump dan Netanyahu semakin terlihat jelas.
- Iran telah menembakkan lebih dari 1.000 rudal balistik selama perang.
- AS mengklaim kekuatan militer dan ekonomi Iran mulai lumpuh.
- Negosiasi AS-Iran masih alot terutama soal nuklir dan Selat Hormuz.
- Israel tetap bersiap menghadapi kemungkinan perang berlanjut.

















