Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

Israel Blak-blakan Ingin Negosiasi AS-Iran Gagal, Siap Kepung Selat Hormuz dan Serang Fasilitas Nuklir

36
×

Israel Blak-blakan Ingin Negosiasi AS-Iran Gagal, Siap Kepung Selat Hormuz dan Serang Fasilitas Nuklir

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TEL AVIV | Sentrapos.co.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah seorang pejabat senior Israel secara terbuka menyatakan negaranya lebih memilih negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir gagal.

Pernyataan kontroversial tersebut disampaikan di tengah kebuntuan pembicaraan diplomatik terkait program nuklir Iran yang hingga kini belum menemukan titik temu.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Pejabat Israel itu bahkan menyebut Tel Aviv siap menghadapi eskalasi baru, termasuk kemungkinan pengepungan Selat Hormuz apabila konflik kembali memanas.

“Kami akan senang jika tidak ada kesepakatan. Kami juga akan senang jika pengepungan di Hormuz berlanjut,” kata pejabat senior Israel kepada CNN, Rabu (13/5/2026).

Israel Siap Hadapi Eskalasi Baru

Pejabat tersebut menilai skenario eskalasi sangat mungkin terjadi apabila Iran terus mengulur-ulur negosiasi dengan Amerika Serikat.

Meski mengakui keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden AS Donald Trump, Israel disebut terus bersiap menghadapi kemungkinan kegagalan diplomasi.

Sumber lain yang mengetahui pembahasan internal menyebut AS dan Israel saat ini masih aktif berkoordinasi mengenai opsi militer terhadap Iran.

Beberapa skenario yang dibahas antara lain:

  • Serangan ke fasilitas energi Iran,
  • Penghancuran infrastruktur strategis,
  • Hingga operasi pembunuhan terarah terhadap pimpinan Iran apabila negosiasi benar-benar runtuh.

“Pilihan yang ada hanya negosiasi atau ledakan,” tulis Ketua Komite Luar Negeri dan Pertahanan Parlemen Israel, Boaz Bismuth.

Israel Tak Mau Kesepakatan “Lunak” Terulang

Israel juga dikabarkan sangat khawatir negosiasi terbaru AS-Iran mengarah pada pola serupa perjanjian nuklir JCPOA tahun 2015 yang pernah dibuat era Presiden Barack Obama.

Kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) saat itu memberikan pelonggaran sanksi kepada Iran sebagai imbalan pembatasan program nuklirnya.

Namun, Israel sejak awal menilai perjanjian tersebut terlalu lunak dan justru memberi ruang Iran kembali memperkuat kemampuan nuklir di masa depan.

Kini, dalam negosiasi terbaru, Israel dikabarkan mendesak dua syarat utama:

  • Larangan total pengayaan uranium Iran selama masa perjanjian,
  • Pembongkaran fasilitas nuklir bawah tanah Fordow dan situs Gunung Pickaxe.

Kedua lokasi tersebut diyakini menjadi pusat pengembangan kemampuan nuklir strategis Iran.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas Dunia

Kekhawatiran internasional juga meningkat karena Selat Hormuz kembali menjadi titik rawan konflik.

Selat strategis tersebut merupakan jalur utama distribusi minyak dunia yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan pasar global.

Jika pengepungan atau konflik militer di Hormuz terus berlanjut, dampaknya diperkirakan akan memukul ekonomi global, termasuk memicu lonjakan harga minyak dan energi dunia.

Pengamat geopolitik menilai sikap keras Israel menunjukkan Tel Aviv tidak ingin perang berakhir sebelum target penghancuran total kemampuan nuklir Iran tercapai.

“Jika perang berakhir tanpa penghancuran uranium Iran yang diperkaya, maka perang itu dianggap gagal,” ujar seorang pejabat militer senior Israel.

Trump Dihadapkan Pilihan Sulit

Di sisi lain, pemerintahan Donald Trump masih terlihat berupaya mempertahankan jalur diplomasi guna menghindari konflik besar berkepanjangan di Timur Tengah.

Namun tekanan dari Israel membuat posisi Gedung Putih semakin sulit, terutama di tengah kekhawatiran global terhadap potensi perang besar yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi internasional.

Hingga kini, negosiasi antara AS dan Iran disebut masih berlangsung alot, terutama terkait masa depan program nuklir Teheran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. (*)


Poin Utama Berita

  • Israel terang-terangan ingin negosiasi AS-Iran gagal.
  • Tel Aviv siap menghadapi eskalasi baru dan pengepungan Selat Hormuz.
  • AS dan Israel disebut membahas opsi serangan militer terhadap Iran.
  • Israel khawatir kesepakatan baru mirip JCPOA 2015 era Obama.
  • Tel Aviv menuntut larangan total pengayaan uranium Iran.
  • Fasilitas nuklir bawah tanah Fordow dan Gunung Pickaxe jadi sorotan.
  • Selat Hormuz kembali menjadi titik rawan konflik global.
  • Trump menghadapi tekanan besar antara diplomasi dan ancaman perang.