HORMUZ | Sentrapos.co.id – Sebuah supertanker milik China dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz di tengah meningkatnya operasi militer Amerika Serikat dan memanasnya konflik kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data pelacakan kapal yang dikutip Reuters, kapal jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) bernama Yuan Hua Hu berhasil keluar dari Teluk Persia pada Rabu (13/5/2026) setelah sempat tertahan lebih dari dua bulan akibat eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran.
Kapal raksasa tersebut diketahui membawa sekitar dua juta barel minyak mentah Irak yang dimuat dari terminal Basra sejak awal Maret lalu.
Jalur Paling Panas di Dunia
Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melintas melalui jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Arab tersebut.
Ketegangan di kawasan meningkat tajam setelah Amerika Serikat memperketat operasi laut terhadap Iran, termasuk pengawasan ketat terhadap kapal tanker yang melintas.
“Selat Hormuz kini menjadi titik paling sensitif dalam geopolitik energi dunia,” tulis laporan Reuters.
Dalam pelayarannya, Yuan Hua Hu sempat berlabuh di Teluk Oman sebelum melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Zhoushan di China timur dengan estimasi tiba pada 1 Juni 2026.
Sempat Melintas Dekat Wilayah Iran
Data pelacakan kapal menunjukkan Yuan Hua Hu sempat melintas di dekat Pulau Larak, Iran, kawasan yang saat ini berada dalam pengawasan ketat Angkatan Laut Amerika Serikat.
Di waktu yang sama, beberapa kapal tanker lain dilaporkan memilih berhenti di perairan Oman guna menghindari risiko inspeksi hingga penyitaan.
Situasi tersebut memunculkan persepsi adanya “blokade tidak resmi” oleh militer AS di kawasan Selat Hormuz.
China Tetap Aktif Gunakan Jalur Hormuz
Kapal Yuan Hua Hu diketahui dioperasikan oleh unit COSCO Shipping Energy Transportation dan disewa oleh Unipec, anak usaha perdagangan minyak milik Sinopec.
Reuters juga melaporkan setidaknya dua kapal tanker VLCC berbendera China lainnya berhasil melintasi Selat Hormuz pada April lalu.
Fakta ini menunjukkan China masih mempertahankan jalur energi utama mereka meski kawasan tersebut berada dalam tekanan geopolitik tinggi.
“China tidak bisa lepas dari ketergantungan energi Timur Tengah,” ujar analis energi internasional dalam laporan tersebut.
Pertemuan Trump dan Xi Jinping Jadi Sorotan
Pergerakan kapal China ini terjadi bersamaan dengan agenda pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Pertemuan kedua pemimpin negara adidaya itu disebut membahas isu perdagangan global, konflik Iran, keamanan energi, hingga stabilitas jalur pelayaran internasional.
Kehadiran sejumlah petinggi perusahaan besar AS seperti Elon Musk dan Jensen Huang dalam lawatan Trump ke China turut memperkuat perhatian dunia terhadap arah hubungan Washington-Beijing.
Ancaman terhadap Pasokan Minyak Global
Ketegangan di Selat Hormuz dikhawatirkan berdampak langsung terhadap harga energi dunia apabila konflik terus meningkat.
Iran disebut semakin memperkuat kontrol kawasan, sementara AS terus meningkatkan patroli militer demi mengamankan kepentingan strategisnya.
Analis memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak global dan memperburuk stabilitas ekonomi internasional.
Dunia Pantau Pergerakan China di Timur Tengah
Keberhasilan supertanker China menembus Selat Hormuz dinilai menjadi simbol penting bahwa Beijing masih memiliki jalur akses energi di tengah tekanan geopolitik global.
Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan bagaimana konflik Timur Tengah kini semakin berkaitan erat dengan rivalitas Amerika Serikat dan China dalam perebutan pengaruh global. (*)
Poin Utama Berita
- Supertanker China Yuan Hua Hu berhasil melintasi Selat Hormuz.
- Kapal membawa dua juta barel minyak mentah Irak.
- Selat Hormuz berada dalam pengawasan ketat militer AS.
- Kapal sempat tertahan lebih dari dua bulan akibat konflik AS-Iran.
- China tetap aktif menggunakan jalur energi strategis tersebut.
- Ketegangan Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia.
- Peristiwa terjadi bersamaan dengan pertemuan Trump dan Xi Jinping.
- Rivalitas AS-China makin terasa dalam isu keamanan energi global.

















