TEL AVIV | Sentrapos.co.id — Sejumlah pejabat Israel dilaporkan mulai menyuarakan kekesalan terhadap Amerika Serikat setelah Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv digunakan sebagai pusat aktivitas militer selama perang melawan Iran.
Kepala Penerbangan Sipil Israel, Shmuel Zakay, disebut telah melaporkan situasi tersebut kepada Menteri Transportasi Israel Miri Regev dan Direktur Jenderal kementerian Moshe Ben Zaken.
Zakay memperingatkan bahwa keberadaan belasan pesawat militer Amerika Serikat di bandara sipil utama Israel telah memicu gangguan besar terhadap penerbangan komersial dan sektor pariwisata nasional.
“Bandara Internasional Ben Gurion telah berubah menjadi pangkalan militer dengan aktivitas sipil yang sangat terbatas.”
Laporan media Israel Yedioth Ahronoth yang dikutip Middle East Monitor (MEMO) menyebut jet pengisian bahan bakar udara milik AS dan sejumlah pesawat militer lainnya parkir di Ben Gurion selama konflik Iran berlangsung.
Harga Tiket Melonjak dan Jadwal Penerbangan Kacau
Menurut Zakay, aktivitas militer tersebut menyebabkan keterlambatan penerbangan internasional serta memicu lonjakan harga tiket pesawat menjelang musim puncak wisata.
Situasi ini disebut semakin memperburuk kondisi industri penerbangan Israel yang sudah terpukul akibat perang regional sejak 28 Februari 2026.
Banyak maskapai Israel bahkan memindahkan armada mereka ke luar negeri demi alasan keamanan, sementara sebagian lainnya belum kembali beroperasi penuh.
“Mengubah bandara sipil menjadi basis militer membahayakan penerbangan internasional dan mengancam stabilitas finansial maskapai Israel.”
Zakay juga menilai militer Israel belum sepenuhnya memahami dampak serius yang ditimbulkan terhadap penerbangan sipil nasional.
Maskapai Israel Terancam Krisis
Dalam laporannya, Zakay memperingatkan bahwa maskapai-maskapai kecil Israel menghadapi ancaman serius akibat meningkatnya biaya operasional dan gangguan penerbangan.
Maskapai seperti Israir, Arkia, dan Air Haifa disebut berada dalam tekanan besar karena lonjakan harga bahan bakar serta tingginya permintaan penerbangan di tengah kapasitas yang terbatas.
Selain berdampak pada sektor bisnis, kondisi tersebut juga mulai membebani masyarakat Israel yang harus membayar tiket lebih mahal untuk bepergian.
“Situasi ini tidak hanya merugikan maskapai penerbangan, tetapi juga seluruh warga negara Israel.”
Zakay pun mendesak pemerintah dan militer Israel agar segera memindahkan pesawat-pesawat milik Amerika Serikat dari Bandara Ben Gurion ke pangkalan udara militer khusus.
Perang Iran-UAS-Israel Kian Mengganggu Sipil
Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kini disebut mulai memberikan dampak luas terhadap sektor sipil di kawasan Timur Tengah.
Selain mengganggu penerbangan internasional, konflik tersebut juga memukul sektor pariwisata, logistik, hingga ekonomi domestik Israel.
Bandara Ben Gurion sendiri merupakan pintu gerbang utama penerbangan internasional Israel dan salah satu pusat transportasi udara tersibuk di kawasan Timur Tengah.
Pengamat menilai penggunaan fasilitas sipil untuk operasi militer berpotensi meningkatkan risiko keamanan penerbangan serta memperbesar tekanan ekonomi nasional.
“Konflik geopolitik kini mulai berdampak langsung terhadap kehidupan sipil dan ekonomi Israel.”
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Pentagon maupun pemerintah Amerika Serikat terkait kritik pejabat Israel tersebut.
(*)
Poin Utama Berita
- Pejabat Israel kesal karena Bandara Ben Gurion dijadikan basis militer AS.
- Belasan pesawat militer Amerika parkir di bandara sipil utama Israel.
- Aktivitas militer menyebabkan keterlambatan penerbangan dan lonjakan harga tiket.
- Industri penerbangan Israel terdampak perang Iran-AS-Israel.
- Maskapai kecil Israel menghadapi ancaman finansial serius.
- Banyak maskapai memindahkan armada ke luar negeri demi keamanan.
- Israel meminta pesawat militer AS dipindahkan ke pangkalan udara militer.
- Konflik Timur Tengah kini mulai berdampak langsung pada warga sipil dan ekonomi.

















