NEW YORK | Sentrapos.co.id – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dalam forum resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Senin (27/4/2026), saat berlangsung rapat Konferensi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) di Markas Besar PBB, New York.
Perselisihan tajam terjadi setelah Iran terpilih sebagai salah satu dari puluhan wakil presiden dalam Konferensi ke-11 peninjauan implementasi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (Non-Proliferation Treaty/NPT).
Delegasi Amerika Serikat menilai keterpilihan Iran sebagai bentuk penghinaan terhadap komitmen global dalam pengawasan senjata nuklir.
AS Sebut Iran Cederai Kredibilitas Konferensi
Asisten Sekretaris untuk Biro Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi AS, Christopher Yaaw, secara terbuka mengkritik keras terpilihnya Iran dalam forum tersebut.
Menurutnya, Iran selama ini dinilai tidak menunjukkan komitmen serius terhadap prinsip non-proliferasi dan justru menolak bekerja sama dengan pengawas nuklir internasional.
“Tidak dapat disangkal bahwa Iran telah lama menunjukkan penghinaannya terhadap komitmen non-proliferasi NPT,” kata Christopher Yaaw.
Ia menambahkan bahwa pemilihan Iran sebagai wakil presiden konferensi merupakan sesuatu yang “sangat memalukan” dan dinilai mencoreng kredibilitas forum internasional tersebut.
Amerika Serikat juga menuding Iran tidak kooperatif dalam menjawab berbagai pertanyaan terkait pengembangan program nuklirnya.
Iran Balas: AS Tak Layak Jadi Penengah
Menanggapi kritik keras tersebut, Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Reza Najafi, langsung membalas tudingan Amerika Serikat.
Ia menilai pernyataan Washington tidak berdasar dan sarat motif politik, bahkan mempertanyakan legitimasi moral AS dalam isu perlucutan senjata nuklir.
“Tidak dapat dibenarkan bahwa AS, sebagai satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir, berupaya memposisikan diri sebagai penengah,” tegas Reza Najafi.
Iran menegaskan bahwa program nuklir yang dijalankannya murni untuk kepentingan sipil, bukan untuk pengembangan senjata nuklir.
Iran Dipilih oleh Kelompok Negara Non-Blok
Duta Besar Vietnam untuk PBB, Do Hung Viet, yang juga terpilih sebagai ketua konferensi, menjelaskan bahwa Iran dipilih oleh kelompok negara-negara non-blok dan sejumlah negara lainnya.
Konferensi NPT kali ini menunjuk total 34 wakil presiden dari berbagai kelompok regional dan politik.
Namun, keputusan tersebut langsung memicu penolakan dari Amerika Serikat dan memperlihatkan semakin tajamnya polarisasi geopolitik terkait isu nuklir Iran.
Program Nuklir Jadi Inti Konflik Iran-AS-Israel
Isu nuklir selama ini menjadi pusat ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, termasuk dalam konflik geopolitik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Iran sejak lama menegaskan bahwa pengayaan uraniumnya hanya digunakan untuk kebutuhan sipil seperti energi dan riset medis.
Namun, intelijen AS meyakini Iran memiliki program rahasia pengembangan senjata nuklir sejak tahun 2003.
Ketegangan ini juga berkaitan dengan dinamika perang dua bulan terakhir antara Iran, AS, dan Israel yang menjadikan isu nuklir sebagai titik paling sensitif.
Proposal Gencatan Senjata dan Selat Hormuz
Awal pekan ini, Iran dilaporkan mengirimkan proposal gencatan senjata terbaru kepada Amerika Serikat melalui Pakistan sebagai mediator.
Dalam proposal tersebut, Iran menuntut pembukaan Selat Hormuz sebagai salah satu syarat utama, namun menunda pembahasan lebih lanjut mengenai program nuklir.
Langkah ini dinilai menjadi sinyal diplomatik penting di tengah ketegangan yang terus meningkat antara kedua negara.
Forum PBB pun kini menjadi panggung baru pertarungan diplomasi antara Washington dan Teheran yang belum menunjukkan tanda mereda. (*)
Poin Utama Berita
- Delegasi AS dan Iran berselisih tajam dalam rapat PBB soal program nuklir Iran
- Iran terpilih sebagai salah satu wakil presiden Konferensi NPT di Markas PBB New York
- AS menyebut keterpilihan Iran sebagai penghinaan terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir
- Christopher Yaaw menilai Iran mencoreng kredibilitas konferensi internasional
- Iran membalas dengan menyebut AS tidak layak menjadi penengah isu nuklir
- Reza Najafi menilai kritik AS bermotif politik dan tidak berdasar
- Iran dipilih oleh kelompok negara non-blok dan negara lainnya
- Proposal gencatan senjata Iran ke AS juga menuntut pembukaan Selat Hormuz

















