JAKARTA | Sentrapos.co.id — Presiden RI Prabowo Subianto mengirimkan pesan optimisme kepada masyarakat di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Prabowo menegaskan kondisi keuangan negara masih sangat kuat dan masyarakat diminta tidak panik menghadapi gejolak ekonomi global.
“Pak Presiden menyampaikan pesan bahwa uang pemerintah cukup, duitnya banyak, jadi masyarakat tidak usah takut,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Istana Negara, Selasa (5/5/2026) malam.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah melemahnya rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.424 per dolar AS.
Pemerintah Siapkan Panda Bond di China
Untuk memperkuat stabilitas rupiah, pemerintah juga menyiapkan langkah strategis melalui penerbitan Panda Bond di pasar keuangan China.
Kebijakan tersebut dinilai penting guna mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS.
“Kami akan menerbitkan bond dalam bentuk Panda Bond di China dengan bunga yang lebih rendah, sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi,” jelas Purbaya.
Panda Bond sendiri merupakan surat utang yang diterbitkan di pasar keuangan China menggunakan mata uang yuan.
Langkah diversifikasi pembiayaan itu diyakini mampu memperkuat struktur keuangan nasional sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ekonomi Indonesia Disebut Sedang Akselerasi
Purbaya juga menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya berada dalam fase akselerasi pertumbuhan.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen.
Namun menurutnya, banyak masyarakat dan pelaku pasar yang belum menyadari kuatnya fundamental ekonomi Indonesia.
“Ekonomi kita sedang mengalami akselerasi, itu yang tidak disadari banyak orang, sehingga orang agak takut dan keluar dari pasar modal,” katanya.
Pemerintah optimistis prospek ekonomi Indonesia ke depan tetap positif meski pasar global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan tekanan eksternal.
Bank Indonesia Sebut Rupiah Undervalued
Senada dengan pemerintah, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga menyebut nilai tukar rupiah saat ini berada dalam posisi undervalued atau lebih rendah dari nilai fundamental sebenarnya.
Meski demikian, Perry memastikan rupiah berpotensi kembali stabil dan menguat dalam waktu mendatang.
“Nilai tukar sekarang itu undervalued. Ke depan kita yakini akan stabil dan menguat,” tegas Perry.
Pernyataan itu disampaikan usai dirinya menghadiri rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara.
Fundamental Ekonomi Dinilai Sangat Kuat
Perry menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih sangat solid.
Beberapa indikator utama yang disebut mendukung penguatan rupiah antara lain:
- Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen
- Inflasi nasional tetap rendah
- Kredit perbankan tumbuh tinggi
- Cadangan devisa Indonesia dalam kondisi kuat
“Ini menunjukkan mestinya rupiah akan stabil dan cenderung menguat,” ujar Perry.
Pemerintah dan Bank Indonesia kini terus berkoordinasi menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global, termasuk tensi geopolitik internasional dan fluktuasi pasar keuangan dunia.
Investor Diminta Tidak Panik
Pernyataan optimistis dari pemerintah dan BI juga menjadi sinyal kuat bagi investor agar tidak terburu-buru keluar dari pasar modal Indonesia.
Sebelumnya, sejumlah investor disebut mulai melakukan aksi jual akibat kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah dan kondisi ekonomi global.
Namun pemerintah menegaskan kondisi ekonomi nasional tetap berada di jalur yang aman dan terkendali.
Dengan strategi diversifikasi pembiayaan, penguatan cadangan devisa, dan koordinasi fiskal-moneter, pemerintah yakin rupiah akan kembali menguat secara bertahap. (*)
Poin Utama Berita
- Presiden Prabowo meminta masyarakat tidak takut terhadap kondisi ekonomi dan pelemahan rupiah.
- Menkeu Purbaya menyebut keuangan negara masih kuat dan dana pemerintah mencukupi.
- Pemerintah akan menerbitkan Panda Bond di China untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 tercatat 5,61 persen.
- Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut rupiah saat ini undervalued.
- BI optimistis nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan menguat.
- Fundamental ekonomi Indonesia disebut tetap sangat kuat.
- Pemerintah meminta investor tidak panik dan tetap percaya pada prospek ekonomi nasional.

















